Kamis, 04 Juni 2009

TAHAP PEMEROLEHAN BAHASA

1. Kurang dari 1 tahun
- Belum dapat mengucapkan kata-kata,
- Belum menggunakan bahasa dalam arti yang sebenarnya,
- Dapat membedakan beberapa ucapan orang dewasa.
(Eimas, lewat Gleason, 1985: 2, dalam Zuchdi, 1996: 4)

2. 1 tahun
- Mulai mengoceh,
- Bermain dengan bunyi (bermain dengan jari-jari tangan dan kakinya)
- Perkembangan pada tahap ini disebut pralinguistik.
(Gleason, 1985: 2)
- Ketika bayi dapat mengucapkan beberapa kata, mereka memiliki ciri-ciri perkembangan yang universal.
- Bentuk ucapan hanya satu kata, sederhana, mudah diucapkan dan memiliki arti konkrit (nama benda, kejadian atau orang-orang di sekitar anak).
- Mulai pengenalan semantik (pengenalan makna).

3. 2 tahun
- Mengetahui kurang lebih memiliki 50 kata.
- Kebanyakan mulai mencapai kombinasi dua kata yang dikombinasikan dalam ucapan-ucapan pendek tanpa kata penunjuk, kata depan atau bentuk lain yang seharusnya digunakan.
- Mulai mengenal berbagai makna kata tetapi tidak dapat menggunakan bentuk bahasa yang menunjukkan jumlah, jenis kelamin, dan waktu terjadinya peristiwa.
- Mulai dapat membuat kalimat-kalimat pendek.

4. Taman Kanak-kanak
- Memiliki dan memahami sejumlah besar kosa kata,
- Mampu membuat pertanyaan-pertanyaan, kalimat majemuk dan berbagai bentuk kalimat,
- Dapat berbicara dengan sopan dengan orang tua dan guru.

5. Sekolah Dasar
- Peningkatan perkembangan bahasa, dari bahasa lisan ke bahasa tulis,
- Peningkatan perkembangan penggunaan bahasa.

6. Remaja
- Penggunaan bahasa yang khas sebagai bagian dari terbentuknya identitas diri (merupakan usia yang sensitif untuk belajar berbahasa)(Gleason, 1985: 6)

7. Dewasa
- Terdapat perbedaan-perbedaan yang besar antara individu yang satu dengan yang lainnya dalam perkembangan bahasa (sesuai dengan tingkat pendidikan, peranan dalam masyarakat, dan jenis pekerjaan

PRAKIRAAN UMUR FASE-FASE PERKEMBANGAN KOGNITIF MENURUT PIAGET FASE-FASE PERKEMBANGAN KEBAHASAAN

Lahir s/d 2 tahun

Periode sensorimotor. Anak memanipulasi objek di lingkungannya dan mulai membentuk konsep Fase fonologis. Anak bermain dengan bunyi-bunyi bahasa mulai mengoceh sampai menyebutkan kata-kata sederhana

2 s/d 7 tahun

Periode Praoperasional.
Anak memahami pikiran simbolik, tetapi belum dapat berpikir logis

Fase Sintaktik.
Anak menunjukkan kesadaran gramatis, berbicara menggunakan kalimat

7 s/d 11 tahun
Periode Operasional.
Anak dapat berpikir logis mengenai benda-benda konkrit

Fase Semantik.
Anak dapat membedakan kata sebagai simbol dan konsep dalam kata


PADA AWAL USIA SEKOLAH MERUPAKAN PERIODE BERKEMBANGNYA KREATIFITAS KEBAHASAAN YANG DIISI DENGAN SAJAK, NYANYIAN, DAN PERMAINAN KATA.
SETIAP ANAK MENCOBA MENGEMBANGKAN PENGGUNAAN BAHASA YANG BERSIFAT KHAS.
ANAK-ANAK BELAJAR MENEMUKAN HUMOR DALAM PERMAINAN KATA(Owen, 1992: 354)

pada periode usia sekolah perkembangan bahasa yang paling jelas tampak adalah perkembangan semantik dan pragmatik, di samping mempelajari bentuk-bentuk baru, anak belajar menggunakannya untuk berkomunikasi dengan lebih efektif.(Obler, 1985, dalam Owen, 1992: 355)

