Selasa, 29 Desember 2009

Pembelajaran Sastra Melalui Puisi

"AURA'

di punggung bukit ini aku menengadah

angin seraya sepi

memadu do’a yang tertepis

tak layu kau kupandang

biar pedih mata menuai rambut yang terurai

dan lentik jari menopang dagu mungilmu

di kaki tebing ini kuhampar rangkaian syair gundah

berpadu bayang sinar mentari

yang terukir indah

pada bulir embun

di atas dedaunan


Trawas, 22 Desember 2009, http://mbahbrata.wordpress.com/2009/12/25/aura/


Banyak pengamat menilai pengajaran apresiasi sastra selama ini berlangsung monoton, tidak menarik, bahkan membosankan. Siswa tidak diajak untuk menjelajahi dan menggauli keagungan nilai yang terkandung dalam teks sastra, tetapi sekadar dicekoki dengan pengetahuan-pengetahuan tentang sastra yang bercorak teoretis dan hafalan. Mereka tidak diajak untuk mengapresiasi teks-teks sastra yang sesungguhnya, tetapi sekadar menghafalkan nama-nama sastrawan berikut hasil karyanya. Dengan kata lain, apa yang disampaikan guru dalam pengajaran sastra barulah kulit luarnya saja, sehingga peserta didik gagal menikmati “lezat”-nya isi dan aroma kandungan nilai dalam karya sastra. Kondisi pengajaran sastra yang semacam itu tidak saja memprihatinkan, tetapi juga telah “membusukkan” proses pencerdasan emosional dan spiritual siswa.

Pengajaran apresiasi puisi pun dinilai tak luput dari situasi semacam itu. Pengajaran apresiasi puisi baru sebatas menyajikan kulitnya saja; seperti pengertian tentang diksi, rima, pencitraan, tema, atau pesan moral; belum menukik pada upaya untuk menemukan keagungan nilai dan nilai keindahan yang terkandung di dalamnya. Tidak heran kalau pengajaran apresiasi puisi belum banyak berkiprah dalam membentuk watak dan kepribadian siswa. Dari tahun ke tahun, pengajaran apresiasi puisi tak lebih dari sebuah rutinitas pengajaran untuk memenuhi tuntutan kurikulum belaka; belum memberikan inspirasi kepada siswa didik untuk menjadi manusia yang berbudaya, yakni manusia yang memiliki sikap responsif terhadap nilai-nilai moral dan keluhuran budi.

Salah satu persoalan klasik yang sering dituding menjadi penyebab kurang menariknya pengajaran apresiasi puisi adalah pemilihan bahan ajar. Bahan ajar sekadar diambil dari buku teks yang belum tentu cocok dengan tingkat kemampuan berbahasa, perkembangan jiwa, dan latar belakang budaya siswa didik. Dalam kondisi seperti ini, guru bukanlah satu-satunya pihak yang harus bertanggung jawab terhadap kegagalan apresiasi puisi di sekolah. Selain, terbatasnya ketersediaan buku sumber di perpustakaan sekolah dan sistem penilaian yang kurang sahih, kurikulum juga dianggap sebagai faktor yang tak dapat diabaikan. Untuk itu, perlu ada upaya serius untuk meniyasati agar kurikulum dan apresiasi puisi bisa ”dikawinkan” ke dalam sebuah ”rumah” pengajaran apresiasi puisi yang inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

Dalam konteks demikian, ada dua pendekatan yang bisa digunakan dalam memilih teks puisi sebagai bahan ajar, yakni pendekatan berbasis sastra dan pendekatan berbasis kurikulum. Kedua pendekatan ini tidak harus digunakan secara terpisah, tetapi bisa diintegasikan menjadi sebuah pendekatan pemilihan bahan ajar yang mampu mengakomodasi antara kepentingan kurikulum dan apresiasi sastra.


Pendekatan Berbasis Sastra
Meminjam konsep Rahmanto (1988), setidaknya ada tiga aspek penting yang tak boleh dilupakan dalam memilih bahan ajar puisi, yakni aspek bahasa, kematangan jiwa, dan latar belakang budaya siswa.


1. Aspek Bahasa
Bahasa puisi bersifat sugestif (penyaranan), asosiatif (pertalian), dan imajis (pembayangan). Mengingat sifat bahasa puisi yang semacam itu, akan terbuka peluang yang begitu luas dan terbuka kepada siswa untuk menafsirkan sendiri puisi yang bersangkutan (multitafsir). Meskipun demikian, jangan sampai sifat puisi yang multitafsir memberikan beban bagi siswa dalam menemukan keagungan nilai dan nilai keindahan yang terkandung di dalamnya. Justru perlu dimaknai sebagai nilai tambah yang akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempertajam daya apresiasi sekaligus ”menghidupkan” naluri keindahannya.

Sungguhpun ada kebebasan dan keleluasaan dalam menafsirkan makna sebuah puisi, siswa perlu dibekali dengan pemahaman, bagaimana penafsiran itu mesti dilakukan. Tujuannya semata-mata agar hasil apresiasi itu berlandaskan alasan yang logis, argumentatif, dan meyakinkan; juga agar kekayaan makna puisi dapat diungkapkan lebih mendalam. Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan betul aspek penggunaan bahasa yang digunakan oleh sang penyair dalam teks puisi untuk menghindari terjadinya tafsir yang jauh menyimpang dari substansi makna yang terkandung dalam teks. Dengan kata lain, guru perlu mengembangkan keterampilan khusus untuk memilih teks puisi yang sesuai dengan tingkat perkembangan bahasa siswa.


2. Aspek Kematangan Jiwa
Aspek kematangan jiwa siswa perlu dipertimbangkan betul ketika seorang guru menentukan teks puisi yang hendak dijadikan sebagai bahan ajar karena akan sangat besar pengaruhnya terhadap minat dan keengganan siswa didik dalam banyak hal. Tahap perkembangan jiwa juga sangat besar pengaruhnya terhadap daya ingat, kemauan mengerjakan tugas, kesiapan bekerja sama, dan kemungkinan pemahaman situasi atau pemecahan masalah yang dihadapi.

Ada beberapa tahap perkembangan jiwa siswa yang perlu dijadikan sebagai rujukan guru dalam menentukan bahan ajar puisi, di antaranya: (1) tahap pengkhayal (8-9 tahun): pada tahap ini imajinasi anak belum banyak diisi hal-hal nyata, tetapi masih penuh dengan berbagai macam fantasi kekanakan; (2) tahap romantik (10-12 tahun): pada tahap ini, anak mulai meninggalkan fantasi-fantasi dan mulai mengarah pada realitas, meskipun pandangannya tentang dunia masih sangat sederhana. Selain itu, anak juga telah menyenangi cerita-cerita kepahlawanan, petualangan, atau kejahatan; (3) tahap realistik (13-16 tahun): pada tahap ini anak sudah benar-benar terlepas dari dunia fantasi dan sangat berminat pada realitas, atau apa yang benar-benar terjadi; mereka mulai terus berusaha mengetahui dan siap mengikuti dengan teliti fakta-fakta untuk memahami masalah-masalah dalam kehidupan nyata; (4) tahap generalisasi (16 tahun -…): pada tahap ini, anak sudah berminat untuk menemukan konsep-konsep abstrak dengan menganalisis sebuah fenomena. Dengan menganalisis fenomena, mereka berusaha menemukan dan merumuskan penyebab utama fenomena itu yang kadang-kadang mengarah ke pemikiran falsafati untuk menemukan keputusan-keputusan moral.

Dalam konteks demikian, teks puisi yang dipilih hendaknya disesuaikan dengan tahap psikologis siswa yang berada dalam satu kelas. Memang, tidak semua siswa dalam satu kelas memiliki tahapan psikologis yang sama, tetapi setidaknya guru bisa memilih teks puisi yang secara psikologis memiliki daya tarik terhadap minat siswa untuk mengapresiasi puisi.


3. Aspek Latar Belakang Budaya Siswa
Dalam sejarah perkembangan sastra, kita mengenal teks puisi yang amat beragam nada dan suasana kulturalnya. Hal ini sangat ditentukan oleh latar belakang kehidupan dan kreativitas sang penyair dalam melahirkan teks-teks puisinya. Dalam situasi semacam ini, guru perlu mempertimbangkan latar belakang budaya siswa dalam memilih teks puisi. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya pengaburan tafsir teks puisi dan penggambaran suasana teks di luar batas jangkauan imajinasi siswa.

