Senin, 22 September 2008

Proposal Hibah Pengajaran

A. Judul

PENGEMBANGAN MEDIA VIDEO PEMBELAJARAN PADA MATA KULIAH PENDIDIKAN SENI TARI DAN DRAMA DI JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

B. Bidang Ilmu
Pendidikan Seni dan Sastra

C. Bidang Kajian
Pengembangan dan Peningkatan Kualitas Pembelajaran di LPTK (PPKP)

D. Latar Belakang
Berdasarkan pengamatan peneliti terhadap proses belajar mengajar di Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar FIP Unesa, ternyata jumlah dosen yang menggunakan media pembelajaran berbasis multimedia masih sangat sedikit, dengan kata lain, kebanyakan media pembelajaran yang digunakan masih bersifat konvensional karena hanya menggunakan buku teks (media cetak).
Mata kuliah Seni Tari dan Drama merupakan salah satu mata kuliah yang sudah lama diajarkan dalam kurikulum Jurusan PGSD. Mata kuliah Seni Tari dan Drama diberikan pada semester genap dengan nilai kredit dua SKS. Mata kuliah Seni Tari dan Drama termasuk jenis mata kuliah yang cukup sulit untuk dipelajari, karena memerlukan keterampilan yang melibatkan berbagai unsur seni. Unsur-unsur tersebut diantaranya: seni gerak, seni peran, seni rupa, seni suara, dan seni musik. Untuk dapat melaksanakan berbagai kegiatan perkulihan tersebut sudah barang tentu diperlukan berbagai pendukung untuk dapat mencapai hasil sebagaimana yang diinginkan. Pendukung utama pada pembelajaran seni Tari dan Drama selain dibutuhkan kemampuan/keterampilan yang memadai dari dosen juga adanya media pendukung yang representatif. Permasalahan yang perlu segera dicari solusinya adalah bagaimana upaya yang tepat agar pembelajaran pada mata kuliah Seni Tari dan Drama tersebut dapat dilaksanakan dengan baik.
Pendidikan Seni Tari dan Drama mengarahkan pada mahasiswa agar memiliki kemampuan praktis, dan dapat dengan mudah menguasai berbagai kompetensi. Bagaimana hal tersebut dapat terlaksana? Melalui penelitian pengembangan media video pembelajaran ini diharapkan mampu menjawab kendala kesulitan belajar mahasiswa, sehingga belajar akan lebih termotivasi, dan muaranya mahasiswa dapat menguasai materi yang diberikan oleh dosen dengan baik. Sebagai mata kuliah yang membutuhkan keterampilan yang kompleks, tentunya masih memerlukan banyak sumber-sumber belajar pendukung guna membantu keberhasilan mahasiswa dalam belajar.

E. Rumusan Masalah
Dari uraian di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan yang akan dipecahkan pada penelitian ini, yaitu :
1. Bagaimana pengembangan media video pembelajaran untuk mata kuliah Pendidikan Seni Tari dan Drama?
2. Bagaimana media video pembelajaran dapat diterapkan dalam mata kuliah Pendidikan Seni Tari dan Drama?
3. Bagaimanakah media video pembelajaran yang dikembangkan pada mata kuliah Pendidikan Seni Tari dan Drama dapat memberikan kontribusi terhadap kompetensi mahasiswa?

F. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merancang dan mengembangkan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif mata kuliah Pendidikan Seni Tari dan Drama di urusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar FIP Unesa. Secara rinci tujuan yang akan dicapai sebagai berikut :
1. Merancang dan mengembangkan media video pembelajaran untuk mata kuliah Pendidikan Seni Tari dan Drama.
2. Menerapkan pemanfaatan media video pembelajaran dalam mata kuliah Pendidikan Seni Tari dan Drama?
3. Mengukur kontribusi media video pembelajaran yang dikembangkan pada mata kuliah Pendidikan Seni Tari dan Drama terhadap kompetensi mahasiswa?