KEMAMPUAN META LINGUISTIK , YAITU KESADARAN YANG MEMUNGKINKAN PENGGUNA BAHASA BERPIKIR TENTANG BAHASA DAN MELAKUKAN REFLEKSI, JUGA MAKIN BERKEMBANG PADA USIA SEKOLAH. HAL INI TERCERMIN DALAM PERKEMBANGAN KETERAMPILAN MEMBACA DAN MENULIS.(Owen, 1992: 335)

Pada usia prasekolah anak belum memiliki keterampilan bercerita secara sistematis. Baru setelah periode usia sekolah proses kognitif meningkat sehingga memungkinkan anak menjadi komunikator yang lebih efektif.

Anak mulai mengenal adanya berbagai pandangan mengenai suatu topik. Mereka dapat mendeskripsikan sesuatu, tetapi masih bersifat personal dan tidak mempertimbangkan makna informasi yang disampaikan bagi pendengar. Informasi tersebut biasanya tidak selalu benar karena bercampur dengan khayalan

Anak berumur lima dan enam tahun menghasilkan berbagai macam cerita. umumnya berisi tentang hal-hal yang terjadi di dunia sekitarnya. Cerita-cerita tersebut mencerminkan budaya dan suasana dan pengembangan yang berbeda-beda. Cerita-cerita tersebut misalnya penjelasan tentang kejadian. Cerita pengalaman sendiri, dan cerita fiksi (owens, 1992: 359)

Kemampuan membuat cerita tersebut hendaknya sudah diperkenalkan kepada anak didik pada usia prasekolah, meskipun dengan penyederhanaan. Lebih dari itu mereka hendaknya dilatih mengekspresikan pikiran dan perasaan secara sistematis dan santun.

Pada kelas dua sekolah dasar anak mulai dilatih menggunakan kalimat yang agak panjang dengan konjungsi: dan, lalu, dan kata depan: di, ke, dari. Anak sudah dapat dilatih bercerita kejadian secara kronologis.

PERKEMBANGAN KEMAMPUAN MEMBUAT CERITA


ANAK BERUMUR ENAM TAHUNSUDAH DAPAT BERCERITA SEDERHANA TENTANG SESUATU YANG MEREKA LIHAT. KEMAMPUAN INI SELANJUTNYA BERKEMBANG SECARA TERATUR SEDIKIT DEMI SEDIKIT .

PADA USIA TUJUH TAHUN ANAK MULAI DAPAT MEMBUAT CERITA YANG AGAK PADU. MEREKA MULAI DENGAN MENGEMUKAKAN MASALAH, RENCANA MENGATASI MASALAH, DAN PENYELESAIAN, MESKIPUN BELUM JELAS SIAPA YANG MELAKUKANNYA.

PADA UMUR DELAPAN TAHUN ANAK-ANAK MENGGUNAKAN PENANDA AWAL DAN AKHIR DARI SEBUAH CERITA. KEMAMPUAN MEMBUAT ALUR CERITA YANG AGAK JELAS BARU MULAI DIPEROLEH ANAK-ANAK PADA USIA LEBIH DARI DELAPAN TAHUN. STRUKTUR CERITA YANG DIBUATNYA MENJADI SEMAKIN JELAS.


