Kamis, 04 Juni 2009

TAHAP PEMEROLEHAN BAHASA

1. Kurang dari 1 tahun
- Belum dapat mengucapkan kata-kata,
- Belum menggunakan bahasa dalam arti yang sebenarnya,
- Dapat membedakan beberapa ucapan orang dewasa.
(Eimas, lewat Gleason, 1985: 2, dalam Zuchdi, 1996: 4)

2. 1 tahun
- Mulai mengoceh,
- Bermain dengan bunyi (bermain dengan jari-jari tangan dan kakinya)
- Perkembangan pada tahap ini disebut pralinguistik.
(Gleason, 1985: 2)
- Ketika bayi dapat mengucapkan beberapa kata, mereka memiliki ciri-ciri perkembangan yang universal.
- Bentuk ucapan hanya satu kata, sederhana, mudah diucapkan dan memiliki arti konkrit (nama benda, kejadian atau orang-orang di sekitar anak).
- Mulai pengenalan semantik (pengenalan makna).

3. 2 tahun
- Mengetahui kurang lebih memiliki 50 kata.
- Kebanyakan mulai mencapai kombinasi dua kata yang dikombinasikan dalam ucapan-ucapan pendek tanpa kata penunjuk, kata depan atau bentuk lain yang seharusnya digunakan.
- Mulai mengenal berbagai makna kata tetapi tidak dapat menggunakan bentuk bahasa yang menunjukkan jumlah, jenis kelamin, dan waktu terjadinya peristiwa.
- Mulai dapat membuat kalimat-kalimat pendek.

4. Taman Kanak-kanak
- Memiliki dan memahami sejumlah besar kosa kata,
- Mampu membuat pertanyaan-pertanyaan, kalimat majemuk dan berbagai bentuk kalimat,
- Dapat berbicara dengan sopan dengan orang tua dan guru.

5. Sekolah Dasar
- Peningkatan perkembangan bahasa, dari bahasa lisan ke bahasa tulis,
- Peningkatan perkembangan penggunaan bahasa.

6. Remaja
- Penggunaan bahasa yang khas sebagai bagian dari terbentuknya identitas diri (merupakan usia yang sensitif untuk belajar berbahasa)(Gleason, 1985: 6)

7. Dewasa
- Terdapat perbedaan-perbedaan yang besar antara individu yang satu dengan yang lainnya dalam perkembangan bahasa (sesuai dengan tingkat pendidikan, peranan dalam masyarakat, dan jenis pekerjaan

PRAKIRAAN UMUR FASE-FASE PERKEMBANGAN KOGNITIF MENURUT PIAGET FASE-FASE PERKEMBANGAN KEBAHASAAN

Lahir s/d 2 tahun

Periode sensorimotor. Anak memanipulasi objek di lingkungannya dan mulai membentuk konsep Fase fonologis. Anak bermain dengan bunyi-bunyi bahasa mulai mengoceh sampai menyebutkan kata-kata sederhana

2 s/d 7 tahun

Periode Praoperasional.
Anak memahami pikiran simbolik, tetapi belum dapat berpikir logis

Fase Sintaktik.
Anak menunjukkan kesadaran gramatis, berbicara menggunakan kalimat

7 s/d 11 tahun
Periode Operasional.
Anak dapat berpikir logis mengenai benda-benda konkrit

Fase Semantik.
Anak dapat membedakan kata sebagai simbol dan konsep dalam kata


PADA AWAL USIA SEKOLAH MERUPAKAN PERIODE BERKEMBANGNYA KREATIFITAS KEBAHASAAN YANG DIISI DENGAN SAJAK, NYANYIAN, DAN PERMAINAN KATA.
SETIAP ANAK MENCOBA MENGEMBANGKAN PENGGUNAAN BAHASA YANG BERSIFAT KHAS.
ANAK-ANAK BELAJAR MENEMUKAN HUMOR DALAM PERMAINAN KATA(Owen, 1992: 354)

pada periode usia sekolah perkembangan bahasa yang paling jelas tampak adalah perkembangan semantik dan pragmatik, di samping mempelajari bentuk-bentuk baru, anak belajar menggunakannya untuk berkomunikasi dengan lebih efektif.(Obler, 1985, dalam Owen, 1992: 355)

KEMAMPUAN META LINGUISTIK , YAITU KESADARAN YANG MEMUNGKINKAN PENGGUNA BAHASA BERPIKIR TENTANG BAHASA DAN MELAKUKAN REFLEKSI, JUGA MAKIN BERKEMBANG PADA USIA SEKOLAH. HAL INI TERCERMIN DALAM PERKEMBANGAN KETERAMPILAN MEMBACA DAN MENULIS.(Owen, 1992: 335)

Pada usia prasekolah anak belum memiliki keterampilan bercerita secara sistematis. Baru setelah periode usia sekolah proses kognitif meningkat sehingga memungkinkan anak menjadi komunikator yang lebih efektif.

Anak mulai mengenal adanya berbagai pandangan mengenai suatu topik. Mereka dapat mendeskripsikan sesuatu, tetapi masih bersifat personal dan tidak mempertimbangkan makna informasi yang disampaikan bagi pendengar. Informasi tersebut biasanya tidak selalu benar karena bercampur dengan khayalan

Anak berumur lima dan enam tahun menghasilkan berbagai macam cerita. umumnya berisi tentang hal-hal yang terjadi di dunia sekitarnya. Cerita-cerita tersebut mencerminkan budaya dan suasana dan pengembangan yang berbeda-beda. Cerita-cerita tersebut misalnya penjelasan tentang kejadian. Cerita pengalaman sendiri, dan cerita fiksi (owens, 1992: 359)

Kemampuan membuat cerita tersebut hendaknya sudah diperkenalkan kepada anak didik pada usia prasekolah, meskipun dengan penyederhanaan. Lebih dari itu mereka hendaknya dilatih mengekspresikan pikiran dan perasaan secara sistematis dan santun.

Pada kelas dua sekolah dasar anak mulai dilatih menggunakan kalimat yang agak panjang dengan konjungsi: dan, lalu, dan kata depan: di, ke, dari. Anak sudah dapat dilatih bercerita kejadian secara kronologis.

PERKEMBANGAN KEMAMPUAN MEMBUAT CERITA


ANAK BERUMUR ENAM TAHUNSUDAH DAPAT BERCERITA SEDERHANA TENTANG SESUATU YANG MEREKA LIHAT. KEMAMPUAN INI SELANJUTNYA BERKEMBANG SECARA TERATUR SEDIKIT DEMI SEDIKIT .

PADA USIA TUJUH TAHUN ANAK MULAI DAPAT MEMBUAT CERITA YANG AGAK PADU. MEREKA MULAI DENGAN MENGEMUKAKAN MASALAH, RENCANA MENGATASI MASALAH, DAN PENYELESAIAN, MESKIPUN BELUM JELAS SIAPA YANG MELAKUKANNYA.

PADA UMUR DELAPAN TAHUN ANAK-ANAK MENGGUNAKAN PENANDA AWAL DAN AKHIR DARI SEBUAH CERITA. KEMAMPUAN MEMBUAT ALUR CERITA YANG AGAK JELAS BARU MULAI DIPEROLEH ANAK-ANAK PADA USIA LEBIH DARI DELAPAN TAHUN. STRUKTUR CERITA YANG DIBUATNYA MENJADI SEMAKIN JELAS.