Coba kita perhatikan beberapa kutipan puisi berikut ini!


(1) SURAT DARI IBU
Pergi ke dunia luas, anakku sayang
pergi ke hidup bebas!
Selama angin masih angin buritan
dan matahari pagi menyinar daun-daunan
dalam rimba dan padang hijau
(”Surat dari Ibu” karya Asrul Sani)


(2) DOA SI KECIL
Tuhan Yang Pemurah
Beri mama kasur tebal di surga

Tuhan yang Kaya
Berikan ayah pipa yang indah
Amin.
(“Doa si Kecil” karya Taufiq Ismail)


(3) DI MEJA MAKAN

Ruang diributi jerit dada
Sambal tomat pada mata
meleleh air racun dosa

Dari aspek bahasa, tahapan psikologis, dan latar belakang budaya siswa, ”Ibu”, ”Doa”, atau ”Tomat” merupakan konsep yang sudah sangat akrab dengan dunia siswa. Muatan isi dalam kutipan puisi ”Surat dari Ibu” kiranya cukup jelas, yaitu nasihat seorang ibu kepada anaknya (melalui surat) yang pergi mengembara yang disajikan dengan nada yang halus dan penuh cinta kasih. “Doa si Kecil” memberikan imaji seorang anak yang berdoa kepada Tuhan dalam bahasa yang sederhana dan dalam suasana khidmat, sebagaimana lazimnya ketika seseorang sedang berdoa. Sedangkan, ”Di Meja Makan”, memberikan gambaran, bagaimana rasanya jika sambal yang pedas itu mengenai mata; perih dan panas. Larik ini juga mengasosiasikan kepedihan yang dinyatakan lewat perihnya mata yang terkena sambal. Larik berikutnya seolah-olah menyimpulkan, bahwa penderitaan dan kegelisahan itu lebih disebabkan oleh perbuatan-perbuatan dosa: meleleh air racun dosa. Jadi, ada semacam penyesalan yang mendalam.


Pendekatan Berbasis Kurikulum
Sebelum memilih teks puisi sebagai bahan ajar, guru perlu melakukan analisis standar kompetensi dan kompetensi yang terdapat dalam standar isi kurikulum. Ini artinya, teks puisi yang dipilih hendaknya benar-benar menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Dengan kata lain, pemilihan bahan ajar haruslah mengacu atau merujuk pada standar kompetensi.

Dalam Standar Isi (SI) KTSP disebutkan bahwa standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global. Berkaitan dengan pengajaran apresiasi sastra, peserta didik diharapkan dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri. Sedangkan, guru diharapkan lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya.

Berdasarkan standar kompetensi semacam itu, tujuan pengajaran apresiasi sastra, antara lain: (1) agar siswa dapat menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa; dan (2) agar siswa dapat menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
Beranjak dari konsep tersebut, alur pemilihan teks puisi sebagai bahan ajar dengan menggunakan pendekatan berbasis kurikulum dapat dilihat pada skema berikut ini.

Semangat dan “roh” KTSP yang memberikan kemandiran dan keleluasaan bagi guru dalam mengelola kegiatan belajar-mengajar merupakan sebuah perubahan paradigma dalam dunia pendidikan kita yang diharapkan dapat memacu semangat dan motivasi guru dalam menciptakan inovasi-inovasi pembelajaran yang bermakna dan bermanfaat bagi pengembangan kompetensi siswa didik. Berkaitan dengan pemilihan teks puisi sebagai bahan ajar, guru juga diharapkan dapat “mengawinkan” antara tuntutan kurikulum dan apresiasi puisi sehingga kurikulum tidak lagi dianggap sebagai beban, tetapi justru perlu dimanfaatkan sebagai media yang akan mengantarkan siswa sebagai manusia yang berbudaya.


Catatan Penutup
HLB Moody pernah menyatakan bahwa pengajaran sastra yang baik akan mampu memberikan sumbangan terhadap dunia pendidikan, di antaranya dalam hal kemampuan berbahasa, pengetahuan budaya, mengembangkan cipta dan rasa, serta menunjang pembentukan watak. Hal senada juga dikemukakan oleh Jakob Sumardjo dan Saini K.M. bahwa karya sastra mampu memberikan kesadaran kepada pembaca tentang kebenaran-kebenaran hidup, memberikan kegembiraan dan kepuasan batin, mampu menunjukkan kebenaran manusia dan kehidupan secara universal, dapat memenuhi kebutuhan manusia terhadap naluri keindahannya, dapat memberikan penghayatan yang mendalam terhadap apa yang diketahui, bahkan dapat menolong pembacanya menjadi manusia yang berbudaya, yakni manusia yang responsif terhadap nilai-nilai keluhuran budi.

Persoalannya sekarang, masihkah kita mencari-cari alasan untuk mengebiri sastra dalam dunia pendidikan ketika peradaban negeri ini dinilai sedang “sakit”? Masihkah kita berdalih untuk menyingkirkan sastra dari dunia pendidikan ketika nilai-nilai kesalehan hidup gagal merasuk ke dalam gendang nurani siswa lewat khotbah dan ajaran-ajaran moral? Masihkah kita mengambinghitamkan kurikulum pendidikan ketika apresiasi sastra di kalangan pelajar menjadi mandul, bahkan banyak pelajar kita yang mengidap “rabun sastra”?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu memang bukan hal yang mudah untuk dijawab. Sastra bukan “sihir” yang sekali “abrakadabra” langsung bisa mengubah keadaan. Sastra lebih banyak bersentuhan dengan ranah batin dan wilayah kerohanian sehingga hasilnya tak kasat mata. Nilai-nilai kesalehan hidup yang terbangun melalui proses apresiasi sastra berlangsung melalui tahap internalisasi, pengkraban nilai-nilai, persentuhan dengan akar-akar kemuliaan dan keluhuran budi, serta pergulatan tafsir hidup yang akan terus berlangsung dalam siklus kehidupan pembacanya. Proses apresiasi sastra semacam itu akan menghasilkan “kristal-kristal” kemanusiaan yang akan memfosil dalam khazanah batin pembaca sehingga menjadi pribadi yang beradab dan berbudaya. Ini artinya, mengebiri sastra dalam kehidupan tak jauh berbeda dengan upaya pengingkaran terhadap nilai-nilai kemuliaan dan martabat manusia itu sendiri.

Dalam konteks demikian, sesungguhnya tak ada alasan lagi untuk melakukan proses marginalisasi terhadap sastra, apalagi dalam dunia pendidikan yang notabene menjadi “agen perubahan” untuk melahirkan generasi masa depan yang cerdas, bermoral, dan religius. ***


Rujukan:
Esten, Mursal. 1990. Kesusastraan: Pengantar Teori dan Sejarah. Bandung: Angkasa.
Maman S. Mahayana. 2009. ”Sejumlah Masalah dalam Apresiasi Puisi” (http://mahayana-mahadewa.com/).
Nurgiyantoro, Burhan. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta.: Gajah Mada University Press.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
Semi, Atar. 1993. Anatomi Sastra. Jakarta: Angkasa raya
Sujiman, Panuti. 1996. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
Sumardjo, Jakob dan Saini K.M. 1997. Apresiasi Kesusasteraan. Jakarta: Gramedia.
Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia.
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1993. Teori Kesusastraan. (Terj. Melani Budianta). Jakarta: Gramedia.

Sabtu, 05 Desember 2009

Mendidik Sesuai Kecerdasan Anak



Sesungguhnya setiap anak dilahirkan cerdas. Inilah paradigma baru pendidikan yang sedang berkembang di dunia. Kenyataan ini memang berlawanan dengan persepsi yang diyakini selama ini bahwa anak cerdas berjumlah terbatas, seakan-akan mereka menempati strata tertentu. Adanya penemuan terbaru ini memang diharapkan akan mengubah pendekatan pendidikan yang selama ini terlanjur mapan.

Menurut Dr Thomas Amstrong, pakar pendidikan dari Amerika setiap anak dilahirkan dengan membawa potensi yang memungkinkan mereka untuk menjadi cerdas. Sifat yang menjadi bawaan itu antara lain : keingintahuan, daya eksplorasi terhadap lingkungan, spontanitas, vitalitas, dan fleksibilitas. Dipandang dari sudut ini maka tugas setiap orang tua dan guru hanyalah mempertahankan sifat-sifat yang mendasari kecerdasan ini agar bertahan sampai anak-anak itu tumbuh dewasa. Mengapa demikian? Karena ternyata diketahui kualitas kecerdasan ini bisa rusak karena adanya sebab tertentu.