PERBEDAAN BAHASA ANAK LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

Anak perempuan

1. Menghindari bahasa yang berisi umpatan dalam percakapan dan cenderung menggunakan kata-kata yang lebih sopan: silakan, terima kasih, selamat jalan, dsb.
2. Ekspresi emosional yang digunakan lebih halus, misalnya: Oh sayangku, Ya Allah, dsb.
3. Cenderung menggunakan bahasa tidak langsung dalam meminta persetujuan dan lebih banyak mendengarkan. Perannya dalam percakapan adalah sebagai fasilitator.
4. Lebih banyak berbicara secara berpasangan dengan teman akrabnya dan saling menceritakan rahasianya

Anak Laki-laki

1. Ekspresi emosional cenderung menggunakan kata-kata kasar misalnya umpatan: sialan, bedebah, dsb.
2. Cenderung menggunakan bahasa secara langsung dan bersifat memberitahu, karena laki-laki menganggap perannya dalam percakapan adalah pemberi informasi.
3. Kurang banyak berbicara, tetapi lebih banyak berbuat. Pada perkembangan ke tingkat dewasa seorang ayah lebih banyak menggunakan perintah ketika berbicara dengan anak laki-laki, dan lebih banyak menginterupsi pembicaraan anak perempuannya.

Selama periode sekolah sampai dewasa, setiap individu meningkatkan jumlah kosa kata dan makna khas istilah secara teratur melalui konteks tertentu. Dalam proses tersebut seseorang menyusun kembali aspek-aspek kebahasaan yang telah dikuasainya. Hasil dari proses tersebut tercermin dari kata-kata yang digunakannya, misalnya dengan penggunaan bahasa figuratif, atau kreativitas berbahasa yang begitu pesat.

Keseluruhan proses perkembangan semantik dari awal sekolah dasar ini dapat dihubungkan dengan keseluruhan proses kognitif (owen, 1992: 374).

Ada dua jenis penambahan makna kata secara horisontal. Anak semakin mampu memahami dan dapat menggunakan suatu kata dengan makna yang tepat. Adapun penambahan vertikal berupa peningkatan jumlah kata yang dapat dipahami dan digunakan dengan tepat (Owens, 1992: 375)

Kemampuan anak di kelas-kelas rendah dalam mendefinisikan kata-kata meningkat dengan dua cara; Pertama secara konseptual dari definisi berdasar pengalaman individu ke makna yang lebih bersifat sosial atau makna yang dibentuk bersama. Kedua anak bergerak secara sintaksis dari definisi berupa kata-kata lepas ke kalimat-kalimat yang menyatakan hubungan yang kompleks (Owens, 1992: 376)

Bahasa Figuratif memungkinkan pengguna bahasa menggunakan bahasa secara kreatif, imajinatif, tidak secara literal, untuk menciptakan kesan emosional atau imajinatif. Termasuk jenis bahasa ini adalah ungkapan, metafora, kiasan, dan peribahasa.

Ungkapan, adalah pernyataan pendek yang telah digunakan bertahun-tahun dan tidak dapat dianalisis secara gramatikal. Contoh, rumah makan, kamar kecil, makan hati, kepala batu, ringan tangan, dsb.

Metafora dan kiasan adalah bentuk ucapan yang membandingkan benda yang sebenarnya dengan khayalan. Perbandingan dinyatakan secara implisit, misalnya, suaranya membelah bumi. Sedangkan kiasan sebaliknya, yaitu perbandingan dinyatakan secara eksplisit. Contoh, dua gadis itu seperti pinang dibelah dua.

Peribahasa adalah pernyataan pendek yang sudah dikenal yang berisi kebenaran yang terterima, pikiran berguna atau nasehat. Contoh, Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna. Menepuk air di dulang terpercik muka sendiri. dsb.

Bahasa figuratif lebih dapat dipahami dalam konteks daripada secara terpisah
Makna bahasa figuratif disimpulkan pada penggunaan berulang-ulang dalam konteks yang berbeda-beda.
Kejelasan metaforik, yakni hubungan makna literal dan figuratif akan memudahkan penafsiran. Contoh, tutup mulut akan lebih mudah dipahami dari pada makan hati, sedangkan anak berumur 7 – 9 tahun menafsiran peribahasa secara literal.