PERBEDAAN BAHASA ANAK LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

Anak perempuan

1. Menghindari bahasa yang berisi umpatan dalam percakapan dan cenderung menggunakan kata-kata yang lebih sopan: silakan, terima kasih, selamat jalan, dsb.
2. Ekspresi emosional yang digunakan lebih halus, misalnya: Oh sayangku, Ya Allah, dsb.
3. Cenderung menggunakan bahasa tidak langsung dalam meminta persetujuan dan lebih banyak mendengarkan. Perannya dalam percakapan adalah sebagai fasilitator.
4. Lebih banyak berbicara secara berpasangan dengan teman akrabnya dan saling menceritakan rahasianya

Anak Laki-laki

1. Ekspresi emosional cenderung menggunakan kata-kata kasar misalnya umpatan: sialan, bedebah, dsb.
2. Cenderung menggunakan bahasa secara langsung dan bersifat memberitahu, karena laki-laki menganggap perannya dalam percakapan adalah pemberi informasi.
3. Kurang banyak berbicara, tetapi lebih banyak berbuat. Pada perkembangan ke tingkat dewasa seorang ayah lebih banyak menggunakan perintah ketika berbicara dengan anak laki-laki, dan lebih banyak menginterupsi pembicaraan anak perempuannya.

Selama periode sekolah sampai dewasa, setiap individu meningkatkan jumlah kosa kata dan makna khas istilah secara teratur melalui konteks tertentu. Dalam proses tersebut seseorang menyusun kembali aspek-aspek kebahasaan yang telah dikuasainya. Hasil dari proses tersebut tercermin dari kata-kata yang digunakannya, misalnya dengan penggunaan bahasa figuratif, atau kreativitas berbahasa yang begitu pesat.

Keseluruhan proses perkembangan semantik dari awal sekolah dasar ini dapat dihubungkan dengan keseluruhan proses kognitif (owen, 1992: 374).

Ada dua jenis penambahan makna kata secara horisontal. Anak semakin mampu memahami dan dapat menggunakan suatu kata dengan makna yang tepat. Adapun penambahan vertikal berupa peningkatan jumlah kata yang dapat dipahami dan digunakan dengan tepat (Owens, 1992: 375)

Kemampuan anak di kelas-kelas rendah dalam mendefinisikan kata-kata meningkat dengan dua cara; Pertama secara konseptual dari definisi berdasar pengalaman individu ke makna yang lebih bersifat sosial atau makna yang dibentuk bersama. Kedua anak bergerak secara sintaksis dari definisi berupa kata-kata lepas ke kalimat-kalimat yang menyatakan hubungan yang kompleks (Owens, 1992: 376)

Bahasa Figuratif memungkinkan pengguna bahasa menggunakan bahasa secara kreatif, imajinatif, tidak secara literal, untuk menciptakan kesan emosional atau imajinatif. Termasuk jenis bahasa ini adalah ungkapan, metafora, kiasan, dan peribahasa.

Ungkapan, adalah pernyataan pendek yang telah digunakan bertahun-tahun dan tidak dapat dianalisis secara gramatikal. Contoh, rumah makan, kamar kecil, makan hati, kepala batu, ringan tangan, dsb.

Metafora dan kiasan adalah bentuk ucapan yang membandingkan benda yang sebenarnya dengan khayalan. Perbandingan dinyatakan secara implisit, misalnya, suaranya membelah bumi. Sedangkan kiasan sebaliknya, yaitu perbandingan dinyatakan secara eksplisit. Contoh, dua gadis itu seperti pinang dibelah dua.

Peribahasa adalah pernyataan pendek yang sudah dikenal yang berisi kebenaran yang terterima, pikiran berguna atau nasehat. Contoh, Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna. Menepuk air di dulang terpercik muka sendiri. dsb.

Bahasa figuratif lebih dapat dipahami dalam konteks daripada secara terpisah
Makna bahasa figuratif disimpulkan pada penggunaan berulang-ulang dalam konteks yang berbeda-beda.
Kejelasan metaforik, yakni hubungan makna literal dan figuratif akan memudahkan penafsiran. Contoh, tutup mulut akan lebih mudah dipahami dari pada makan hati, sedangkan anak berumur 7 – 9 tahun menafsiran peribahasa secara literal.


Perkembangan Morfologis dan Sintaksis

Perkembangan bahasa pada periode usia sekolah mencakup perkembangan secara serentak (simultan) bentuk-bentuk sintaktik yang telah ada dan perolehan bentuk-bentuk yang baru. Perluasan kalimat menggunakan frase verba dan nomina. Fungsi-fungsi kata gabung dan kata ganti juga diperluas, termasuk tambahan struktur bentuk pasif.

Prosesnya diawali dengan mempelajari bentuk-bentuk morfem yang semula bersifat hafalan, kemudian diikuti dengan membuat kesimpulan kasar tentang bentuk dan makna fonem, dan terakhir barulah membentuk kaidah. Proses ini rumit ini dimulai pada periode prasekolah dan berlangsung terus sampai pada masa adolesen

Bentuk Kalimat

1. Bentuk pasif dapat dibalik
2. Bentuk pasif tidak dapat dibalik yang pelakunya berupa instrumen

3. Bentuk pasif tidak dapat dibalik yang pelakunya manusia

Contoh:
1. “Ani dikejar Amir” dapat dibalik “Amir dikejar Ani”.
2. “Mangga dilempar dengan batu” tidak mungkin “Batu dilempar dengan mangga”
3. “Buku saya dipinjam oleh Jono” tidak mungkin dibalik “Jono dipinjam oleh buku saya”

TINGKATAN PENGGUNAAN

Anak-anak biasanya menggunakan bentuk pasif yang dapat dibalik dan yang tidak dapat dibalik dalam jumlah seimbang, namun sering mengalami kesulitan dalam membuat kalimat dan menafsirkan kalimat pasif yang dapat dibalik

Bentuk kalimat yang digunakan

Umur 8 tahun lebih banyak menggunakan bentuk pasif yang tidak dapat dibalik

Umur 11 – 13 tahun lebih banyak menggunakan bentuk pasif yang tidak dapat dibalik yang pelakunya manusia,
 Penggunaan “dan” pada awal kalimat mulai jarang muncul,
 Pada umur 12 tahun mulai sering menggunakan kata penghubung yang menghubungkan klausa “karena”, “jika”, “supaya”.

Catatan:

- Anak-anak sering mengalami kesulitan dan kebingungan dalam menggunakan “karena”, “dan”, “lalu”. Sebagai contoh, untuk mengatakan “Saya tidak masuk sekolah karena saya sakit” sering diucapkan “Saya sakit karena saya tidak masuk sekolah”
- Pemahaman secara konsisten baru terjadi pada kurang lebih umur 10 sampai 11 tahun.
- Penggunaan kalimat dengan kata sambung “karena” lebih mudah dipahami daripada “meskipun”. Contoh, “Saya memakai payung karena hujan” lebih mudah daripada “Saya memakai payung meskipun hujan”.

Umur/jenjang Perkembangan Membaca

Sebelum 6 tahun Fase pramembaca

Fase 1
 6 tahun
Mempelajari perbedaan huruf dan perbedaan angka yang satu dengan yang lainnya, sampai akhirnya mengenal huruf dan angka secara keseluruhan.

7 atau 8 tahun
Umumnya anak telah memperoleh pengetahuan tentang huruf, suku kata, dan kata yang diperlukan untuk membaca (pengetahuan ini umumnya diperoleh di sekolah).

Fase 2
Kelas 3 dan 4
Dapat menganalisis kata-kata yang tidak diketahuinya menggunakan pola tulisan dan kesimpulan yang didasarkan konteksnya.