G. Manfaat Hasil Penelitian
Hasil dari penelitian tindakan kelas ini akan memberikan manfaat/kontribusi yang besar bagi individu/institusi di bawah ini:
a. Bagi Mahasiswa, hasil penelitian ini akan sangat membantu mahasiswa dalam mempelajari seni tari dan drama, sehingga dapat meningkatkan kemampuan memahami materi-materi perkuliahan.
b. Bagi Dosen, dosen memperoleh alternatif pemanfaatan media video yang lebih interaktif dibandingkan dengan pemanfaatan media-media konvensional.
c. Bagi UNESA, hasil penelitian ini akan bermanfaat bagi sumber dan data guna meningkatkan pembelajaran di LPTK, khususnya bidang studi Seni Tari dan Drama di S-1 PGSD.

H. Kajian Pustaka
a. Media Pembelajaran
Untuk mendapatkan hasil yang optimal dalam proses belajar mengajar di kelas perlu diperhatikan dua komponen utama yaitu metode mengajar dan media pembelajaran. Kedua komponen ini saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan.
Penggunaan dan pemilihan salah satu metode mengajar tertentu mempunyai konsekuensi pada penggunaan jenis media pembelajaran yang sesuai. Fungsi media dalam proses belajar mengajar yaitu untuk meningkatkan rangsangan peserta didik dalam kegiatan belajar. Ali, M (2005) dalam Seminar Hasil penelitiannya menyatakan bahwa penggunaan media pembelajaran berbantuan komputer mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap daya tarik siswa untuk mempelajari kompetensi yang diajarkan. Dengan demikian, adanya interaksi antara pebelajar dengan media merupakan wujud nyata dari tindak belajar. Sementara, bentuk belajar mengajar merupakan salah satu komponen dalam strategi penyampaian, apakah pebelajar di kelompokkan ke dalam kelompok besar, kecil, perseorangan atau mandiri. Ciri-ciri umum media pembelajaran yaitu:
1. Media pembelajaran memiliki pengertian fisik yang dewasa ini dikenal sebagai hardware (perangkat keras), yaitu suatu benda yang dapat dilihat, didengar, atau diraba dengan panca indera.
2. Media pembelajaran memiliki pengertian nonfisik yang dikenal sebagai software (perangkat lunak) yaitu kandungan pesan yang terdapat dalam perangkat keras yang merupakan isi yang ingin disampaikan kepada siswa.
3. Penekanan media pembelajaran terdapat pada visual dan audio.
4. Media pembelajaran memiliki pangertian alat bantu pada proses belajar baik di dalam maupun di luar kelas.
5. Media pembelajaran digunakan dalam rangka momunikasi dan interaksi guru dan siswa dalam proses pembelajaran.
6. Media pembelajaran dapat digunakan secara masal (misalnya radio, televisi), kelompok besar dan kelompok kecil (misalnya film, slide, video, OHP), atau perorangan (misalnya: modul, komputer, radio tape/kaset, video recorder).
Tresna dalam Ali (2005) menjelaskan bahwa peranan media dalam pembelajaran mempunyai pengaruh sebagai berikut: 1) Media dapat menyiarkan informasi yang penting; 2) Media dapat digunakan untuk memotivasi pebelajar pada awal kuliah; 3) Media dapat menambah pengayaan dalam belajar; 4) Media dapat menunjukkan hubungan-hubungan; 5) Media dapat menyajikan pengalaman-pengalaman yang tidak dapat ditunjukkan oleh dosen; 6) Media dapat membantu belajar perorangan; dan 7) Media dapat mendekatkan hal-hal yang ada di luar ke dalam kelas. Sedangkan Latuheru dalam Ali (2005) berpendapat bahwa peran media dalam pembelajaran adalah: 1) membangkitkan motivasi belajar pebelajar; 2) mengulang apa yang telah dipelajari pebelajar; 3) merangsang pebelajar untuk belajar penuh semangat; 4) mengaktifkan respon pebelajar; dan 5) segera diperoleh umpan balik dari pebelajar.