Perkembangan Morfologis dan Sintaksis

Perkembangan bahasa pada periode usia sekolah mencakup perkembangan secara serentak (simultan) bentuk-bentuk sintaktik yang telah ada dan perolehan bentuk-bentuk yang baru. Perluasan kalimat menggunakan frase verba dan nomina. Fungsi-fungsi kata gabung dan kata ganti juga diperluas, termasuk tambahan struktur bentuk pasif.

Prosesnya diawali dengan mempelajari bentuk-bentuk morfem yang semula bersifat hafalan, kemudian diikuti dengan membuat kesimpulan kasar tentang bentuk dan makna fonem, dan terakhir barulah membentuk kaidah. Proses ini rumit ini dimulai pada periode prasekolah dan berlangsung terus sampai pada masa adolesen

Bentuk Kalimat

1. Bentuk pasif dapat dibalik
2. Bentuk pasif tidak dapat dibalik yang pelakunya berupa instrumen

3. Bentuk pasif tidak dapat dibalik yang pelakunya manusia

Contoh:
1. “Ani dikejar Amir” dapat dibalik “Amir dikejar Ani”.
2. “Mangga dilempar dengan batu” tidak mungkin “Batu dilempar dengan mangga”
3. “Buku saya dipinjam oleh Jono” tidak mungkin dibalik “Jono dipinjam oleh buku saya”

TINGKATAN PENGGUNAAN

Anak-anak biasanya menggunakan bentuk pasif yang dapat dibalik dan yang tidak dapat dibalik dalam jumlah seimbang, namun sering mengalami kesulitan dalam membuat kalimat dan menafsirkan kalimat pasif yang dapat dibalik

Bentuk kalimat yang digunakan

Umur 8 tahun lebih banyak menggunakan bentuk pasif yang tidak dapat dibalik

Umur 11 – 13 tahun lebih banyak menggunakan bentuk pasif yang tidak dapat dibalik yang pelakunya manusia,
 Penggunaan “dan” pada awal kalimat mulai jarang muncul,
 Pada umur 12 tahun mulai sering menggunakan kata penghubung yang menghubungkan klausa “karena”, “jika”, “supaya”.

Catatan:

- Anak-anak sering mengalami kesulitan dan kebingungan dalam menggunakan “karena”, “dan”, “lalu”. Sebagai contoh, untuk mengatakan “Saya tidak masuk sekolah karena saya sakit” sering diucapkan “Saya sakit karena saya tidak masuk sekolah”
- Pemahaman secara konsisten baru terjadi pada kurang lebih umur 10 sampai 11 tahun.
- Penggunaan kalimat dengan kata sambung “karena” lebih mudah dipahami daripada “meskipun”. Contoh, “Saya memakai payung karena hujan” lebih mudah daripada “Saya memakai payung meskipun hujan”.

Umur/jenjang Perkembangan Membaca

Sebelum 6 tahun Fase pramembaca

Fase 1
 6 tahun
Mempelajari perbedaan huruf dan perbedaan angka yang satu dengan yang lainnya, sampai akhirnya mengenal huruf dan angka secara keseluruhan.

7 atau 8 tahun
Umumnya anak telah memperoleh pengetahuan tentang huruf, suku kata, dan kata yang diperlukan untuk membaca (pengetahuan ini umumnya diperoleh di sekolah).

Fase 2
Kelas 3 dan 4
Dapat menganalisis kata-kata yang tidak diketahuinya menggunakan pola tulisan dan kesimpulan yang didasarkan konteksnya.

Fase 3
Kelas 4 sampai Kelas 2 SLTP
Membaca tidak lagi hanya pengenalan tulisan tetapi pada pemahaman.

Fase 4
Akhir SLTP sampai dengan SLTA
Penggunaan keterampilan tingkat tinggi misalnya, inferensi(penyimpulan), dan pandangan penulis untuk meningkatkan pemahaman

Fase 5
Perguruan tinggi
Dapat mengintegrasikan hal-hal yang dibaca dengan pengetahuan yang dimilikinya, dan menanggapi secara kritis apa yang dibacanya (Owens, 1992: 400-401)

Ada kesejajaran antara perkembangan membaca dan menulis. Pada umumnya penulis yang baik adalah pembaca yang baik, demikian juga sebaliknya. Proses menulis dekat dengan menggambar dalam hal keduanya mewakili simbol tertentu. Namun, menulis berbeda dengan menggambar. Hal ini diketahui anak ketika berumur sekitar 3 tahun
(Owens, 1992: 403).