Fase 3
Kelas 4 sampai Kelas 2 SLTP
Membaca tidak lagi hanya pengenalan tulisan tetapi pada pemahaman.

Fase 4
Akhir SLTP sampai dengan SLTA
Penggunaan keterampilan tingkat tinggi misalnya, inferensi(penyimpulan), dan pandangan penulis untuk meningkatkan pemahaman

Fase 5
Perguruan tinggi
Dapat mengintegrasikan hal-hal yang dibaca dengan pengetahuan yang dimilikinya, dan menanggapi secara kritis apa yang dibacanya (Owens, 1992: 400-401)

Ada kesejajaran antara perkembangan membaca dan menulis. Pada umumnya penulis yang baik adalah pembaca yang baik, demikian juga sebaliknya. Proses menulis dekat dengan menggambar dalam hal keduanya mewakili simbol tertentu. Namun, menulis berbeda dengan menggambar. Hal ini diketahui anak ketika berumur sekitar 3 tahun
(Owens, 1992: 403).

Umur/jenjang Kemampuan
6 tahun (kelas 1 dan 2)
- Kurang memperhatikan format, jarak tulis ejaan, dan tanda baca.
- Belum memperhatikan pembaca, dan masih bersifat egosentrik.

Kelas 3 dan 4
- Mulai memperhatikan pembaca,
- Mulai merevisi dan menyunting tulisannya

Pada periode usia sekolah terjadi perkembangan kemampuan menggunakan kalimat dengan lengkap baik secara lisan maupun secara tertulis. Terjadi pula peningkatan penggunaan klausa dan frase yang kompleks serta penggunaan kalimat yang bervariasi

PENDEKATAN PEMBELAJARAN BAHASA

Pendekatan

Seperangkat asumsi yang saling berkaitan, dan berhubungan dengan sifat bahasa, serta pengajaran bahasa. Pendekatan merupakan dasar teoritis untuk suatu metode.

Asumsi tentang bahasa bermacam-macam, antara lain asumsi yang menganggap bahwa bahasa sebagai suatu sistem komunikasi yang pada dasarnya dilisankan; dan adalagi yang menganggap bahwa bahasa adalah seperangkat kaidah.

Dari asumsi-asumsi tersebut menimbulkan adanya pendekatan-pendekatan yang berbeda, yakni:

1)Pendekatan yang mendasari pendapat bahwa belajar berbahasa berarti berusaha membiasakan diri menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Tekanannya pada pembiasaan.

2)Pendekatan yang mendasari pendapat bahwa belajar berbahasa berartiberusaha untuk memperoleh kemampuan berkomunikasi secara lisan. Tekanannya pada pemerolehan kemampuan berbicara.

3)Pendekatan yang mendasari pendapat bahwa belajar berbahasa yang harus diutamakan ialah pemahaman akan kaidah-kaidah yang mendasari ujaran. Tekanannya pada aspek kognitif bahasa, bukan pada kemampuan menggunakan bahasa.


METODE

Metode Pembelajaran bahasa adalah rencana pembelajaran bahasa, yang mencakup pemilihan, penentuan, dan penyusunan secara sistematis bahan yang akan diajarkan, serta kemungkinan diadakan remidi dan bagaimana pengembangannya.

Dari uraian di atas jelaslah bahwa suatu metode ditentukan berdasarkan pendekatan yang dianut; dengan kata lain pendekatan merupakan dasar penentu metode yang digunakan.

Secara garis besar metode mencakup:
1. pemilihan dan penentuan bahan ajar
2. penyusunan serta kemungkinan pengadaan remidi dan pengembangan bahan ajar tersebut, dengan mempertimbangkan:
a. tingkat usia
b. tingkat kemampuan
c. kebutuhan
d. latar belakang lingkungan siswa
e. disusun berdasarkan tingkat kesukaran
Disamping itu guru juga harus merencanakan pula pengevaluasian, remidial, dan pengembangan bahan ajar.

Teknik

Teknik pembelajaran merupakan cara guru menyampaikan bahan ajar yang telah disusun (dalam metode), berdasarkan pendekatan yang dianut.

Teknik yang digunakan guru bergantung pada kemampuan masing-masing guru, karena teknik juga berkaitan dengan siasat atau mencari akal agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar dan berhasil dengan baik.

Pertimbangan dalam menentukan teknik pembelajaran antara lain: situasi kelas, lingkungan, kondisi siswa, dsb.



PENDEKATAN-PENDEKATAN
Dalam
PEMBELAJARAN BAHASA


Pendekatan Tujuan

Pendekatan tujuan dilandasi oleh pemikiran bahwa dalam setiap kegiatan pembelajaran yang harus dipikirkan dan ditetapkan lebih dahulu ialah tujuan yang hendak dicapai. Jadi proses pembelajaran ditentukan oleh tujuan yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan itu sendiri.

Dengan berdasarkan tujuan, maka yang terpenting ialah tercapainya tujuan, yakni siswa memiliki kemampuan tertentu sebagaimana tujuan yang telah ditetapkan.
Contoh:
Untuk pokok bahasan menulis, tujuan pembelajaran yang ditetapkan ialah “Siswa mampu membuat karangan/cerita berdasarkan pengalaman atau informasi dari bacaan”, maka yang penting adalah siswa memiliki kemampuan mengarang. Adapun bagaimana metode dan teknik pembelajarannya bukanlah masalah yang diutamakan.

Penerapan pendekatan tujuan sering dikaitkan dengan cara belajar tuntas yang berarti suatu kegiatan belajar mengajar dianggap berhasil apabila sedikitnya 85% dari jumlah siswa yang mengikuti pelajaran itu menguasai minimal 75% dari bahan ajar yang diberikan guru dengan melalui evaluasi.


PENDEKATAN STRUKTURAL

Pendekatan ini dilandasi oleh asumsi yang menganggap bahwa bahasa sebagai seperangkat kaidah. Atas dasar itu maka timbul pemikiran bahwa pembelajaran bahasa harus mengutamakan penguasaan kaidah-kaidah bahasa atau tata bahasa. Pembelajarannya pun harus menitikberatkan pada aspek-aspek fonologi, morfologi, dan sintaksis. Pengetahuan tentang pola-pola kalimat, pola kata, suku kata, menjadi sangat penting. Dengan kata lain pada pendekatan ini aspek kognitif bahasa diutamakan.


PENDEKATAN KOMUNIKATIF

Pendekatan komunikatif merupakan pendekatan yang dilandasi oleh pemikiran bahwa kemampuan menggunakan bahasa dalam komunikasi merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa.

Bahasa tidak hanya dipandang sebagai seperangkat kaidah tetapi lebih luas lagi, yakni sebagai sarana untuk berkomunikasi. Jadi di sini bahasa ditempatkan sebagaimana fungsinya yaitu fungsi komunikatif.

Menurut Littlewood (1981) pendekatan komunikatif didasari pemikiran:

1. Pendekatan komunikatif membuka pandangan yang lebih luas tentang bahasa, yang tidak terbatas pada tata bahasa dan kosakata saja, tetapi juga pada fungsi komunikatif bahasa.

2. Pendekatan komunikatif membuka diri bagi pandangan yang luas dalam pembelajaran bahasa.


Catatan:

Uraian-uraian di atas mungkin merupakan teori-teori yang sangat mendasar, oleh sebab itu agar dicapai pembelajaran berbahasa yang sesuai perlu mengacu pada model dan strategi terkini, yaitu pembelajaran inovatif.