Dalam kaitan ini, maka pembahasan akan dititikberatkan pada media pembelajaran bervideo. Sebagai bagian dari sistem pembelajaran, media mempunyai nilai-nilai praktis berupa kemampuan atau keterampilan untuk: 1) membuat konsep yang abstrak menjadi konkrit, misalnya akting; ekspresi, mimik, pengembangan karakter, yang hanya dapat dijelaskan melalui pemeranan, 2) membawa obyek yang sukar didapat atau berbahaya ke dalam lingkungan belajar, seperti memerankan penjahat, memeragakan pembunuhan dan sebagainya; 3) menampilkan obyek yang terlalu besar ke dalam kelas, sebagai contoh: penataan property yang ekstrim ke dalam panggung pemenasan; 4) menampilkan obyek yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, kegundahan, kegelisahan, dendam; 5) memungkinkan pebelajar mampu berinteraksi dengan lingkungan (Sadiman, 2002).
Dalam pembelajaran drama, media lebih memperjelas pengertian-pengertian yang diberikan oleh dosen. Konsep-konsep dapat ditunjukkan dengan realistis melalui pemeranan. Sehingga perolehan materi pembelajaran akan jauh lebih baik dan dapat dipraktikkan sesuai dengan apa yang dilihat pada media.
b. Penggunaan Media Pembelajaran
Pengetahuan dan keterampilan, perubahan sikap dan perilaku dapat terjadi karena interaksi antara pengalaman baru dengan pengalaman yang pernah dialami sebelumnya. Menurut Bruner dalam Arsyad (2005) ada tiga tingkatan utama modus belajar, yaitu pengalaman langsung (enactive), pengalaman piktorial/gambar (iconic), dan pengalaman abstrak (symbolic). Salah satu gambaran yang paling banyak dijadikan acuan sebagai landasan teori penggunaan media dalam proses belajar mengajar adalah Dale’s Cone of Experience (Kerucut Pengalaman Dale) (Dale, 1969).
Pengaruh media dalam pembelajaran dapat dilihat dari jenjang pengalaman belajar yang akan diterima oleh siswa. Dale menggambarkan bentuk kerucut (Gambar 1), hasil belajar seseorang diperoleh mulai dari pengalaman langsung (konkret), kenyataan yang ada di lingkungan kehidupan seseorang kemudian melalui benda tiruan, sampai pada lambang verbal (abstrak). Semakin keatas di puncak kerucut, semakin abstrak media penyampaian pesan itu.
Gambar 1. Kerucut pengalaman Edgar Dale
c. Belajar Mandiri
Belajar mandiri muncul sebagai jawaban atas masalah pendidikan terhadap kualitas pembelajaran. Diawali dari kekurangan pembelajaran klasikal yang mengabaikan keragaman individu, kemudian muncul pembelajaran individual yang menghargai perbedaan individu.
Menurut Anderson dalam Ali (2005), pembelajaran individual dapat didefinisikan sebagai bagian usaha dari guru dan atau pengelola sekolah untuk menyesuaikan pembelajaran dengan perbedaan individu diantara siswa terhadap pribadi, sosial dan perkembangan akademik dengan lebih baik dari pembelajaran tradisional yakni pembelajaran yang tidak diindividualisasikan. Pertimbangan pada individu belajar memang perlu dipertimbangkan, karena pada hakekatnya individu itulah yang belajar bukan orang lain atau guru. Dengan demikian, aktivitas siswa perlu dilibatkan sebagaimana dikemukakan Vembriarto (1985) bahwa pembelajaran individual adalah pembelajaran yang diselenggarakan sedemikian rupa sehingga tiap-tiap siswa terlibat setiap saat dalam proses belajarnya itu dengan hal-hal yang paling berharga bagi dirinya sebagai individu.
d. Pembelajaran Tari dan Drama
1. Pembelajaran Tari
Seni tari merupakan kesenian yang diungkapkan lewat media gerak, yang indah, sesuai dengan irama musik dan merupakan ekspresi jiwa manusia. Di setiap daerah di negara kita tercinta ini memiliki warna dan ciri khas bentuk tarian masing masing.
Substansi atau materi baku dari tari adalah gerak. John Marten, seorang ahli tari dari Amerika, memberi tekanan bahwa gerak benar-benar substansi baku dari tari (Jazuli, 1986 : 19) Ia mengemukakan bahwa gerak adalah pengalaman fisik yang paling elementer dari kehidupan manusia.