Umur/jenjang Kemampuan
6 tahun (kelas 1 dan 2)
- Kurang memperhatikan format, jarak tulis ejaan, dan tanda baca.
- Belum memperhatikan pembaca, dan masih bersifat egosentrik.

Kelas 3 dan 4
- Mulai memperhatikan pembaca,
- Mulai merevisi dan menyunting tulisannya

Pada periode usia sekolah terjadi perkembangan kemampuan menggunakan kalimat dengan lengkap baik secara lisan maupun secara tertulis. Terjadi pula peningkatan penggunaan klausa dan frase yang kompleks serta penggunaan kalimat yang bervariasi

PENDEKATAN PEMBELAJARAN BAHASA

Pendekatan

Seperangkat asumsi yang saling berkaitan, dan berhubungan dengan sifat bahasa, serta pengajaran bahasa. Pendekatan merupakan dasar teoritis untuk suatu metode.

Asumsi tentang bahasa bermacam-macam, antara lain asumsi yang menganggap bahwa bahasa sebagai suatu sistem komunikasi yang pada dasarnya dilisankan; dan adalagi yang menganggap bahwa bahasa adalah seperangkat kaidah.

Dari asumsi-asumsi tersebut menimbulkan adanya pendekatan-pendekatan yang berbeda, yakni:

1)Pendekatan yang mendasari pendapat bahwa belajar berbahasa berarti berusaha membiasakan diri menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Tekanannya pada pembiasaan.

2)Pendekatan yang mendasari pendapat bahwa belajar berbahasa berartiberusaha untuk memperoleh kemampuan berkomunikasi secara lisan. Tekanannya pada pemerolehan kemampuan berbicara.

3)Pendekatan yang mendasari pendapat bahwa belajar berbahasa yang harus diutamakan ialah pemahaman akan kaidah-kaidah yang mendasari ujaran. Tekanannya pada aspek kognitif bahasa, bukan pada kemampuan menggunakan bahasa.


METODE

Metode Pembelajaran bahasa adalah rencana pembelajaran bahasa, yang mencakup pemilihan, penentuan, dan penyusunan secara sistematis bahan yang akan diajarkan, serta kemungkinan diadakan remidi dan bagaimana pengembangannya.

Dari uraian di atas jelaslah bahwa suatu metode ditentukan berdasarkan pendekatan yang dianut; dengan kata lain pendekatan merupakan dasar penentu metode yang digunakan.

Secara garis besar metode mencakup:
1. pemilihan dan penentuan bahan ajar
2. penyusunan serta kemungkinan pengadaan remidi dan pengembangan bahan ajar tersebut, dengan mempertimbangkan:
a. tingkat usia
b. tingkat kemampuan
c. kebutuhan
d. latar belakang lingkungan siswa
e. disusun berdasarkan tingkat kesukaran
Disamping itu guru juga harus merencanakan pula pengevaluasian, remidial, dan pengembangan bahan ajar.

Teknik

Teknik pembelajaran merupakan cara guru menyampaikan bahan ajar yang telah disusun (dalam metode), berdasarkan pendekatan yang dianut.

Teknik yang digunakan guru bergantung pada kemampuan masing-masing guru, karena teknik juga berkaitan dengan siasat atau mencari akal agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar dan berhasil dengan baik.

Pertimbangan dalam menentukan teknik pembelajaran antara lain: situasi kelas, lingkungan, kondisi siswa, dsb.



PENDEKATAN-PENDEKATAN
Dalam
PEMBELAJARAN BAHASA


Pendekatan Tujuan

Pendekatan tujuan dilandasi oleh pemikiran bahwa dalam setiap kegiatan pembelajaran yang harus dipikirkan dan ditetapkan lebih dahulu ialah tujuan yang hendak dicapai. Jadi proses pembelajaran ditentukan oleh tujuan yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan itu sendiri.