Ironisnya pengaruh kuat yang merusak potensi kecerdasan itu ternyata datang dari lingkungan terdekat mereka : rumah dan sekolah!

Situasi rumah yang menimbulkan depresi dan keterasingan berperan memupus bakat alamiah ini. Tekanan juga bisa datang dari orang tua yang karena sebab tertentu malah menghambat kreatifitas, keingintahuan, kegembiraan dalam bermain anak-anak. Ambisi orang tua agar anak-anak mereka meraih prestasi tertentu mendorong anak-anak ini untuk tumbuh terlampau cepat melampaui usia mental mereka dan pada saat bersamaan menghilangkan kegembiraan masa kecil mereka.

Padahal para ahli mengingatkan bahwa anak belajar dari permainan mereka. Bagi anak-anak bermain bukan aktifitas remeh melainkan aktifitas yang serius terutama bagi perkembangan mereka.

Sayangnya yang terlihat di masyarakat kita justru kenyataan sebaliknya. Di usia sangat dini mereka harus kehilangan kegembiraan masa kecil mereka. Anak-anak kerap menanggung beban keinginan orang tua mereka sendiri dengan terpaksa mengikuti berbagai macam kursus: mulai kursus bahasa asing, sempoa, piano dan sebagainya. Sebenarnya mengikuti berbagai kursus itu tidak menjadi masalah asal keinginan itu datang dan atas kemauan anak itu sendiri. Prinsipnya anak-anak itu tidak kehilangan kegembiraan dalam menjalaninya dan tidak kehilangan masa bermain mereka.

Sementara itu di sekolah, perusakan potensi kecerdasan alami itu terjadi lewat kurikulum yang terlampau kaku, tidak fleksibel atau malah membebani. Situasi sekolah yang tidak menyenangkan, guru yang mengajar dengan cara yang membosankan juga ikut andil menyumbang terkuburnya potensi alami tersebut.

Bertolak dari kenyataan itulah perlu dikembangkan pendekatan pendidikan yang menjadi alternatif bagi sekolah pada umumnya. Sekolah alternatif ini haruslah dirancang atas pendekatan bahwa setiap anak itu mempunyai kecerdasannya sendiri. Lingkungan sekolah dirancang agar anak-anak tumbuh dengan kreatifitas mereka sendiri, tidak kehilangan kegembiraan masa kecil mereka, dan membuka ruang yang lebar untuk mengeksplorasi lingkungannya. Kecerdasan alami anak dirangsang lewat kegiatan sederhana seperti bercerita, permainan, kunjungan ke tempat tertentu, dan mengajukan pertanyaan kritis.

Sekolah tersebut haruslah juga menghilangkan sistem ranking. Juga tidak ada tes psikologi untuk mengukur kecerdasan seorang anak. Tes psikologi untuk mengukur IQ yang kita kenal sekarang ini jauh dari memadai untuk mengukur kemampuan otak manusia. Sistem rangking malah menciptakan pelabelan di sekolah. Ada anak pintar dan ada anak bodoh. Pendekatan pendidikan terbaru dikembangkan atas keyakinan bahwa setiap anak mempunyai kecerdasannya sendiri dengan cara yang benar-benar berbeda dengan anak lain. Karena itu dalam sistem ini upaya membanding-bandingkan antara anak satu dengan anak lainnya dihindari.

Sebagai konsekuensinya kegiatan belajar mengajar menggunakan pendekatan Multiple Intelligences yang dikembangkan oleh pakar neurosains Dr Howard Gardner. Menurut teori ini manusia mempunyai delapan macam kecerdasan sementara sistem pendidikan pada umumnya hanya mengembangkan dua kecerdasan. Kecerdasan itu adalah: kecerdasan linguistik, matematis-logis, viso-spasial, musik, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Anak didik dipetakan menurut kedelapan kecerdasan ini dan mendidik mereka dengan cara berbeda sesuai dengan tipe kecerdasan yang dimiliki masing-masing anak. Karena itu metode pengajaran yang diterapkan bisa sangat khas. Dalam mengajarkan matematika misalnya, maka cara mengajar untuk anak dengan tipe kecerdasan linguistik berbeda dengan anak bertipe kecerdasan matematis-logis dan berbeda pula untuk anak dengan tipe kecerdasan viso-spasial. Pada umumnya para pengajar akan berkeberatan jika murid-murid mereka bergerak selama pelajaran berlangsung, di sisi lain anak dengan tipe kecerdasan kinestetik yang selalu bergerak akan tersiksa jika mereka harus duduk diam selama pelajaran berlangsung, padahal anak dengan tipe ini akan sangat cepat menyerap pelajaran justru dengan membiarkannya bergerak. Pola inilah yang dikenal dengan mendidik sesuai kecerdasan anak.

Para pendidik di sekolah seperti ini mempunyai keyakinan bahwa tiap anak mempunyai kecepatan dan waktu tersendiri dalam mempelajari atau menguasai sesuatu. Jadi tidak perlu memaksa anak yang belum bisa membaca untuk bisa membaca misalnya. Sebab jika tiba saatnya anak ini akan mampu membaca dengan sendirinya bahkan kemampuannya bisa melampaui anak yang mampu membaca di usia yang lebih dini. Sangat penting untuk disadari adalah menciptakan kondisi yang mampu membuka gerbang kecintaan anak-anak akan pembelajaran. Dengan cara itu diharapkan kita akan mewariskan generasi pembelajar yang mampu untuk belajar dan mengembangkan diri mereka sendiri sepanjang hidup mereka. Dan hal itu bisa dicapai dengan cara menghindarkan setiap kondisi yang membuat mereka justru berhenti atau bahkan membenci proses pembelajaran itu sendiri.

Inikah Gaya Belajar Anda?

Definisi Gaya: Karakteristik cara, sikap, dan perilaku yang disenanginya

Gaya Anda

Anda memiliki gaya dalam berbusana, berbicara, dan juga gaya hidup. Dan Anda juga memiliki gaya dalam belajar. Lihatlah kamar Anda dan Anda akan menemukan gaya hidup Anda, lihatlah kamar ganti Anda dan Anda akan melihat gaya berpakaian Anda, lihatlah di cermin, gaya rambut Anda. Tetapi tidak demikian dengan gaya belajar Anda. Mungkin tidak terpikir oleh Anda, bagaimana Anda belajar, bagaimana cara belajar yang Anda senangi.

Bila ingin menjadi pembelajar yang efektif, Anda harus memahami fungsi belajar. Pernyataan-pernyataan berikut ini akan membantu menentukan bagaimana cara belajar yang terbaik bagi Anda dan bagaimana mengendalikannya selama belajar. Pernyataan-pernyataan ini juga akan membantu Anda memahami mengapa sesuatu bisa membuat belajar sebagai kegiatan yang menggairahkan, sedangkan sesuatu yang lainnya menjadikan belajar sebagai kegiatan yang membosankan dan kurang menarik. Hal-hal tersebut akan membantu Anda menyusun strategi yang dapat meningkatkan efektivitas gaya belajar Anda.

Lengkapilah daftar pernyataan-pernyataan ini, dan bacalah interpretasinya pada halaman berikutnya. Pernyataan-pernyataan ini disusun sesuai keperluan belajar, bukan merupakan evaluasi akademik dan tidak bisa menunjukkan gaya belajar Anda secara komplet. Tetapi bila Anda gabungkan dengan pengalaman dan evaluasi diri Anda, Anda akan memperoleh gambaran tentang Anda sendiri.

***********************************************************************************BAGAIMANAKAH GAYA BELAJAR ANDA?

Bacalah setiap pernyataan dan berilah tanda () di bawah ya atau tidak sesuai dengan pendapat Anda.