Gerak bukan hanya terdapat pada denyutan-denyutan di seluruh tubuh manusia, tetapi gerak juga terdapat pada ekspresi dari segala pengalaman emosionil manusia. Dengan demikian maka badan adalah cermin dari jiwa manusia.
Karena tari itu adalah seni, maka walaupun materi bakunya adalah gerak, tetapi gerak itu bukanlah gerak yang natural, melainkan gerak yang indah, dan gerak yang indah itu adalah gerak yang distilir dan ritmis. Selain itu ritme merupakan unsur kedua yang penting sekali bagi tari.
Bermacam-macam definisi telah dibuat oleh para ahli tari, baik dari dalam maupun dari luar negeri. Definisi-definisi tersebut antara lain :
a. Tari menurut Soedarsono dalam bukunya Djawa dan Bali; Dua Pusat Perkembangan Drama Tari Tradisional di Indonesia, sebagai berikut :
Tari adalah ekspresi jiwa manusia yang diungkapkan melalui gerak – gerak ritmis yang indah. (Soedarsono, 1978:3)
b. Tari menurut Wisnoe Wardhana (1990:8) salah seorang tokoh tari modern Indonesia; tari adalah kerja rasa dari manusia yang menyalurkannya melalui urat-urat. Pemahaman gerak secara implisif terdiri dari otot dan atu urat tubuh. Maka tari sebenarnya berkait erat dengan gerak dan sistem mekanisme tubuh (urat-urat) yang bersifat teknis.
c. Tari menurut Sedyawati, seorang arkeolog yang empunyai perhatian besar pada seni tari memahami seni tari sebagai berikut:
Bentuk upaya untuk mewujudkan keindahan susunan gerak dan irama yang dibentuk dalam satuan-satuan komposisi.
d. Tari menurut BPA Soerjodiningrat (1938) seorang tokoh tari gaya Yogyakarta dalam bukunya yang berjudul Babad lan Mekaring Djoged Djawi, sebagai berikut:
Ingkang dipun wastani Djoged inggih unikaelahing sedaja saranduning badan, kasarengan ungeling gangsa (gamelan), katata pirantuk wiramaning gending , djumbuhing pasemon kalajkan pikadjenging djoged (BPA. Surjadiningrat, 1934:3)
Yang disebut dengan tari adalah gerakan seluruh anggota badan, diiringi bunyi gamelan (instrumen gamelan), ditata berdasarkan irama lagu pengiring (gending) , menyatunya simbolisasi dengan maksud sebuah tarian
e. Seorang tokoh sejarah musik dan tari dari Belanda yang bernama Curt Sachs berpendapat bahwa, “Tari adalah gerakan yang ritmis” (dance is rhytmic motion)
f. Bagong Kussudiarjo seorang tokoh kreasi baru dari Yogyakarta mengatakan bahwa, Tari adalah keindahan bentuk dari anggota badan manusia yang bergerak, berirama dan berjiwa yang harmonis (Kussudiarjo, 2000:11)
g. Berbeda dengan pemikiran Corrie Hartong, bahwa “Tari adalah keteraturan bentuk gerak tubuh yang ritmis di dalam suatu ruang.”
Jenis tari disini merupakan berbagai macam bentuk atau wujud tari yang memiliki perbedaan dan atau kesamaan. Jenis-jenis tari dapat dikelompokkan berdasarkan : a. jenis tari berdasarkan perkembangannya atau sejarah keberadaannya, b. jenis tari berdasarkan cara penyajiannya, dan c. jenis tari berdasarkan struktur koreografinya.
2. Gerak Tari
Gerak tari adalah hasil dari proses pengolahan gerak yang telah mengalami stilisasi atau gerak yang sudah diperindah atau diperhalus. Ada dua jenis gerak yaitu gerak murni (pure movement) dan gerak maknawi (gesture). Gerak murni adalah gerak yang disusun dengan tujuan untuk mendapatkan bentuk artistiknya saja dan tidak mempunyai maksud-maksud tertentu. Sedangkan gerak maknawi adalah gerak yang mengandung arti atau maksud tertentu.
Pada dasarnya prinsip gerak itu ada dua yaitu tegang (memuat kekuatan), dan kendur (melepas kekuatan). Dari kedua pririsip gerak ini dapat dikembangkan menjadi beberapa macam variasi gerak yang memang harus diperhitungkan dalam penciptaan tari. Macam-macam variasi gerak tersebut antara lain :
a. Lurus b. Lengkung