Dengan berdasarkan tujuan, maka yang terpenting ialah tercapainya tujuan, yakni siswa memiliki kemampuan tertentu sebagaimana tujuan yang telah ditetapkan.
Contoh:
Untuk pokok bahasan menulis, tujuan pembelajaran yang ditetapkan ialah “Siswa mampu membuat karangan/cerita berdasarkan pengalaman atau informasi dari bacaan”, maka yang penting adalah siswa memiliki kemampuan mengarang. Adapun bagaimana metode dan teknik pembelajarannya bukanlah masalah yang diutamakan.

Penerapan pendekatan tujuan sering dikaitkan dengan cara belajar tuntas yang berarti suatu kegiatan belajar mengajar dianggap berhasil apabila sedikitnya 85% dari jumlah siswa yang mengikuti pelajaran itu menguasai minimal 75% dari bahan ajar yang diberikan guru dengan melalui evaluasi.


PENDEKATAN STRUKTURAL

Pendekatan ini dilandasi oleh asumsi yang menganggap bahwa bahasa sebagai seperangkat kaidah. Atas dasar itu maka timbul pemikiran bahwa pembelajaran bahasa harus mengutamakan penguasaan kaidah-kaidah bahasa atau tata bahasa. Pembelajarannya pun harus menitikberatkan pada aspek-aspek fonologi, morfologi, dan sintaksis. Pengetahuan tentang pola-pola kalimat, pola kata, suku kata, menjadi sangat penting. Dengan kata lain pada pendekatan ini aspek kognitif bahasa diutamakan.


PENDEKATAN KOMUNIKATIF

Pendekatan komunikatif merupakan pendekatan yang dilandasi oleh pemikiran bahwa kemampuan menggunakan bahasa dalam komunikasi merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa.

Bahasa tidak hanya dipandang sebagai seperangkat kaidah tetapi lebih luas lagi, yakni sebagai sarana untuk berkomunikasi. Jadi di sini bahasa ditempatkan sebagaimana fungsinya yaitu fungsi komunikatif.

Menurut Littlewood (1981) pendekatan komunikatif didasari pemikiran:

1. Pendekatan komunikatif membuka pandangan yang lebih luas tentang bahasa, yang tidak terbatas pada tata bahasa dan kosakata saja, tetapi juga pada fungsi komunikatif bahasa.

2. Pendekatan komunikatif membuka diri bagi pandangan yang luas dalam pembelajaran bahasa.


Catatan:

Uraian-uraian di atas mungkin merupakan teori-teori yang sangat mendasar, oleh sebab itu agar dicapai pembelajaran berbahasa yang sesuai perlu mengacu pada model dan strategi terkini, yaitu pembelajaran inovatif.

6 komentar:

  1. wuiiih, matur suwun bapak atas semua ilmunya,,,

    BalasHapus
  2. Ternyata pembelajaran bahasa itu sendiri cukup kompleks yah Pak..
    Saya akan berusaha terus mempelajarinya..
    Terima kasih atas ilmunya ya Pak..

    Salam hangat,

    Lupita

    BalasHapus
  3. Terima kasih Pak atas dukungannya..
    Belum posting lagi ya Pak..?

    BalasHapus
  4. Pak Heru apakah teori semacam itu dalam aplikasi pembelajaran mendudkung dalam mengatasi masalah kebahasaan anak ketika mengalami kesulitan ?

    Terima kasih sebelumnya.

    Dari Janny . M Kampoes Moestopo

    BalasHapus
  5. Terima kasih artikelnya...artikel tersebut di atas sangat membantu saya. saat ini saya sedang mengerjakan tugas psikolinguistik untuk program pascasarjana pendidikan bahasa indonesia. sekali lagi terima kasih.:-)

    BalasHapus

Tinggalkan Komentar