Rabu, 02 Desember 2009

Pembelajaran Sastra di Sekolah

Sastrawan Taufik Ismail dikenal sangat gigih memperjuangkan kebangkitan pembelajaran sastra dan menulis di sekolah-sekolah. Menurutnya, kemampuan sastra siswa sekolah menengah di Indonesia jauh tertinggal dibandingkan 13 negara yang pernah dikunjunginya, yang mewajibkan siswa-siswinya membaca dan mendiskusikan 5 sampai 32 karya-karya sastra per tahun—sebuah situasi yang sudah lama hilang di sekolah kita.

Keprihatinan sastrawan terkenal tersebut bukanlah hal yang baru. Hal ini amat mendesak diatasi karena sastra adalah kendaraan yang efektif buat mempromosikan intelektualitas, kebajikan, moralitas dan kearifan. Sejarah menuturkan secara fasih bahwa negara-negara maju dan industri, seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman dan Prancis, telah lama menjadikan sastra sebagai unsur tak terpisahkan dalam pengembangan kepribadian dan pembangunan bangsa. Tatkala sistem pendidikan kontemporer gagal menerangi generasi muda dengan nilai-nilai religius dan moral, sastra sepatutnya perlu dilihat sebagai jalur alternatif.

Sastra, sebagaimana dirujuk di atas, adalah model pengalaman khusus yang direpresentasikan oleh teks dan diikuti oleh standar sastra yang mapan. Ia memunculkan jenis hubungan tertentu antara pembaca dan teks. Oleh karena itu, ia membutuhkan semacam proses pembacaan tertentu pula. Novel Siti Nurbaya nya Marah Rusli, misalnya, mewakili segenap pengalaman pengarang; kognitif, afektif dan psikomotorik. Seluruh pengalaman tersebut berwujud sejarah naratif dijumpai bukan hanya dalam novel ini tapi juga dalam bentuk-bentuk tulisan lainnya, semisal riwayat sejarah dan catatan ilmiah maupun kehidupan sosial secara umum.

Satu asumsi keliru di kalangan siswa maupun masyarakat secara umum adalah: Kenapa harus repot-repot membaca novel, cerpen, puisi, dan drama padahal pengalaman itu semua bisa ditemukan dan dipelajari dalam karya-karya tulis umum? Salah satu pekerjaan melelahkan yang dihadapi oleh para guru adalah bagaimana merubah “prilaku non-sastra” menjadi “prilaku sastra” di kalangan

siswa dan membekali mereka dengan kecakapan membaca sastra. Kekeliruan lain adalah membiarkan pembelajaran sastra kepada guru apapun. Di kebanyakan sekolah pembelajaran sastra malah ‘jatuh’ di tangan guru-guru yang tidak profesional. Sudah menjadi rahasia publik bahwa sistem sekolah kita ditandai oleh fenomenaprofessional mismatches demikian.

Semenjak dini, sungguh esensial untuk mendekati sastra sebagai karya-karya tulis terbaik yang mengandung nilai-nilai, pemikiran, masalah dan konflik masyarakat—keseluruhan jalan hidup masyarakat. Secara kasar, sastra adalah sesuatu yang bernilai dan enak untuk dikatakan. Sastra merupakan sebuah unsur kebudayaan manusia yang monumental. Tak salah dikatakan bahwa di mana ada pendidikan di sana ada kajian sastra.

Sastra perlu dibaca lewat model pembacaan sosial dan psikologis. Dalam konteks sosial dan budaya, pembaca perlu mengembangkan prilaku atau sikap bahwa membaca sastra akan meningkatkan pemahaman terhadap masalah-masalah kemanusiaan. Adapun secara psikologis, pembaca harus siap untuk menyerap nlai-nilai estetik terhadap karya-karya sastra. Sastra bukanlah sekadar bacaan tapi sebuah bacaan estetik.

Bacaan estetik mensyaratkan bacaan non-estetik dan perhatian penuh pada apa yang dialami, dipikirkan dan dirasakan oleh pembaca. Upaya-upaya estetika psikologis ini didorong dan dipengaruhi oleh ciri-ciri tekstual, seperti bunyi, ritme, metafor, simile, asosiasi dan pilihan kata. Secara sederhana, mengajarkan bagaimana mengapresiasi sastra diyakini bakal memungkinkan atau memberikan kesempatan kepada pembaca untuk mendapatkan kekayaan nuansa pengalaman, pikiran dan perasaan yang“dipancarkan” oleh sebuah teks.

Lawan dari bacaan estetik adalah bacaan efferent (berasal dari Bahasa Latin yang berarti ‘mengangkut’), yakni bacaan non-sastra di mana aspek-aspek estetiknya sudah hilang, “dibawa jauh” atau “diangkut”. Para pembaca yang tidak ahli lazimnya menggunakan strategi membaca efferent tatkala membaca teks-teks nonsastra seperti surat kabar, majalah atau buku teks. Bagi pembaca awam seperti ini, baik kesadaran estetik maupun apresiasi terhadap nilai-nilai sastra nyaris tidak terbentuk. Dengan arti kata, mengajarkan sastra secara benar sama halnya dengan menekankan estetika dan mengurangi kecenderungan efferent.

Berdasarkan pokok-pokok argumen di atas, menjadi sebuah pertanyaan benarkah pembelajaran sastra sulit dan menyusahkan? Saya melihat ada beberapa hal yang perlu dieksperimentasikan dalam pembelajaran sastra di sekolah.