c. Patah-patah d. Kombinasi







Untuk geraknya pun ada dua golongan, yaitu gerak setempat dan gerak berpindah tempat. Gerak berpindah tempat misalnya : bergeser, melangkah, meluncur, meloncat dan sebagainya.. Dalam pembuatan gerak perlu diperhatikan juga tentang level atau tinggi rendah gerak, yaitu gerak level rendah, gerak level sedang dan gerak level tinggi (atas).
3. Desain lantai
Desain lantai adalah garis-garis lantai yang dilalui oleh penari. Secara garis ada dua macam pola garis dasar lantai yakni, garis lurus dan garis lengkung. Dari dua. macam garis inilah dapat dibentuk menjadi berbagai macam bentuk garis, misalnya zig-zag, diagonal., lingkaran, kombinasi dan sebagainya.
4. Pembelajaran Drama
Pembelajaran drama dapat ditafsirkan dua macam, yaitu: pembelajaran teori drama, dan pembelajaran apresiasi drama. Masing-masing juga terdiri atas dua jenis, yaitu: pembelajaran teori tentang teks naskah) drama, dan pembelajaran tentang teori pementasan drama. Pembelajaran apresiasi dibahas naskah drama dan apresiasi pementasan drama. Dalam apresiasi yang itu naskah maupun pementasan. Tampaknya kedua hal ini penting, hanya saja tekanannya harus pada aspek apresiasi. Jika teori-teori termasuk dalam kawasan kognitif, maka apresiasi menitikberatkan kawasan afektif (sesuai dengan taksonomi Bloom).
Untuk menguraikan pembelajaran apresiasi drama, maka kita berhadapan dengan berbagai disiplin ilmu, yaitu: ilmu sastra. ilmu jiwa, metode pembelajaran sastra, tujuan dan evaluasi, serta aspek kurikulum.
Perihal materi ini ada berbagai pendapat materi teori drama dan materi apresiasi drama. Materi teori drama berupa buku pegangan teoretis tentang apa dan bagaimana drama. Semakin tinggi jenjang pendidikan tentulah semakin canggih dan mendalam (detail). Materi apresiasi berupa naskah drama. Pemilihan naskah disesuaikan dengan jenjang pendidikan (unsur­perkembangan psikologis).
Saat ini disadari, bahwa drama semakin populer di sekolah Calon guru tentu saja harus mampu mengajarkan drama, baik itu dalam hal teori maupun dalam hal apresiasi, baik itu dalam hal naskah ataupun dalam hal pementasan. Lewat dramatisasi, dimungkinkan suatu pengetahuan, dapat menjadi sikap, dan kemudian menjadi tingkah laku (penghayatan dan pengamalan).
Selama ini guru sastra masih terpaku pada penilaian dan tujuan mengajar dalam aspek kognitif. Padahal drama sebagai karya seni, mestinya juga mencapai aspek apresiasi. Tujuan pembelajaran ini kiranya harus segera diatasi. Apalagi jika terdapat tuntutan bahwa aspek apresiasi harus lebih dititikberatkan dalam pembelajaran sastra (termasuk drama) daripada aspek pengetahuan (teori), strategi harus diperbaiki (Waluyo, 2002: 156)
Suasana kondusif memang perlu diciptakan oleh sekolah. Suasana kondusif di sini berarti kondusif dalam mengembangkan kreativitas siswa. Perguruan tinggi sebagai institusi menjadi obor dan penggerak bagi kreativitas siswa harus mampu mengemban tanggung jawab agar pembelajaran drama di Jurusan (dalam hal ini PGSD) dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan. Salah satu faktor yang harus mendapatkan perhatian diantaranya adalah penyediaan media pendukung pembelajaran.
Media pendukung dalam pembelajaran seni tari dan drama di PDSG sangatlah beragam, namun dalam penelitian ini difokuskan pada video pembelajaran dengan materi dasar gerak dan ekspresi.