YA TIDAK

Secara mudah, saya bisa belajar dari kuliah, seminar, radio, atau kaset, dan video _____ _____

Saya selalu menyelesaikan tugas baru dengan cara coba-coba, dan hanya dengan sedikit bantuan saja _____ _____

Saya mudah belajar dari buku atau tulisan-tulisan _____ _____

Berikanlah gambarannya, dan saya akan mudah menyelesaikan masalah kecil yang dihadapi _____ _____

Agar benar-benar memahami, saya perlu penjelasan secara lisan _____ _____

Saya tidak pernah melihat petunjuk yang disediakan bila merakit sesuatu yang telah saya beli _____ _____

Saya banyak belajar dari diskusi dan debat _____ _____

Sebelum melakukannya sendiri, paling senang, saya melihat dulu, orang lain mengerjakannya _____ _____

Dalam belajar, yang paling saya senangi adalah membongkar sesuatu kemudian merakitnya kembali _____ _____

Saya dapat mengingat seluruh pembicaraan di kelas maupun dalam rapat tanpa membuat catatan _____ _____

Pelajaran di sekolah yang paling saya sukai adalah yang banyak aktivitas fisiknya _____ _____

Diagram dan gambar banyak membantu saya memahami konsep _____ _____

JAWABAN

Walaupun bukan merupakan evaluasi akademik, tetapi evaluasi tersebut di atas dapat memberikan gambaran bagaimana cara Anda belajar.

Jawaban ya pada pernyataan 1, 5, 7, dan 10 menggambarkan bahwa Anda belajar secara baik dari mendengarkan: Anda adalah pendengar yang baik atau Pembelajar Pendengar / Auditory Learner.

Jawaban ya pada pernyataan 3, 4, 8, dan 12 menggambarkan bahwa Anda belajar secara baik dari membaca, melihat, dan mempelajari diagram: Anda adalah Pembelajar Visual / Visual Learner.

Jawaban ya pada pernyataan 2, 6, 9, dan 11 menggambarkan bahwa Anda belajar secara baik dari segi fisik: Anda adalah pembelajar Kinestetik / Kinesthetic Learner.

Catatan: Anda dimungkinkan memiliki skor yang kuat pada lebih dari satu gaya belajar.

Meskipun hasil kuesioner semacam ini tidak bisa memberikan gambaran secara akurat tentang gaya belajar Anda, tetapi bisa memberikan wawasan tentang bagaimana proses belajar Anda. Hasil ini akan membantu memberikan gambaran tent ang cara dan jenis instruktur yang cocok dengan gaya belajar Anda. Maksimalkan kelebihan dan minimalkan kelemahan Anda agar menjadi pembelajar yang efektif. Dengan memahami gaya Anda, Anda dapat menentukan cara belajar yang paling sesuai dengan kelebihan Anda, sehingga bisa beradaptasi lebih baik terhadap situasi yang Anda hadapi.

Setiap orang memiliki gaya masing-masing. Ralp Waldo Emerson

***********************************************************************************Bagaimana Gaya Belajar Anda?

Visual, Pendengar, atau kinestetik. Ketiga kata ini menjelaskan, cara, penerimaan pengetahuan baru oleh otak. Hasil riset menunjukkan bahwa orang cenderung memiliki satu atau dua gaya yang dominan.

Anak-anak walaupun usianya masih sangat muda, sering kali sudah menunjukkan kecenderungan gaya belajarnya. Sebagian anak-anak menunjukkan minat yang kuat pada warna dan bentuk, sebagai Pembelajar Visual. Sebagian lagi menunjukkan kemampuan berbicara dan memahami bahasa dengan cepat, sesuai dengan karakteristik Pembelajar Pendengar. Sebagian lainnya menunjukkan kecepatannya belajar berjalan, melempar bola, atau menyusun permainan acak (puzzle), sesuai dengan karakteristik Pembelajar Kinestetik. Karakteristik-karakteristik ini menjadi gaya belajar yang unik, masing-masing dengan kebaikan dan kelemahannya.

Pembelajar Visual

Orang-orang yang memiliki gaya belajar sebagai Pembelajar Visual, proses belajarnya bertumpu pada matanya (melihat). Mereka melihat dan memperhatikan bentuk, mereka menghafalkan sesuatu dengan cara melihat dari yang tersimpan di matanya. Pembelajar Visual sangat senang dengan peta, grafik, diagram, dan mereka senang membaca buku. Mereka akan lebih memahami, apabila kepadanya, ditunjukkan (secara visual) hal-hal yang harus dkerjakannya. Mereka menyenangi situasi yang banyak memperlihatkan sesuatu yang bisa dibaca dengan cara melihat.

Mendengarkan kuliah atau diskusi, bagi Pembelajar Visual, merupakan kegiatan yang sering kali membosankan. Penjelasan yang disampaikan secara lisan hanya “masuk telinga kanan dan keluar lagi melalui telinga satunya”. Mereka akan bosan bila menerima penugasan tanpa disertai demonstrasi contoh. Terdapat beberapa strategi yang bisa dimanfaatkan oleh Pembelajar Visual.

Bila Anda adalah Pembelajar Visual, strateginya adalah:

  • Bacalah bahan-bahan bacaan yang disediakan sebelum memasuki ruang kelas atau rapat, sehingga Anda memahami pembicaraan yang dilakukan.
  • Mintalah materi tertulis, misalnya diagram atau grafik.
  • Gunakan alat peraga video atau komputer agar kepekaan visual Anda terstimulasi.
  • Apabila bosan dengan penjelasan lisan, berkatalah: Dapatkah Anda memperlihatkan kepada saya ……”
  • Jangan memaksa diri untuk mengubah gaya belajar, carilah tempat atau suasana yang sesuai dengan gaya Anda.
  • Buat catatan. Catatan akan membantu mengingat hal-hal penting yang telah Anda dengar.
  • Gambarlah diagram konsep yang Anda pelajari; bagi Anda satu gambar nilainya sama dengan ribuan kata-kata.

Pembelajar Pendengar

Orang-orang yang memiliki gaya Pembelajar Pendengar mengandalkan proses belajarnya melalui telinga (pendengaran). Mereka memperhatikan sangat baik pada hal-hal yang didengar: mereka mengingat sesuatu dengan cara melihat dari yang tersimpan di telinganya. Pada umumnya, Pembelajar Pendengar senang mendengarkan ceramah, diskusi, berita di radio, kaset, mereka senang belajar dengan cara mendengarkan, dan berinteraksi dengan orang lain. Mereka memiliki kecenderungan lebih memahami tugas-tugasnya bila penjelasannya diberikan secara lisan. Mereka senang mempelajari sesuatu yang memberikan fasilitas untuk bertanya jawab. Berita dan musik dari radio bisa menstimulasi mereka.

Bagi Pembelajar Pendengar, kadang-kadang, membaca merupakan kegiatan yang membosankan. Diagram dan penjelasan tertulis tanpa penjelasan lisan sering membuatnya bingung. Penugasan akan menyebabkannya frustrasi bila tidak dilengkapi dengan penjelasan lisan.

Bila Anda seorang Pembelajar Pendengar, strategi yang sebaiknya dilakukan adalah:

  • Bila mungkin, dengarkan lebih dulu ceramahnya atau kaset dengan subjek yang sama sebelum membaca materi.
  • Bertanyalah tentang penjelasan suatu tulisan, diagram, maupun grafik.
  • Gunakan peralatan audio dan computer yang menggunakan suara-suara untuk menstimulasi kepekaan pendengaran.
  • Apabila bosan dengan melihat-lihat diagram, katakanlah: Tolong jelaskan kepada saya tentang ...
  • Manfaatkan musik klasik atau jazz untuk menenangkan diri karena terlalu banyak menyerap pelajaran. Jangan mendengarkan lagu-lagu, berita dari radio, atau lainnya yang dapat mengganggu konsentrasi bila sedang membaca.
  • Buatlah catatan, untuk membantu mengingat sesuatu yang telah Anda dengar/pelajari.
  • Carilah teman untuk mendiskusikan konsep baru. Berbicara dan mendengarkan akan mampu membantu mengintegrasikan ide baru.

Pembelajar Kinestetik

Orang-orang yang memiliki gaya Pembelajar Kinestetik mengandalkan proses belajar melalui cirri-ciri fisik. Mereka memperhatikan bagaimana cirri-ciri fisik, lembut, kasar, bentuk unik, buram, mengkilat, dsb., bahasa tubuh, dan mereka juga mengingat sesuatu dengan menuliskannya berkali-kali atau mengingat bentuk tulisan/gambar. Pada umumnya, Pembelajar Kinestetik menyukai laboratorium, aktivitas fisik, dan alat-alat peraga; dan juga mencoba-coba. Mereka memiliki kecenderungan lebih memahami tugas-tugasnya bila mereka bisa mencobanya.