Metode-metode Dalam Pembelajaran Bahasa

METODE DALAM PEMBELAJARAN BAHASA

A. Hakikat Metode Pembelajaran Bahasa
Apa sesungguhnya metode itu ? Jika kita mencoba memperhatikan berbagai metode yang ada sekarang, pertanyaan yang timbul ialah apakah sesungguhnya metode itu? Jawaban terhadap pertanyaan ini tampaknya tergantung pada orang yang memberi jawabannya. Ada sebagian yang mengatakan “penentuan bahan yang akan diajarkan”, adapula yang mengatakan “cara-cara penyajian bahan”, dan sebagainya.Yang jelas apa yang dinamakan metode itu mencakup beberapa faktor, yaitu penentuan bahan, penentuan urutan bahan, cara-cara penyajian, dan sebagainya semuanya itu dilandaskan pada suatu sistem tertentu untuk mencapai tujuan tertentu pula.
Ada kalanya seorang pengajar perlu menggunakan beberapa metode dalam menyampaikan suatu pokok bahasan tertentu. Dengan variasi beberapa metode selain tidak membosankan, pada suatu saat dapat mengatasi kekurangan pengajar dalam hal-hal tertentu.
Tak ada satu metodepun yang dianggap paling baik diantara metode-metode yang lain. Setiap metode mempunyai karateristik tertentu dengan segala kelebihan serta kelemahan masing-masing. Suatu metode mungkin baik untuk suatu tujuan tertentu, pokok bahasan maupun situasi dan kondisi tertentu, tetapi tidak tepat untuk situasi lain. Juga suatu metode yang dianggap baik untuk suatu pokok bahasan tertentu, tetapi ada kalanya belum berhasil dengan baik jika digunakan oleh pengajar lain.

B. Metode Pembelajaran Bahasa
Pada dasarnya antara metode pembelajaran bahasa dan metode-metode lain, tak banyak bedanya. Apa yang dimaksud dengan metode pembelajaran bahasa pada hakikatnya adalah apa yang dimaksud oleh tujuan pembelajaran itu sendiri. Semua situasi pembelajaran, apakah baik atau jelek, mencakup beberapa aspek; yaitu, a) pemilihan bahan, b) peningkatan bahan dan c) cara-cara penyajian mated pembelajaran serta cara-cara
pengulangan mated tersebut..
a. Pemilihan materi perlu dilakukan, karena tidaklah mungkin membelajarkan semua hal yang tercakup dalam bidang ilmu yang sangat luas itu. Oleh karena itu terpaksa perlu diadakan pemilihan, mana diantaranya yang diajarkan sesuai dengan tujuan pembelujaran yang akan dicapai. Peningkatan dan penentuan urutan pemberian materi secara sekaligus diajarkan. Dalam hal ini terpaksa pembelajaran bagian-bagian tertentu lebih dulu dad bagian-bagian yang lain. Cara-cara penyajian materi perlu dipikirkan karena tak mungkin diajarkan sesuatu dengan hasil baik jika tidak dipikirkan cara-cara penyajian mana yang dapat memperoleh hasil sebagaimana yang diinginkan oleh tujuan yang ingin dicapai. Pengulangan pemberian materi perlu diberikan, karena tak mungkin mempelajari sesuatu keterampilan hanya dari satu contoh. Semua keterampilan akan tergantung pada frekuensi latihan yang diperoleh.

b. Apakah bahasa itu?
Bahasa adalah suatu pengertian yang luas dan kompleks. Bahasa adalah suatu sistem.Pertama adanya sistem bunyi. Sistem bunyi ini kenyataannya membentuk sistem bentuk. Dalam pemakaiannya sistem bentuk membentuk sistem struktur. Akhimya sistem sistem itu membentuk sistem arti. Sistem-sistem ini dianalisis untuk dapat menentukan apa yang harus diajarkan. Analisis itu akan menghasilkan,
1. Adanya bunyi-bunyi bahasa
2. Adanya bunyi-bunyi bahasa yang mempunyai arti.
3. Adanya bentuk-bentuk yang mempunyai arti.
4. Adanyajenis-jenis urutan tertentu jika bentuk-bentuk yang mempunyaim arti itu muncul bersama-sama.
5. Adanya sistem bentuk-bentuk dan pola-pola urutan membentuk unit-unit arti.
Hasil analisis adalah bahan mentah yang akan dijadikan bahan dalam penyusunan metode. Cara-cara penyajian
a. Aspek linguistiknya : mana yang harus disajikan lebih dulu, apakah bahasa tertulis atau bahasa lisan.
b. Aspek penyajiannya : apakah benda dan situasi yang dipakai sebagai alat bantu adalah benda-benda dan situasi-situasi yang sesungguhnya atau diciptakan kemudian? Apakah gambar-gambar, film, film strip, tape recorder atau gabungannya dipakai sebagai aiat atau sebagai alat bantu? Kapan, dan bagaiman carapenggunaannya.
C. Pengulangan dalam Rangka Pembentukan Keterampilan.
Bagaimana cara-cara yang dipakai untuk menumbuhkan kebiasaan berbahasa yang baik? Berapa banyak tugas tugas yang diberikan untuk bercakap-cakap, mendengar, membaca dan mengarang? Kapan dan bagaimana cara melakukannya? Bagaimana cara yang dilakukan untuk mengetahui apa yang telah diajarkannya itu dipahami atau dikuasai oleh pembelajar? Apakah dengan ulangan, tugas-tugas atau dengan cara-cara lain? Bagaimana melakukannya?
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa menerapkan suatu metode sesuai dengan suatu metode sesuai dengan kemampuan berpikir, kemudahan pembelajar menerima materi.
DUNIA GURU” adalah “dunia kelas” yang mewajibkan guru untuk melaksanakan proses pembelajaran sebagai proses pendidikan yang diharapkan secara “ajaib” (magically) dapat memanusiakan manusia. Guru juga dituntutharapkan mampu menyajikan proses pembelajaran yang bukan semata transfer pengetahuan, keterampilan, dan sikap, lefapi uga memiliki efek pendamping (nurturing effect) yang tersiraf dalam proses tersebut dan yang meningkatkan kemandirian siswa.
Oleh karena ifu, guru harus sanggup menciptakan kondisi proses pembelajaran yang menjamin kebebasan berpikir siswa sesuai dengan perkembangan talenta; dengan memantapkan delapan kompetensi dasar yang harus dimiliki siswa. Sejalan dengan pemikiran di atas, Kurikulum 1994 Garis-Garis Besar Program Pembelajaran Bahasa Indonesia SLTP Muatan Lokal dirancang sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran bahasa. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (1 996) pendidkan diartikan sebagai ‘proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakari manusia melalui upaya pengajaran (kini berpadanan dengan ‘pembelajaran’) dan pelatihan’. jika kita mencermati (meIalui pengajaran atau pembelajaran sebagai media atau alat untuk mendewasakan manusia) definisi pendidikan di atas; maka pendidikan menyangkut bukan saja aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap seseorang, tetapi juga meliputi pembentukan diri seseorang secara keseluruhan.
Seperti yang diungkapkan oleh Leksono dalam Drost (1998) bahwa pendidikan, melalui pembelajaran, adalah soal manusia yang akan memaknai masa depan kemanusiaan itu sendiri. Pertanyaan yang bisa diajukan: Siapakah yang harus berperan dan melaksanakan pendidikan? Masih sejalan dengan Leksono, ternyata banyak pihak merasa perlu terlibat dalam persoalan dan pelaksanaan pendidikan. Mulai dari ahli di bidang pendidikan yang memahami persoalan pendidikan hingga ke “tulang sumsumnya”, orang tua yang memang berhak untuk menaruh harapan agar anak-anaknya memperoleh pendidikan yang terbaik, dan tentu saja ‘guru’ yang dalam pelaksanaan proses pendidikan berhubungan Iangsung dengan siswa. “Dunia guru” adalah “dunia ke las yang mengharuskan guru untuk melaksanakan proses pembelajaran sebagai proses pendidikan yang diharapkan secara “ajaib” (magically) dapat memanusiakan manusia. Lebih lanjut, guru juga dituntutharapkan mampu menyajikan proses pembelajaran yang bukan semata transfer pengetahuan, keterampilan, dan sikap, tetapi juga memiliki efek pen- damping (nurturing effect) yang tersirat dalam proses tersebut dan yang meningkatkan kemandirian siswa. Singkat kata, guru adalah fasilitas harapan yang dapat memanusiakan manusia. Dan, karena itu pula, guru harus sanggup menciptakan kondisi proses pembelajaran yang menjamin kebebosan berpkir siswa sesuai dengan perkembangan talenta; dengan memantapkan delapan kompetensi dasar yang harus dimiliki siswa, yaitu:
Membaca, yang perlu dilatihkan untuk memantapkan kemampuan pemikiran kanseptual;
Menulis, melatih siswa untuk cermat dalam merancang jalan pemikiran yang teratur;
Mendengar, melatih siswa untuk mendengar dan memahami orang lain;
Menutur, yaitu berkomunikasi secara lisan;
Menghitung, melatih kemampuan berpikir teratur dan memanfaatkan nalar;
Mengamati, yaitu menggunakan indera secara ferpadu;
Mengkhayal, yaitu melatih daya cipta dan visualisasi; serta
Menghayati, yaitu melatih kemampuan menempatkan din pada kedudukan arang lain (Sudarsono dalam Hadis, 1999:12).