I. Metode Pengembangan
a. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar FIP Universitas Negeri Surabaya yang dilaksanakan pada semester genap 2008/2009 dengan alokasi waktu 6 bulan, terhitung dari bulan April 2008 – Oktober 2008, dengan rincian sebagai berikut :
b. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan pengembangan media pembelajaran mata kuliah Pendidikan Seni Tari dan Drama dengan model Research and Development (R&D).
1) Pendekatan Fungsional dan Struktural
Media Pembelajaran Mata Kuliah Pendidikan Seni Tari dan Drama merupakan suatu sistem pembelajaran yang terdiri dari software, hardware dan brainware. Software terdiri dari berupa aturan, prosedur, program komputer, kurikulum dan aspek-aspek pendukung lainnya yang bersifat abstrak. Hardware berupa sistem komputer, dan berbagai peralatan pendukung yang diperlukan dalam pembelajaran ini. Sedangkan brainware berupa pengajar dan pebelajar.
2) Metodologi Pengembangan Perangkat Lunak
Pengembangan media pembelajaran Mata Kuliah Pendidikan Seni Tari dan Drama dalam penelitian ini menggunakan metode pengembangan perangkat lunak. Adapun tahapan yang harus dilalui adalah sebagai berikut :
Gambar 2. Bagan Tahapan-tahapan Umum Pengembangan

3. Rancangan Ujicoba
Rancangan ujicoba merupakan bagian yang terpenting agar media pembelajaran Mata Kuliah Pendidikan Seni Tari dan Drama yang dikembangkan layak untuk dipergunakan. Tahapan-tahapannya adalah sebagai berikut:
a. Validasi ahli media pembelajaran
b. Analisis konseptual
c. Revisi berdasarkan penilaian yang berupa masukan, kritik atau saran ahli media untuk dilakukan perbaikan.

4. Metode dan Instrumen Pengumpul Data
Metode dan instrumen pengumpul data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Berkaitan dengan aspek desain tampilan, operasional dan interaksi, peneliti meminta ahli media untuk mereview terhadap media yang dikembangkan.
b. Sedangkan untuk mengukur kualitas media pembelajaran dilakukan dengan angket terhadap pengguna media ini.
Dalam proses ujicoba atau validasi media pembelajaran dalam kelompok kecil, diberikan alat pengumpul data berupa angket dengan skala likert. Skor yang diperoleh dengan menggunakan skala likert ini kemudian diberi rerata. Untuk keperluan analisis kualitatif, maka masing-masing jawaban yang diperoleh diberi skor sebagai berikut:
Kriteria Skor
Sangat baik 4
Baik 3
Kurang 2
Sangat Kurang 1

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan Komentar