Bagi Pembelajar Kinestetik, kadang-kadang, membaca dan mendengarkan merupakan kegiatan yang membosankan. Instruksi-instruksi yang diberikan secara tertulis maupun lisan sering kali sangat mudah dilupakannya. Bila di kelas mendengarkan ceramah, umumnya, tidak bisa konsentrasi, dan, anak-anak yang memiliki gaya belajar ini, biasanya, akan mengganggu ketenangan karena tidak bisa duduk dengan sabar. Mereka akan frustrasi bila harus diam saja dalam waktu yang relatif lama.

Bila Anda seorang Pembelajar Kinestetik, strateginya adalah:

  • Carilah situasi belajar atau karir yang memfasilitasi aktivitas fisik.
  • Buatlah diagram untuk mengilustrasikan konsep yang abstrak.
  • Carilah tempat belajar yang bisa memfasilitasi aktivitas fisik, misalnya dekat dengan sarana olah raga. Ä Bila bosan, berkatalah: “Apakah saya diizinkan untuk mencoba ….”.
  • Cobalah sesekali berdiri atau berjalan-jalan sedikit, bila Anda sedang membaca atau menulis.
  • Buatlah catatan. Gerakan menulis akan membuat suasana berbeda daripada hanya mendengar. Catatan ini sekaligus dapat dimanfaatkan untuk mengingat kembali.

Successful Lifelong Learning Robert Steinbach, PPM Publisher

Bagaimanakah dengan gaya belajar Anda?

Gaya Belajar Anda Visual, Auditori, atau Kinestetik ?


Dalam buku Quantum Learning dipaparkan 3 modalitas belajar seseorang yaitu :“modalitas visual, auditori atau kinestetik (V-A-K). Walaupun masing2 dari kita belajar dengan menggunakan ketiga modlaitas ini pada tahapan tertentu, kebanyakan orang lebih cenderung pada salah satu di antara ketiganya”.

1. Visual (belajar dengan cara melihat)

Lirikan keatas bila berbicara, berbicara dengan cepat. Bagi siswa yang bergaya belajar visual, yang memegang peranan penting adalah mata / penglihatan ( visual ), dalam hal ini metode pengajaran yang digunakan guru sebaiknya lebih banyak / dititikberatkan pada peragaan / media, ajak mereka ke obyek-obyek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut, atau dengan cara menunjukkan alat peraganya langsung pada siswa atau menggambarkannya di papan tulis. Anak yang mempunyai gaya belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video. Di dalam kelas, anak visual lebih suka mencatat sampai detil-detilnya untuk mendapatkan informasi.

Ciri-ciri gaya belajar visual :

² Bicara agak cepat

² Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi

² Tidak mudah terganggu oleh keributan

² Mengingat yang dilihat, dari pada yang didengar

² Lebih suka membaca dari pada dibacakan

² Pembaca cepat dan tekun

² Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata

² Lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato

² Lebih suka musik dari pada seni

² Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya

Strategi untuk mempermudah proses belajar anak visual :

1. Gunakan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta.

2. Gunakan warna untuk menghilite hal-hal penting.

3. Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi.

4. Gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video).

5. Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar.

2. Auditori (belajar dengan cara mendengar)

Lirikan kekiri/kekanan mendatar bila berbicara, berbicara sedang2 saja.Siswa yang bertipe auditori mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga ( alat pendengarannya ), untuk itu maka guru sebaiknya harus memperhatikan siswanya hingga ke alat pendengarannya. Anak yang mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru katakan. Anak auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi anak auditori mendengarkannya. Anak-anak seperi ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset.

Ciri-ciri gaya belajar auditori :

² Saat bekerja suka bicaa kepada diri sendiri

² Penampilan rapi

² Mudah terganggu oleh keributan

² Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat

² Senang membaca dengan keras dan mendengarkan

² Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca

² Biasanya ia pembicara yang fasih

² Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya

² Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik

² Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan Visual

² Berbicara dalam irama yang terpola

² Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara

Strategi untuk mempermudah proses belajar anak auditori :

1. Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas maupun di dalam keluarga.

2. Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras.

3. Gunakan musik untuk mengajarkan anak.

4. Diskusikan ide dengan anak secara verbal.

5. Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan dorong dia untuk mendengarkannya sebelum tidur.

3. Kinestetik (belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh)

Lirikan kebawah bila berbicara, berbicara lebih lambat. Anak yang mempunyai gaya belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Siswa yang bergaya belajar ini belajarnya melalui gerak dan sentuhan.

Ciri-ciri gaya belajar kinestetik :

² Berbicara perlahan

² Penampilan rapi

² Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan

² Belajar melalui memanipulasi dan praktek

² Menghafal dengan cara berjalan dan melihat

² Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca

² Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita

² Menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca

² Menyukai permainan yang menyibukkan

² Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada di tempat itu

² Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi

Strategi untuk mempermudah proses belajar anak kinestetik:

1. Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam.

2. Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya (contohnya: ajak dia baca sambil bersepeda, gunakan obyek sesungguhnya untuk belajar konsep baru).

3. Izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar.

4. Gunakan warna terang untuk menghilite hal-hal penting dalam bacaan.

5. Izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik.

Gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar anak. Jika diberikan strategi yang sesuai dengan gaya belajarnya, anak dapat berkembang dengan lebih baik. Gaya belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar. Artinya, setiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda. Bagaimana dengan gaya belajar Anda?


Menerapkan Sikap A.S.K. (Aktif Berburu Pengetahuan/ Actively Seek Knowledge)

Definisi sikap: Tabiat, kecenderungan atau orientasi



Anak-anak adalah pembelajar yang agresif, yang selalu menyerap informasi, baik melalui maupun tanpa guru. Dalam buku ini, cara belajar seperti ini disebut sikap A.S.K. (aktif berburu pengetahuan / Actively Seek Knowledge).

Anak-anak, terutama yang berusia di bawah lima tahun, adalah pembelajar yang aktif. Mereka melakukan segalanya: menyelidiki, menjadi bagian dari, mencoba, mengganti, dan gagal. Mengapa? adalah pertanyaan yang selalu diajukan. Mereka tidak pernah menunggu motivasi, penghargaan, bahkan pengajaran dari orang lain. Anak-anak belajar berjalan dan mengucapkan kata-kata dengan sedikit petunjuk yang diberikan oleh orang lain. Anak-anak yang berada di dalam rumah yang menggunakan dua bahasa, belajar kedua bahasa tersebut, secara spontan, tanpa pedoman-pedoman, tanpa berlatih khusus, dan tanpa ujian. Mereka belajar tanpa sadar dan tidak takut gagal.

Sayangnya, sekolah-sekolah formal yang tradisional menjadikan para pembelajar berperan pasif. Para pelajar menunggu gurunya memberikan instruksi tentang materi pelajaran, kapan harus dipelajari, dan bagaimana cara belajarnya. Banyak sekali kegembiraan belajar hilang selama proses ini. Perhatikan murid-murid taman kanak-kanak di dalam kelas. Perhatikan gairah dan gerakan mereka; dengarkanlah pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya polos, mencengangkan. Kemudian perhatikan kelas yang penuh dengan pelajar dewasa. Mereka menunggu instruksi-instruksi. Penuh kekhawatiran tentang hasil belajarnya dan juga takut dikatakan bodoh.

Orang dewasa sesekali saja seperti pembelajar anak-anak. Bila menemukan hobi baru, hobi tersebut akan ditekuninya dengan senang hati. Segala sesuatu yang berkaitan dengan hobi barunya, dibacanya, dicobanya cara-cara baru, dan bertanya ke sana ke mari. Mencoba, gagal, dan mencoba lagi, tidak bosan-bosan dilakukannya. Keaktifan belajar seperti inilah yang sesungguhnya merupakan kunci keberhasilan belajar.

Bagaimana Anda mulai menjadi pembelajar sepanjang masa?