D. Metode Ceramah dalam Pembelajaran
Yang dimaksud dengan ceramah ialah penerangan dan penuturan secara lisan. Dalam pelaksanaan ceramah untuk menjelaskan uraiannya, pengajar dapat menggunakan alat bantuseperti gambar-gambar. Tetapi metode utama, berhubungan antara pengajar dengan pembelajar ialah berbicara. Peranan dalam metode ceramah adalah mendengarkan dengan teliti dan mencatat pokok-pokok penting yang dikemukakan oleh pengajar.
Ceramah wajar dipergunakan
1. Kalau pengajar akan menyampaikan fakta (kenyataan) atau pendapat dan tidak, terdapat bahan bacaan yang merangkum fakta atau pendapat yang dimaksud.
2. Kalau pengajar harus menyampaikan fakta kepada pembelajar yang besar jumlahnya atau karena besarnya kelompok pendengar sehingga metode-metode yang lain tidak mungkin dapat dipergunakan.
3. Kalau pengajar adalah pembicara yang bersemangat dan akanrnerangsang pembelajar untuk melaksanakan sesuatu pekerjaan.
Dalam metode Ceramah Organisasi kelas sederhana
Dengan ceramah, persiapan satu-satunya bagi pengajar adalah buku catatanya. Pada seluruh jam pelajaran ia berbicara sambil berdiri atau kadang-kadang duduk. Cara ini paling sederhana dalam pengaturan kelas, jika dibandingkan dengan metode demonstrasi di mana pengajar harus membagi kelas ke dalam beberapa kelompok, ia harus merubah posisi kelas dan sebagainya.
a. Kelemahan metode ceramah
1. Pengajar tak dapat mengetahui sampai di mana pembelajar telah mengerti pembicaraannya.Kadang-kadang pengajar beranggapan bahwa bila pembelajar duduk diam mendengarkan atau sambil mengangguk-anggukkan kepala, berarti pembelajar telah mengerti. Padahal anggapan tersebut sering meleset; walaupun, pembelajar menunjukkan reaksi seolah-olah mengerti, akan tetapi pengajar tidak mengetahui sejauh mana penguasaan pembelajar terhadap pelajaran itu. Oleh karena itu segera setelah ia berceramah, harus diadakan evaluasi, misalnya dengan tanyajawab
2. Kata-kata yang diucapkan pengajar, ditafsirkan lain oleh pembelajar. Dapat terjadi bahwa pembelajar niemberikan pengertian yang berlainan dengan apa yang dimaksud oleh pengajar. Kiranya perlu kita sadari bahwa tidak ada arti yang mutlak bagi setiap kata tertentu.Kata kata yang diucapkan hanyalah bunyi yang disetujui penggunaanya dalam suatu masyarakat untuk mewakili suatu pengertian. Misalnya: kata modul, bagi mahasiswa UT, pengertiannya adalah salah satu bentuk bahan belajar yang berujud buku materi pokok.Sedangkan bagi-para astronot, modul diartikan sebagai salah satu komponen dari pesawat luar angkasa.
Itulah sebabnya maka setiap anak harus membentuk perbendaharaan bahasanya berdasarkan pengalaman hidupnya sehari-hari. Selama ada persamaan pendapat antar pembicara dengar pendengar untuk mengerti maksud pembicara.
Bila pengajar menggunakan kata-kata yang abstrak seperti “kepribadian”, “kesusialaan”, “keadilan”, mungkin bagi setiap anak pengertiannya tidak sama atau sangat kabur untuk mengartikan kata-kata itu. Lebih-lebih lagi bila kata-kata itu dirangkaikan dalam suatu kalimat, akan semakin banyaklah kemungkinan salah tafsir arti pembicaraan pengajar. Itulah sebabnya seringkali pembelajar sama sekali tidak sapat memperoleh pengertian apapun dari pembicaraan pengajar. Maka bila pengajar ingin menjelaskan sesuatu yang kiranya masih asing bagi anak, pengajar dapat menyertakan peragaan dalam ceramahnya. Peragaan tersebut dapat berbentuk benda yang sesungguhnya, model-model dari benda, menggambarkan dengan bagan atau diagram di papan tulis
b. Batas batas kemungkinan metode ceramah
1. Pengajar tidak dapat mengetahui sampai di mana murid telah mengerti (memahami) yang telah dibicarakan.
2. Pada pembelajar dapat terbentuk konsep yang lain dari pada kata-kata yang dimaksudkan oleh pengajar tersebut.
c. Bagaimana mempersiapakan ceramah yang berdaya guna?
Langkah-langkah di bawah ini pada umumnya merupakan langkah yang dapat mempertinggi hasil metode ceramah.
a. Rumuskan tujuan khusus yang hendak dipelajari oleh pembelajar.
b. Setelah menetapkan tujuan, hendaklah diselidiki apakah .metode ceramah benar-benar merupakan metode yang sangat pada tempatnya.
c. Susuanan bahan ceramah yang benar-benar perlu diceramahkan.
d. Pengertian yang dapat dijelaskan dengan alat atau dengan uraian yang tertentu harus ditetapkan sebelumnya.
e. Tangkaplah perhatian siswa dan arahkan pada pokok yang akan diceramahkan.
f. Kemudian usahakan menanam pengertian yang jelas. Hal ini biasa dilaksanakan dengan melalui beberapa jalan misalnya : Pertama, pengajar memberikan ikhtisar ringkas mengenai pokok-pokok yang akan diuraikan. Kedua, pengajar menguraikan pokok tersebut dan akhirnya menyimpulakan pokok-pokok penting dalam pembicaraan itu.
g. Adakan rencana penilaian. Teknik evaluasi yang wajar digunakan untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan-tujuan khusus itu perlu ditetapkan.