Pertama, sastra perlu diajarkan oleh guru-guru yang profesional yang dilengkapi dengan kompetensi dalam prilaku sastra, kemampuan membaca sastra dan kecakapan mengajarkan sastra. Prilaku sastra dimaksud dapat terukur dari karyakarya sastra yang dibaca, ditulis dan didiskusikan dalam lingkaran atau komunitas sastra di dalam dan luar sekolah. Kemampuan membaca sastra mencakup membaca untuk tujuan dan kenikmatan estetik. Penekanan berlebihan pada aspekaspek kultural fiksi—kerap disebut dengan pendekatan struktural—semisal tokoh, seting, tema, dan alur—sesuatu yang acapkali menjadi latihan umum di sekolahsekolah—sama sekali bukanlah kegiatan sastra dan berdampak menjauhnya dimensi estetik dari sastra. Sementara, kecakapan mengajarkan sastra adalah kecakapan atau kemampuan melahirkan ikatan sastra buat melahirkan apresiasi estetik, yang secara emosional meresap dalam pengalaman, pikiran dan perasaan pembaca.

Kedua, sastra mesti dilihat sebagai apa yang disebut sebagai “evokasi sastra” (literary evocation). Penyair, pengarang dan pemain drama dan teater—laiknya penulis lain—ingin berinteraksi dengan pembaca. Bersesuaian dengan prilaku sastra adalah cara pandang membaca transaksional (transactional view of reading). Hal ini menunjukkan peran aktif intelektual, emosional dan personal bagi para pembaca. Louise Rosenblatt (1985) mendefinisikan “evokasi sastra” (literary evocation) sebagai “the process in which the reader selects out ideas, sensation, feelings, and images drawn from his past linguistics, literary, and life experience, and synthesizes them into a new experience” (proses di mana pembaca memilih gagasan, sensasi, perasaan dan citra yang berasal dari pengalaman hidup, sastra dan bahasa masa lalu, untuk kemudian menyatukannya ke dalam sebuah pengalaman baru).

Implikasinya mengharuskan guru untuk memberdayakan dan mentransformasikan siswanya sebagai pembaca guna “menjempret” pelbagai bagian karya-karya sastra demi sebuah kenikmatan estetik. Tak kalah pentingnya, evokasi sastra menawarkan pembaca kebebasan menginterpretasikan karya-karya sastra berdasarkan justifikasi estetik sebaik mungkin. Pola ujian semisal “betul-salah” (true-false)—seperti yang lazim dalam pelaksanaan ujian di sekolah-sekolah kita—sebetulnya adalah antitesis terhadap prinsip-prinsip pembelajaran sastra.

Ketiga, komunitas sastra bukan sekadar media buat pembelajaran sastra tapi juga pembelajaran secara umum. Kebebasan dalam apresiasi sastra fungsional meneguhkan upaya-upaya pribadi dan mandiri dalam merespon karya-karya sastra. Seringkali siswa berada pada stasi perasaan yang kosong ketika menelaah karya-karya sastra. Dalam komunitas sastra, perasaan amat terkait dengan pengalaman pribadi antara satu dengan yang lainnya. Ikatan-ikatan bersama ini akan memajukan dan mengembangkan interpretasi yang kaya, halus dan fokus dari karya-karya sastra. Pendekatan ini diharapkan akan meningkatkan kemampuan verbal siswa. Bahkan pada titik tertentu, hal ini berakibat pada meluasnya kebebasan berekspresi dan demokrasi.

Keempat, mengajarkan sastra kerap diasosiasikan dengan pengembangan kemampuan menulis pembaca. Banyak yang menganggap bahwa menulis adalah keahlian yang paling sulit dan sedikit dikuasai oleh para pembelajar bahasa. Sebetulnya, keahlian ini bisa diperoleh lewat pembelajaran sastra estetik. Dalam komunitas sastra, pembaca dituntut untuk melakukan journaling, yakni mencatat segenap atau berbagai pengalamannya dalam journal(buku catatan harian). Dengan menulis, interpretasi pembaca menjadi hasil laporan sendiri dan bersifat otentik. Boleh jadi banyak yang tak percaya bahwa pembaca sekarang juga dengan sendirinya adalah penulis.

Kelima, dalam komunitas atau lingkaran sastra, siswa dituntut membaca secara resiprokal dan memberikan komentar terhadap buku catatan harian. Setelah beberapa lama pengalaman yang mereka tulis akan bermetamorfosis dari sebuah kewajiban menjadi kebiasaan atau bahkan kebutuhan. Pendekatan semacam ini akan muncul sebagai sebuah model alternatif dalam pembelajaran sastra; sebuah pergeseran paradigma pembelajaran dari yang berpusat pada teks (text-centeredness) menjadi berpusat pada pembaca (reader-centeredness).

Berdasarkan hal-hal di atas, usulan sementara pihak agar kurikulum pembelajaran sastra menjadi mata pelajaran yang terpisah dari bahasa dan alokasi waktu yang lebih banyak bagi kelas-kelas bahasa sungguh tidak masuk akal. Sastra adalah unsur yang tak bisa dilepaskan dari bahasa dan seyogianya diajarkan secara komprehensif. Di atas itu semua, aktor utama tetaplah guru. Sekolah-sekolah kita sekarang ini betul-betul membutuhkan guru profesional yang mampu membentuk dan mengembangkan sikap estetik, kefasihan membaca sastra dan kemampuan mengajarkan sastra.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tinggalkan Komentar