Sebenarnya, Anda telah memulainya. Tanpa memperhatikan apakah ide dari buku ini diimplementasikan atau tidak, sebenarnya Anda selalu belajar, sepanjang masa, kecuali bila Anda sengaja mengunci diri, di dalam kamar yang tertutup rapat dan terkunci, serta tidak berkomunikasi dengan dunia luar/orang lain. Pertanyaannya adalah: seberapa besar efektif dan konsistennya Anda? Apakah Anda memburu kesempatan belajar di sekitar Anda dan melaksanakannya dengan antusias, dan sikap proaktif? Buku ini dimaksudkan untuk membantu meningkatkan dan memperbesar motivasi dan kemampuan belajar Anda; membantu menjadikan belajar sebagai kegiatan yang diminati dan bagian dari aktivitas harian Anda.

Sikap Pembelajar Sepanjang Masa

Sikap, akan mengawali keberhasilan belajar Anda. Agar menjadi pembelajar sepanjang masa yang efektif, sebaiknya Anda:

  • Memanfaatkan hari-hari Anda sebagai kesempatan belajar
  • Menyadari bahwa meningkatkan keterampilan kerja adalah yang terbaik bagi Anda maupun perusahaan
  • Memandang kesalahan sebagai tantangan belajar
  • Menjadikan pengalaman yang diperoleh setiap hari untuk menambah pengetahuan, wawasan, dan keterampilan Anda

A.S.K.

Actively Seek Knowledge / Aktif Memburu Pengetahuan

Always Seek Knowledge / Selalu Memburu Pengetahuan

Asertively Seek Knowledge / Asertif Memburu Pengetahuan

Aggressively Seek Knowledge / Agresif Memburu Pengetahuan

———————————————————————————————-

Bersiaplah menjadikan sikap A.S.K. sebagai sikap dalam sisa hidup Anda.

Successful Lifelong Learning Robert Steinbach, PPM Publisher

Bagaimana Merencanakan Belajar

Apakah yang ingin Anda pelajari? Pertanyaan ini sangat penting. Sekarang, kita benar-benar berada dalam dunia yang penuh informasi. Keinginan kita untuk mempelajari bermacam-macam hal mengharuskan kita menentukan prioritas yang ingin kita ketahui. Dari mana sebaiknya Anda memulainya? Sebagai langkah pertama, jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini.

Mengapa Anda tertarik belajar lagi?

Apakah agar mendapatkan pekerjaan yang lebih baik? Apakah ingin mengembangkan karir? Apakah ingin meningkatkan kehidupan pribadi Anda? Apakah hanya sekedar ingin belajar saja?

Keterampilan atau pengetahuan apakah yang ingin Anda pelajari?

Apakah yang diperlukan agar keinginan Anda tercapai? Untuk menjawab pertanyaan ini, janganlah Anda memikirkan gelar atau pelatihan, tetapi pikirkanlah subjek/materi yang ingin dipelajari.

Bagaimana cara belajar Anda?

Bagaimana cara belajar yang biasa Anda lakukan? Untuk hal ini, Anda akan banyak mengetahui berbagai gaya belajar pada Taktik 3. Apakah Anda memiliki cukup waktu untuk sekolah lagi? Bila tidak, adakah cara lainnya? Jelaskan.

Di mana Anda akan memulainya?

Bagaimana tingkat keterampilan Anda saat ini? Apakah Anda perlu mempelajari dasar-dasarnya dulu sebelum Anda mempelajari sesuatu yang sangat menarik bagi Anda? Maksudnya, jangan mulai belajar Calculus bila Anda tidak pernah belajar Aljabar.

Seberapa banyak yang ingin Anda ketahui?

Apakah Anda memerlukan gelar dari sekolah Komputer Grafis, atau sebenarnya, Anda hanya ingin belajar agar presentasi yang akan disampaikan bagus kualitasnya? Apakah Anda memerlukan gelar dari sekolah Komunikasi atau Anda hanya ingin belajar agar lebih asertif?

Apakah Anda berniat menjadikan belajar sebagai suatu prioritas?

Banyak sekali orang yang berniat menjadi pembelajar seumur hidupnya, tetapi kenyataannya tidak pernah melakukannya. Keinginan-keinginan mempelajari sesuatu yang menarik selalu melintas di angan-angan, tetapi mereka selalu terlambat untuk menindaklanjutinya, atau tidak sempat belajar secara mandiri dengan kaset yang telah dibelinya. Bila belajar menjadi suatu prioritas, perlakukanlah sebagaimana mestinya. Langkah-langkah berikut ini akan membantu Anda memulainya.

1. Tetapkan sasaran.

Pikirkan baik-baik tentang hal-hal yang ingin Anda ketahui lebih dalam atau lebih lanjut. Tuliskan sasaran yang ingin dicapai. Tetapkan yang ingin Anda pelajari, dan juga waktunya.

2. Kembangkan narasumber yang dimungkinkan.

Siapa yang akan menjadi narasumber tentang hal-hal yang ingin Anda ketahui? Materi-materi apa saja yang bisa Anda peroleh? Apakah merupakan pelatihan secara mandiri? Apakah melalui website? Tidak jarang, Anda sudah bisa mendapatkan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini melalui telepon atau perpustakaan di wilayah Anda.

3. Masukkan kegiatan belajar di dalam aktivitas sehari-hari.

Bila Anda termasuk orang yang tidak selalu membuat rencana harian Anda, sekarang mulailah. Luangkan waktu 10 menit sebelum memulai hari Anda atau sebelum tidur di malam sebelumnya. Pikirkan tentang hal-hal yang ingin dilakukan sepanjang hari ini atau esok hari, termasuk yang ingin dicapai dalam sasaran belajar dan pengembangan diri Anda. Buatlah daftar kegiatan, termasuk aktivitas belajar yang akan Anda lakukan.

4. Tetapkan waktu belajar secara rutin.

Rahasia keberhasilan belajar adalah upaya yang konsisten. Berlatih selama 30 menit setiap hari, dan dilakukan hampir setiap hari, jauh lebih efektif daripada melakukannya beberapa jam secara terus-menerus hanya setiap akhir minggu saja.

5. Buatlah daftar pustaka topik-topik serta buku-buku yang telah dimiliki.

Banyak di antara kita yang dikelilingi oleh buku-buku yang dalam terbaca, maupun kaset-kaset yang belum pernah diputar dan didengarkan, serta proyek/pekerjaan setengah jadi yang tidak pernah diselesaikan. Anda tidak harus selalu mengeluarkan biaya yang besar untuk mulai belajar secara mandiri. Bahkan kadang-kadang materi yang ingin Anda ketahui pun, sebenarnya sudah dimiliki. Perpustakaan adalah sumber informasi yang hebat di mana Anda bisa mendapatkan buku-buku, majalah-majalah, video, kaset, maupun akses internet.

6. Tetapkan sasaran yang cukup menantang, tetapi jangan terlalu di awang-awang sehingga sulit untuk mencapainya.

Tugas-tugas yang terlalu mudah atau terlalu sulit cenderung kurang memotivasi. Agar tetap termotivasi, canangkan sasaran yang cukup menantang, tetapi terjangkau.

7. Tetapkan sasaran-sasaran kecil di antaranya.

Bila Anda ingin lancar berbicara dalam bahasa Spanyol dalam waktu lima tahun, tetapkan sasaran jangka pendeknya. Misalnya dengan makan malam di sebuah restoran Meksiko di Spanyol pada akhir bulan depan. Tetapkan juga sasaran jangka pendek lainnya, misalnya dapat mengerti percakapan sehari-hari dalam bahasa Spanyol pada akhir tahun. Bila Anda dapat mencapai sasaran jangka pendek, jalan menuju tercapainya sasaran jangka panjang Anda sudah di depan Anda.


Successful Lifelong Learning Robert Steinbach, PPM Publisher

Mengenali Kecerdasan Anak


Sesungguhnya setiap anak dilahirkan cerdas. Inilah paradigma baru pendidikan yang sedang berkembang di dunia. Kenyataan ini memang berlawanan dengan persepsi yang diyakini selama ini bahwa anak cerdas berjumlah terbatas, seakan-akan mereka menempati strata tertentu. Adanya penemuan terbaru ini memang diharapkan akan mengubah pendekatan pendidikan yang selama ini terlanjur mapan.

Menurut Dr Thomas Amstrong, pakar pendidikan dari Amerika setiap anak dilahirkan dengan membawa potensi yang memungkinkan mereka untuk menjadi cerdas. Sifat yang menjadi bawaan itu antara lain : keingintahuan, daya eksplorasi terhadap lingkungan, spontanitas, vitalitas, dan fleksibilitas. Dipandang dari sudut ini maka tugas setiap orang tua dan guru hanyalah mempertahankan sifat-sifat yang mendasari kecerdasan ini agar bertahan sampai anak-anak itu tumbuh dewasa. Mengapa demikian? Karena ternyata diketahui kualitas kecerdasan ini bisa rusak karena adanya sebab tertentu.