E. Metode Diskusi dalam Pembelajaran
Metode diskusi ialah suatu cara penyampaian bahan pelajaran dan guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternatif pemecahan masalah. Dalam kehidupan modern ini banyak sekali masalah yang dihadapi oleh manusia; sedemikian kompieksnya masalah tersebut sehingga tak mungkin hanya dipecahkan dengan satu jawaban saja. tetapi kita harus menggunakan segala pengetahuan kita untuk memberi pemecahan yang terbaik. Ada kemungkinan terdapat lebih-dari satu jawaban yang benar sehingga harus menemukan jawaban yang paling tepat di antara sekian banyak jawaban tersebut.
Kecakapan untuk memecahkan masalah dapat dipelajari.-Untuk iru siswa harus dilatih sejak kecil. Persoalan yang kompleks sering kita jumpai dalam kehidupan bermasyarakat, karenanya dibutuhkan pemecahan atas dasar kerjasama. Dalam hal ini diskusi merupakanjalan yang banyak memberi kemungkinan pemecahan terbaik. Selain
memberi kesempatan untuk mengembangkan ketrampilan memecahkan masalah, juga dalam kehidupan yang demokratis kita diajak untuk hidup bermusyawarah, mencari
keputusan-keputusan atas dasar persetujuan bersama. Bagi anak-anak, latihan untuk peranan peserta dalam kehidupan di masyarakat.
a. Penggunaan Metode Diskusi
Seperti telah disinggung sekilas, bahwa metode tanya jawab dengan diskusi saling mencakup tetapi berbeda. Ada pertanyaan yang mengandung unsur diskusi, tetapi ada yang tidak. Dengan diskusi guru berusaha mengajak siswa untuk memecahkan masalah. Untuk pemecahan suatu masalah diperlukan pendapat-pendapat berdasarkan pengetahuan yang ada, dengan sendirinya kemungkinan terdapat lebih dari satu jawaban, malah mungkin terdapat banyak jawaban yang benar. agar mendapatkan gambaran yang jelas, marilah kita perhatikan contoh pertanyaan-pertanyaan berikut ini :
1. Bilamanakah bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa kesatuan di negara kita ?
2. Mengapa peserta Sipenraaru maupun PMDK pada tahun ini menurun ?
3. Apakah siaran teievisi sebaiknya d’iurus oleh Pemerintah, atau swasta ataukah sebagian
pemerintah sebagian swasta ?
4. Mengapa burung hantu tidak berdaya pada waktu siang?
5. Siapakah di antara kalian yang setuju diadakan ulangan secara mendadak ?
6. Beberapa orang guru mengeluh bahwa daya tampung di sekolah mereka sangat berbatas.
Jalan keluar apakah yang kiranya dapat ditempuh untuk mengatasi keadaan itu ?
7. Bentuk acara yang bagaimanakah yang akan kamu pilih untuk memperingati hari
kemerdekaan di sekolah kita?
8. Berapakah perbandingan antara angka kelahiran dan kematian penduduk dunia pada saat
lahirnya bayi yang ke-5 milyar ?
9. Mengapa pada saat ini banyak remaja laki-laki yang memakai perhiasan?
10.Jalan apakah yang dapat ditempuh untuk mengurangi penderitaan rakyat di Afrika Selatan?
Perhatikanlah sifat-sifat pertanyaan di atas. Pertanyaan no. 1,4 dan 8 memerlukan jawaban berfakta, jadi pertanyaan tersebut bukan diskusi melainkan tanya-jawab. Pertanyaan no. 5 hanya memerlukan pemungutan suara, tidak akan menjadi diskusi bila guru tidak meminta pendirian serta alasan siswa. Nomor 3 dan 9 meminta pertimbangan tentang fakta-fakta, maka diskusi menjadi hidup, karena akan muncul berbagai pandangan yang dapat dibenarkan. Sedangkan nomor 6, 7 dan 10 membutuhkan rencana bertindak dari pihak siswa, dan mengandung kemungkinan jawaban lebih dari satu.
Pertanyaan-pertanyaan yang baik untuk metode diskusi :
1) Menguji kemungkinan jawaban yang dapat dipertahankan lebih dari sebuah.
2) Tidak menanyakan “Manakah jawaban yang benar” tetapi lebih menekankan kepada
“mempertimbangkan dan-membandingkan”. Misalnya : Manakah kiranya yang paling
baik. pemecahan mana yang mungkin lebih berhasil. manakah yang akan lebih
memberikan manfaat.
3) menarik minat anak dan sesuai dengan taraf kemampuan/umurnya.

b. Peranan Guru atau Pemimpin Diskusi
Kemungkinan-kemungkinan jawaban yang bagajmana yang dapat dirumuskan oleh kelas terhadap suatu masalah ? Selama diskusi pemimpin atau guru kelas melihat adanya sejumlah jawaban yang mungkin, kemudian memilih jawaban yang dianggap merupakan jawaban yang setepat tepatnya. Hal manakah yang telah diterima oleh suara terbanyak sebagai persetujuan? Tindakan apakah yang sudali direncanakan ? Siapa yang melaksanakan, dan bilamana ?
Kebaikan Metode Diskusi
1) Siswa belajar bermusyawarah
2) Siswa mendapat kesempatan untuk menguji tingkat pengetahuan masing-masing
3) Belajar menghargai pendapat orang lain
.
4) Mengembangkan cara berpikir dan sikap ilmiah
Kekurangan/Kelemah an Metode Diskusi
1) Pendapat serta pertanyaan siswa dapat menyimpang dari poko persoalan.
2) Kesulitan dalam menyimpulkan sering menyebabkan tidak ada penyelesaian.
3) Membutuhkan waktu cukup banyak.