Ironisnya pengaruh kuat yang merusak potensi kecerdasan itu ternyata datang dari lingkungan terdekat mereka : rumah dan sekolah!

Situasi rumah yang menimbulkan depresi dan keterasingan berperan memupus bakat alamiah ini. Tekanan juga bisa datang dari orang tua yang karena sebab tertentu malah menghambat kreatifitas, keingintahuan, kegembiraan dalam bermain anak-anak. Ambisi orang tua agar anak-anak mereka meraih prestasi tertentu mendorong anak-anak ini untuk tumbuh terlampau cepat melampaui usia mental mereka dan pada saat bersamaan menghilangkan kegembiraan masa kecil mereka.

Padahal para ahli mengingatkan bahwa anak belajar dari permainan mereka. Bagi anak-anak bermain bukan aktifitas remeh melainkan aktifitas yang serius terutama bagi perkembangan mereka.

Sayangnya yang terlihat di masyarakat kita justru kenyataan sebaliknya. Di usia sangat dini mereka harus kehilangan kegembiraan masa kecil mereka. Anak-anak kerap menanggung beban keinginan orang tua mereka sendiri dengan terpaksa mengikuti berbagai macam kursus: mulai kursus bahasa asing, sempoa, piano dan sebagainya. Sebenarnya mengikuti berbagai kursus itu tidak menjadi masalah asal keinginan itu datang dan atas kemauan anak itu sendiri. Prinsipnya anak-anak itu tidak kehilangan kegembiraan dalam menjalaninya dan tidak kehilangan masa bermain mereka.

Sementara itu di sekolah, perusakan potensi kecerdasan alami itu terjadi lewat kurikulum yang terlampau kaku, tidak fleksibel atau malah membebani. Situasi sekolah yang tidak menyenangkan, guru yang mengajar dengan cara yang membosankan juga ikut andil menyumbang terkuburnya potensi alami tersebut.

Bertolak dari kenyataan itulah perlu dikembangkan pendekatan pendidikan yang menjadi alternatif bagi sekolah pada umumnya. Sekolah alternatif ini haruslah dirancang atas pendekatan bahwa setiap anak itu mempunyai kecerdasannya sendiri. Lingkungan sekolah dirancang agar anak-anak tumbuh dengan kreatifitas mereka sendiri, tidak kehilangan kegembiraan masa kecil mereka, dan membuka ruang yang lebar untuk mengeksplorasi lingkungannya. Kecerdasan alami anak dirangsang lewat kegiatan sederhana seperti bercerita, permainan, kunjungan ke tempat tertentu, dan mengajukan pertanyaan kritis.

Sekolah tersebut haruslah juga menghilangkan sistem ranking. Juga tidak ada tes psikologi untuk mengukur kecerdasan seorang anak. Tes psikologi untuk mengukur IQ yang kita kenal sekarang ini jauh dari memadai untuk mengukur kemampuan otak manusia. Sistem rangking malah menciptakan pelabelan di sekolah. Ada anak pintar dan ada anak bodoh. Pendekatan pendidikan terbaru dikembangkan atas keyakinan bahwa setiap anak mempunyai kecerdasannya sendiri dengan cara yang benar-benar berbeda dengan anak lain. Karena itu dalam sistem ini upaya membanding-bandingkan antara anak satu dengan anak lainnya dihindari.

Sebagai konsekuensinya kegiatan belajar mengajar menggunakan pendekatan Multiple Intelligences yang dikembangkan oleh pakar neurosains Dr Howard Gardner. Menurut teori ini manusia mempunyai delapan macam kecerdasan sementara sistem pendidikan pada umumnya hanya mengembangkan dua kecerdasan. Kecerdasan itu adalah: kecerdasan linguistik, matematis-logis, viso-spasial, musik, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Anak didik dipetakan menurut kedelapan kecerdasan ini dan mendidik mereka dengan cara berbeda sesuai dengan tipe kecerdasan yang dimiliki masing-masing anak. Karena itu metode pengajaran yang diterapkan bisa sangat khas. Dalam mengajarkan matematika misalnya, maka cara mengajar untuk anak dengan tipe kecerdasan linguistik berbeda dengan anak bertipe kecerdasan matematis-logis dan berbeda pula untuk anak dengan tipe kecerdasan viso-spasial. Pada umumnya para pengajar akan berkeberatan jika murid-murid mereka bergerak selama pelajaran berlangsung, di sisi lain anak dengan tipe kecerdasan kinestetik yang selalu bergerak akan tersiksa jika mereka harus duduk diam selama pelajaran berlangsung, padahal anak dengan tipe ini akan sangat cepat menyerap pelajaran justru dengan membiarkannya bergerak. Pola inilah yang dikenal dengan mendidik sesuai kecerdasan anak.

Para pendidik di sekolah seperti ini mempunyai keyakinan bahwa tiap anak mempunyai kecepatan dan waktu tersendiri dalam mempelajari atau menguasai sesuatu. Jadi tidak perlu memaksa anak yang belum bisa membaca untuk bisa membaca misalnya. Sebab jika tiba saatnya anak ini akan mampu membaca dengan sendirinya bahkan kemampuannya bisa melampaui anak yang mampu membaca di usia yang lebih dini. Sangat penting untuk disadari adalah menciptakan kondisi yang mampu membuka gerbang kecintaan anak-anak akan pembelajaran. Dengan cara itu diharapkan kita akan mewariskan generasi pembelajar yang mampu untuk belajar dan mengembangkan diri mereka sendiri sepanjang hidup mereka. Dan hal itu bisa dicapai dengan cara menghindarkan setiap kondisi yang membuat mereka justru berhenti atau bahkan membenci proses pembelajaran itu sendiri.


Rabu, 02 Desember 2009

Pembelajaran Sastra di Sekolah

Sastrawan Taufik Ismail dikenal sangat gigih memperjuangkan kebangkitan pembelajaran sastra dan menulis di sekolah-sekolah. Menurutnya, kemampuan sastra siswa sekolah menengah di Indonesia jauh tertinggal dibandingkan 13 negara yang pernah dikunjunginya, yang mewajibkan siswa-siswinya membaca dan mendiskusikan 5 sampai 32 karya-karya sastra per tahun—sebuah situasi yang sudah lama hilang di sekolah kita.

Keprihatinan sastrawan terkenal tersebut bukanlah hal yang baru. Hal ini amat mendesak diatasi karena sastra adalah kendaraan yang efektif buat mempromosikan intelektualitas, kebajikan, moralitas dan kearifan. Sejarah menuturkan secara fasih bahwa negara-negara maju dan industri, seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman dan Prancis, telah lama menjadikan sastra sebagai unsur tak terpisahkan dalam pengembangan kepribadian dan pembangunan bangsa. Tatkala sistem pendidikan kontemporer gagal menerangi generasi muda dengan nilai-nilai religius dan moral, sastra sepatutnya perlu dilihat sebagai jalur alternatif.

Sastra, sebagaimana dirujuk di atas, adalah model pengalaman khusus yang direpresentasikan oleh teks dan diikuti oleh standar sastra yang mapan. Ia memunculkan jenis hubungan tertentu antara pembaca dan teks. Oleh karena itu, ia membutuhkan semacam proses pembacaan tertentu pula. Novel Siti Nurbaya nya Marah Rusli, misalnya, mewakili segenap pengalaman pengarang; kognitif, afektif dan psikomotorik. Seluruh pengalaman tersebut berwujud sejarah naratif dijumpai bukan hanya dalam novel ini tapi juga dalam bentuk-bentuk tulisan lainnya, semisal riwayat sejarah dan catatan ilmiah maupun kehidupan sosial secara umum.

Satu asumsi keliru di kalangan siswa maupun masyarakat secara umum adalah: Kenapa harus repot-repot membaca novel, cerpen, puisi, dan drama padahal pengalaman itu semua bisa ditemukan dan dipelajari dalam karya-karya tulis umum? Salah satu pekerjaan melelahkan yang dihadapi oleh para guru adalah bagaimana merubah “prilaku non-sastra” menjadi “prilaku sastra” di kalangan

siswa dan membekali mereka dengan kecakapan membaca sastra. Kekeliruan lain adalah membiarkan pembelajaran sastra kepada guru apapun. Di kebanyakan sekolah pembelajaran sastra malah ‘jatuh’ di tangan guru-guru yang tidak profesional. Sudah menjadi rahasia publik bahwa sistem sekolah kita ditandai oleh fenomenaprofessional mismatches demikian.

Semenjak dini, sungguh esensial untuk mendekati sastra sebagai karya-karya tulis terbaik yang mengandung nilai-nilai, pemikiran, masalah dan konflik masyarakat—keseluruhan jalan hidup masyarakat. Secara kasar, sastra adalah sesuatu yang bernilai dan enak untuk dikatakan. Sastra merupakan sebuah unsur kebudayaan manusia yang monumental. Tak salah dikatakan bahwa di mana ada pendidikan di sana ada kajian sastra.

Sastra perlu dibaca lewat model pembacaan sosial dan psikologis. Dalam konteks sosial dan budaya, pembaca perlu mengembangkan prilaku atau sikap bahwa membaca sastra akan meningkatkan pemahaman terhadap masalah-masalah kemanusiaan. Adapun secara psikologis, pembaca harus siap untuk menyerap nlai-nilai estetik terhadap karya-karya sastra. Sastra bukanlah sekadar bacaan tapi sebuah bacaan estetik.

Bacaan estetik mensyaratkan bacaan non-estetik dan perhatian penuh pada apa yang dialami, dipikirkan dan dirasakan oleh pembaca. Upaya-upaya estetika psikologis ini didorong dan dipengaruhi oleh ciri-ciri tekstual, seperti bunyi, ritme, metafor, simile, asosiasi dan pilihan kata. Secara sederhana, mengajarkan bagaimana mengapresiasi sastra diyakini bakal memungkinkan atau memberikan kesempatan kepada pembaca untuk mendapatkan kekayaan nuansa pengalaman, pikiran dan perasaan yang“dipancarkan” oleh sebuah teks.

Lawan dari bacaan estetik adalah bacaan efferent (berasal dari Bahasa Latin yang berarti ‘mengangkut’), yakni bacaan non-sastra di mana aspek-aspek estetiknya sudah hilang, “dibawa jauh” atau “diangkut”. Para pembaca yang tidak ahli lazimnya menggunakan strategi membaca efferent tatkala membaca teks-teks nonsastra seperti surat kabar, majalah atau buku teks. Bagi pembaca awam seperti ini, baik kesadaran estetik maupun apresiasi terhadap nilai-nilai sastra nyaris tidak terbentuk. Dengan arti kata, mengajarkan sastra secara benar sama halnya dengan menekankan estetika dan mengurangi kecenderungan efferent.

Berdasarkan pokok-pokok argumen di atas, menjadi sebuah pertanyaan benarkah pembelajaran sastra sulit dan menyusahkan? Saya melihat ada beberapa hal yang perlu dieksperimentasikan dalam pembelajaran sastra di sekolah.

Pertama, sastra perlu diajarkan oleh guru-guru yang profesional yang dilengkapi dengan kompetensi dalam prilaku sastra, kemampuan membaca sastra dan kecakapan mengajarkan sastra. Prilaku sastra dimaksud dapat terukur dari karyakarya sastra yang dibaca, ditulis dan didiskusikan dalam lingkaran atau komunitas sastra di dalam dan luar sekolah. Kemampuan membaca sastra mencakup membaca untuk tujuan dan kenikmatan estetik. Penekanan berlebihan pada aspekaspek kultural fiksi—kerap disebut dengan pendekatan struktural—semisal tokoh, seting, tema, dan alur—sesuatu yang acapkali menjadi latihan umum di sekolahsekolah—sama sekali bukanlah kegiatan sastra dan berdampak menjauhnya dimensi estetik dari sastra. Sementara, kecakapan mengajarkan sastra adalah kecakapan atau kemampuan melahirkan ikatan sastra buat melahirkan apresiasi estetik, yang secara emosional meresap dalam pengalaman, pikiran dan perasaan pembaca.

Kedua, sastra mesti dilihat sebagai apa yang disebut sebagai “evokasi sastra” (literary evocation). Penyair, pengarang dan pemain drama dan teater—laiknya penulis lain—ingin berinteraksi dengan pembaca. Bersesuaian dengan prilaku sastra adalah cara pandang membaca transaksional (transactional view of reading). Hal ini menunjukkan peran aktif intelektual, emosional dan personal bagi para pembaca. Louise Rosenblatt (1985) mendefinisikan “evokasi sastra” (literary evocation) sebagai “the process in which the reader selects out ideas, sensation, feelings, and images drawn from his past linguistics, literary, and life experience, and synthesizes them into a new experience” (proses di mana pembaca memilih gagasan, sensasi, perasaan dan citra yang berasal dari pengalaman hidup, sastra dan bahasa masa lalu, untuk kemudian menyatukannya ke dalam sebuah pengalaman baru).

Implikasinya mengharuskan guru untuk memberdayakan dan mentransformasikan siswanya sebagai pembaca guna “menjempret” pelbagai bagian karya-karya sastra demi sebuah kenikmatan estetik. Tak kalah pentingnya, evokasi sastra menawarkan pembaca kebebasan menginterpretasikan karya-karya sastra berdasarkan justifikasi estetik sebaik mungkin. Pola ujian semisal “betul-salah” (true-false)—seperti yang lazim dalam pelaksanaan ujian di sekolah-sekolah kita—sebetulnya adalah antitesis terhadap prinsip-prinsip pembelajaran sastra.

Ketiga, komunitas sastra bukan sekadar media buat pembelajaran sastra tapi juga pembelajaran secara umum. Kebebasan dalam apresiasi sastra fungsional meneguhkan upaya-upaya pribadi dan mandiri dalam merespon karya-karya sastra. Seringkali siswa berada pada stasi perasaan yang kosong ketika menelaah karya-karya sastra. Dalam komunitas sastra, perasaan amat terkait dengan pengalaman pribadi antara satu dengan yang lainnya. Ikatan-ikatan bersama ini akan memajukan dan mengembangkan interpretasi yang kaya, halus dan fokus dari karya-karya sastra. Pendekatan ini diharapkan akan meningkatkan kemampuan verbal siswa. Bahkan pada titik tertentu, hal ini berakibat pada meluasnya kebebasan berekspresi dan demokrasi.

Keempat, mengajarkan sastra kerap diasosiasikan dengan pengembangan kemampuan menulis pembaca. Banyak yang menganggap bahwa menulis adalah keahlian yang paling sulit dan sedikit dikuasai oleh para pembelajar bahasa. Sebetulnya, keahlian ini bisa diperoleh lewat pembelajaran sastra estetik. Dalam komunitas sastra, pembaca dituntut untuk melakukan journaling, yakni mencatat segenap atau berbagai pengalamannya dalam journal(buku catatan harian). Dengan menulis, interpretasi pembaca menjadi hasil laporan sendiri dan bersifat otentik. Boleh jadi banyak yang tak percaya bahwa pembaca sekarang juga dengan sendirinya adalah penulis.

Kelima, dalam komunitas atau lingkaran sastra, siswa dituntut membaca secara resiprokal dan memberikan komentar terhadap buku catatan harian. Setelah beberapa lama pengalaman yang mereka tulis akan bermetamorfosis dari sebuah kewajiban menjadi kebiasaan atau bahkan kebutuhan. Pendekatan semacam ini akan muncul sebagai sebuah model alternatif dalam pembelajaran sastra; sebuah pergeseran paradigma pembelajaran dari yang berpusat pada teks (text-centeredness) menjadi berpusat pada pembaca (reader-centeredness).

Berdasarkan hal-hal di atas, usulan sementara pihak agar kurikulum pembelajaran sastra menjadi mata pelajaran yang terpisah dari bahasa dan alokasi waktu yang lebih banyak bagi kelas-kelas bahasa sungguh tidak masuk akal. Sastra adalah unsur yang tak bisa dilepaskan dari bahasa dan seyogianya diajarkan secara komprehensif. Di atas itu semua, aktor utama tetaplah guru. Sekolah-sekolah kita sekarang ini betul-betul membutuhkan guru profesional yang mampu membentuk dan mengembangkan sikap estetik, kefasihan membaca sastra dan kemampuan mengajarkan sastra.