c. Jenis-jenis Diskusi
1) Buzz Group
Suatu kelas yang besar dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil 4 atau 5 orang. Tempat duduk diatur sedemikian rupa sehingga siswa saling berhadapan untuk memudahkan pertukaran pendapat. Diskusi ini dapat diadkan di tengah-tengah atau akhi
2) Fish Rowt
Diskusi terdiri dari beberapa orang peserta yang dipimpin oleh seorang ketua. Tcmpat duduk diatur setengah lingkaran dengan dua atau tiga kursi kosonu menghadap peserta, seolah-olah menjaring ikan dalam sebuah mangkuk (fish boxvli. Kelompok pendengar yang ingin menyumbangkan pikiran dapat duduk di kursi kosong tersebut. Ketua mempersilahkan berbicara dan setelah selesai kembali ketempat semula.
3) Whole Group
Suatu kelas merupakan satu kelompok diskusi dengan jurnlah anggota tidak lebih dari 15
anggota.
4) Syndicate group
Suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil yang terdiri dari 3-6 orang. Gurumenjelaskan garis besar masalah dengan aspek-aspeknya. kemudian tiap kelompok bertugas membahas suatu aspek tertentu dan membuat kesimpuian untuk diiaporkan dalam sidang pleno serta didiskusikan lebih lanjut.
5) Brainstorming
Merupakan suatu diskusi di mana anggota kelompok bebas menyumbangkan ide-ide baru terhadap suatu masalah tertentu. di bawah seorang ketua. Semua ide >ang sudah masuk dicatat. untuk kemudian diklasifikasikan menurut suatu urutan tertentu. Suatu saat mungkin ada diantara ide baru tersebut yang dirasa menarik untuk dikembangkan.
6) Informal debate
Kelas dibagi menjadi dua team yang agak sama besarnya unluk memperdebatkan suatu bahan yang problematis, tanpa memperhatikan peraturan diskusi panel.
7) Colloqinin
Merupukan suatu kegiatan dimana siswa’mahasiawa dihadapkan pada narasumber untuk
mengajukan pertanyaan. selanjuinya mengandung perianyaan-penanyaan tambahan dari
siswa. mahasiswa yang lain. Pelajaran dengan maksud untuk memperjelas bahan pelajaran yang telah diterima
Pemimpin diskusi dapat dipegang oleh guru sendiri, tetapi dapat juga diserahkan kepada siswa bila guru ingin memberi kesempatan kepada siswa unluk belajar memimpin.Kecakapan memimpin diskusi memang harus dilatih, bila kita menginginkan keberhasilan suatu diskusi. Seseorang .yang belum berpengalaman memimpin diskusi, suatu saat dapat menjadi kebingungan apabila terjadi pembicaraan yang jauh menyimpang dari pokok persoalan, Dapat pula terjadi. seseorang yang senang berbicara akan menguasai seluruh pembicaraan sehingga tidak memberi kesempatan kepada teman yang lain untuk Tnengemukakan pendapat.Demikian pula diantara peserta diskusi saling bertentangan pendapatnya, bagi pemimpin yang belum trampil, tidak dapat mencarikan jalan tengah sehingga seringkali diskusi berakhir lanpa adanya suatu kesimpulan yang jelas. Bila siswa belum pernah mengenal lata cara diskusi, rnereka akan berbicara secara serempak atau spontan menanggapi bila ada suatau pendapat yang menarik. Juga sering terjadi beberapa siswa belum memahami persoalan .sehingga memberikan komentar yang menyimpang dan berkepanjangan. Akibat suasana menjemukan dan tidak dapat-melihat kemajuan-kemajuan apa yang telah dicapai.
Pemimpin diskusi yang baik, akan sanggup dengan cepat mengambil tindakan menghadapi ketimpangan-ketimpangan tersebut diatas. Untuk itulah para siswa perlu dilatih untuk memperoleh ketrampilan pemimpin yang pada hakikatnya dapat dipelajari. Prof. DR. Winarno Surakhmad dalam bukunya “Metodologi Guruan Nasional”
mengemukakan tiga peranan pemimpin diskusi ialah sebagai (1) pengatur lalu lintas, (2) dinding penangkis, dan (3) penunjuk jalan


Pemimpin sebagai pengatur lalu lintas
Sebagai seorang pemimpin. la berhak untuk :
- Menunjukkan pertanyaan-pertanyaan kepada anggota
- Menjaga agar tidak semua anggota bicara secara serempak
- Mencegah dikuasai’nya pembicaraan oleh orang-orang tertentu yang gemar berbicara
- Membuka kesempatan bagi anggota yang pemalu atau pendiam untuk menyumbangkan ide-ide mereka
- Mengatur sedemikian sehingga setiap pembicaraan dapat ditangkap dengan jelas oleh pendengar.
Dari peran tersebut, dapat kita lihat bahwa pemimpin akan belajar memahami sifat-sifat para peserta. la akan belajar bagaimana mendorong si pendiam untuk ikut serta dan bagaimana mencegah anggota yang senang berbicara dan membuka kesempatan bagi anggota lain secara merata. Untuk membatasi orang yang senang berbicara, misalnya dapat dikatakan :“Baik. saya rasa pendapat anda itu telah dituangkan dengan jelas, coba mari kita lihat beberapa pendapat yang lain”. Atau kepada si pendiam :

Pembelajaran Berbahasa di Kelas Awal

Kelas satu Sekolah Dasar merupakan suatu kondisi baru yang merepresentasikan perubahan radikal. Menghabiskan lebih dari tigapuluh jam setiap minggu, jauh dari rumah, seringkali merupakan pengalaman baru; mereka harus bertanggungjawab atas tindakan dan tugas-tugas merek
Dalam tugas-tugas akademis, kemampuan pengamatan begitu banyak diperlukan untuk keberhasilan kelas. Sebagai contoh, Pengejaan , pada dasarnya suatu pengalaman visual. Mula-mula, sebagian besar anak Pendengar adalah pengeja yang baik, karena ketergantungan mereka pada kemampuan menangkap suara untuk memproduksi ulang kata-kata kalimat tunggal sederhana, yang merupakan tanda pengalaman pembaca dan penulis dasar pemula. Tetapi pada Bahasa Inggris, misalnya pengucapan ejaan huruf tertentu tidak sama dengan lambang hurufnya maka Pengamatlah yang mampu memahami ejaan katadalam mata pikirnya dan menjadi pengeja yang baik.
Menulis Tangan, juga merupakan pelajaran yang oleh Pengamat dirasakan mudah. Bagi penulis pemula, ingatan visual yang baik diperlukan untuk mengingat beragam huruf dan bentuk nomer sebelum menggoreskan di atas kertas. Koordinasi mata-tangan yang berkembang baik kemudian diperlukan untuk memprodukasi ulang huruf dan angka secara tepat ketika dimunculkan kembali. Kemampuan ini membantu ketika Pengamat selama mengikuti kelas kesenian .
Pada mata pelajaran Matematika, anak-anak Pengamat dapat mengingat simbol-simbol yang digunakan dalam penjumlahan danpengurangan (+, - , dan =). Pengamat juga mudah mengartikan grafik. Mereka juga unggul dalam memvisualisasikan beragam bentuk dan bangun geometris dan juga gambaran soal cerita,” Aini mempunyai enam jambu tetapi diberikan kepada Eka dua buah. Tinggal berapa jambu yang dimiliki oleh Aini sekarang?

Mata Pelajaran Pendengaran

Diantara mata pelajaran yang paling memerlukan kemampuan mendengar adalah membaca . Penguasaan membaca perlu karena dengan membaca seorang anak menyerap dan membedakan diantra suara-suara huruf yang berbeda, dan kemudian mencampur suara-suara tersebut untuk membentuk katakata yang terucap. Bahkan ketika membaca untuk dirinya sendiri, seorang anak “mengucapkan” tiap kata dalam pikirannya. Sangat mengejutkan, bahwa para pembaca yang paling awal biasanya para Pengamat, yang mengetahui kata-kata tertulis dengan menampilkan ingatan visual. Namun demikian, anak-anak Pengamat berda dibelakang ketika materi bacaan secara progresif menjadi lebih sulit. Mereka hanya dapat mengucapkan kata-kata yang mereka lihat sebelumnya. Mereka kurang memiliki kemampuan Pendengar yang diperlukan untuk menyesuaikan dengan kombinasi-kombinasi huruf yang tidak akrab.
Musik Dasar juga merupakan mata pelajaran pendengaran. Anak-anak diharapkan mendengarkan komposisi instrumental dan mengingat lirik maupun tempo yang semakin panjang dan kompleks ketika masa sekolah berjalan. Anak-anak dengan kemampuan auditorial dibawah rata-rata sangat tertekan untuk mendengarkan dan mengvokalkan. Dalam kenyataan, bahkan para Pendengar mungkin mengalami kesulitan dengan pembacaan musik atau pengetahuan nada, karena masing-masing kemampuan berasal dari sebuah bilik otak yang berbeda, dan dua bilik otak tidak selalu berkembang sama..
Matematika, merupakan hal mudah bagi anak Pendengar. Ingatan auditorial dan penangkapan cepat atas konsep bahasa yang berkembang baik memungkinkan untuk memproses informasi yang ada dalam soal-soal cerita. Pendengar juga mahir mengartikan kata-kata matematis seperti misalnya “segi empat”, “lingkaran”, “jam”; dan dengan mudah mengingat aturan dasar penjumlahan dan pengurangan; dan memperluas istilah “lebih banyak’, “lebih sedikit”, “tambah”, “kurang”, dan “sama dengan”.
Bekerja Sama Dengan Guru apapun kemampuan pembelajaran anak anda dan masalah yang mungkin muncul, anda akan mampu memberikan dukungan emosional dan bantuan praktis yang sangat baik ketika anda tetap mendapatkan informasi mengenai kehidupannya di sekolah. Pertemuan dua kali setahun dan buku raport catur wulan tentu saja bisa memberikan penjelasan namun tidak selalu memberikan informasi yang cukup terhadap masalah-masalah atau kondisi tertentu, misalnya permasalahan teman sebaya. Dengan terbiasa berkomunikasi dengan guru maka kita akan mengetahui bentuk tanggungjawab yang utuh antar guru dan orang tua dalam memaksimalkan potensi anak.

Fakta Yang Harus Disampaikan Kepada Guru

- Tingkat keteraturan kepribadian anak anda. Guru hendaknya diberitahu kenyataan bahwa anak anda mungkin memerlukan aturan dan rutinitas; atau ia dapat mengerjakan secara maksimal pada ruang terbuka atau bahwa ia memerlukan bantuan terus-menerus berkaitan dengan pengaturan materi.

- Fakta kemampuan dasar anak anda. Jika anak mengalami kesulitan dalam penjumlahna dan pengurangan, atau jika memiliki strategi khusus yang ia gunakan gunakan untuk mengingat materi subyek, beritahukanlah gurunya.

- Memberi les tambahan. Beritahukan kepada guru jikalau anda memberi les tambahan kepada anak anda. Hal ini dimaksudkan agar ada kerjasam yang saling mengisi antara guru kelas dan guru les tambahan.

- Informasi yang terkait kesehatan. Pada kondisi tertentu guru harus diberitahu tentang kesehatan anak dan pengobatan yang harus diberikan misalnya bila anak mengidap asma, epilepsi. Ataupun informasi yang terkait mengenai masalah pendengaran dan penglihatan.

- Situasi dirumah. Anda akan sangat membantu anak anda dengan memberitahukan kepada guru mengenai adanya perubahan besar dalam rumahtangga, terapi atau perlakuan salah dari anggota keluarga. Perubahan-perubahan besar seperti ini sangat mempengaruhi kemampuan anak untuk berperan di dalam kelas.

- Bahasa kedua. Ketika bahasa lain digunakan di rumah anda, baik sebagai sarana komunikasi utama maupun pelengkap diantara keluarga, maka guru hendaknya mengetahui hal tersebut. Hal ini agar guru memahami beberapa ketidaksenangan yang mungkin diperlihatkan oleh anak ketika ekspresi percakapan semakin kompleks.

- Rekomendasi. Penting untuk menyampaikan kepada guru mengenai masukan dari para ahli atau guru sebelumnya.

Pertanyaan Yang Harus Anda Ajukan Kepada Guru

- Apakah pekerjaan rumah anak anda selesai dan dikumpulkan tepat waktu ? Jika tidak, cari tahu apakah guru tidak memberi tugas dan paket materi untuk dikerjakan di rumah. Tanyakan kepada guru bagaimana anda dan anak anda dapat bekerja sama untuk mengurangi masalah pekerjaan rumah.

- Apakah anak anda menyelesaikan sebagian besar tugas kelasnya ? Jika tidak, faktor apa yang tampak menjadi penghalang? Tanyakan kepada guru apakah perubahan tempat duduk dapat membantu, atau apakah ada cara untuk memodifikasi beban kerja anak anda sehingga ia dapat mengalami keberhasilan kelas dan mengembangkan sikap yang lebih positif terhadap tugas kelas.

- Apakah anak anda memperhatikan di dalam kelas ? Jika terdapat masalah, apa penyebabnya menurut guru ? Tanyakan, apa yang ia lakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut, dan jelaskan strategi yang anda lakukan di rumah untuk mempertahankan perhatian anak anda pada tugas.

- Pada tingkat apa kemampuan baca dan matematika anak anda saat ini ? tanyakan apakah guru merasa bahwa kemajuan anak secara tepat merefleksikan kemampuannya.

- Apakah guru merekomendasikan bentuk bantuan tenaga ahli ? Dengan didasarkan pada perilaku kelas anak anda, apakah guru merasa bahwa seorang tutor atau psikolog dan tes ketidakmampuan belajar diperlukan ? Jika ya, minta guru untuk menjelaskan alasan atas rekomendasi tersebut.

- Pada tingkat apa anak anda berpartisipasi dalam diskusi kelas ? Apakah anak anda menyampaikan informasi, atau apakah ia menjawab hanya ketika diminta ? Dapatkah ia mengucapkan secara memuaskan ketika ia memiliki ide untuk dikemukakan ? Apakah ia merupakan seorang pendengar yang baik ketika bersama yang lain ? Jika tidak, tanyakan kepada guru apa yang perlu dilakukan untuk membantu situasi tersebut, daan jika perlu, diskusikan kemungkinan-kemungkinan solusi lain.

- Bagaimana pergaulan sosial anak anda ? Tanyakan kepada guru siapakah teman-teman anak anda, dan apakah ada seseorang yang menjadi teman bermain setelah sekolah. Cari tahu apakah anak anda menjadi pusat perhatian atau seorang yang penyendiri, dan diskusikan perasaan anak anda mengenai posisi ini. Juga tanyakan bagaimana anak anda memperlakukan teman kelasnya.

- Apakah yang dapat anda lakukan di rumah untuk membantu anak anda ? Guru mungkin memiliki ide-ide khusus tentanmg dukungan emosional ataupun akademis yang kan mempercepat perkembangan anak anda atau menyelesaikan masalah yang ada. Tunjukkan keinginan anda untuk bekerja sama dengan guru demi keberhasilan anak anda.




MODEL PEMBELAJARAN DAN AKTIVITAS EKSTRA KURIKULER

Aktivitas ekstrakurikuler dan waktu bermain informal juga sangat penting bagi anak kelas satu. Anaka anda biasanya tertarik pada aktivitas setelah sekolah karena ada teman mereka atau karena klub atau olah raga memiliki daya tarik visual. Ketertarikan paad segala bentuk ekstrakurikuler akan membantu anak anda mengembangkan ketertarikan dan kemampuan sosialnya. Jika anak anda memerlukan bimbingan untuk menentukan kegiatan ekstrakurikuler nya maka pilih kegiatan yang bisa memperkuat kemampuan yang kurang berkembang.

Aktivitas Visual untuk Anak Kelas Satu

Kegiatan visual ideal kelas satu memberi kesempatan untuk pertama kali megamati dan kemudian mengingat atau meniru, serigkali dengan mengkoordinasikan penggunaan mata dan tangan. Daftar berikut ini merupakan pertimbangan yang baik untuk anak anda :
- Badminton atau ping-pong
- Komputer
- Kerajinan tangan
- Menggambar dan melukis
- Piano, aatau instrumen musik lainnya.
- Koleksi perangko,kartu olah raga, ayau koin.
- Mengetik

Aktivitas Auditorial dan Bahasa untuk Anak Kelas Satu
Untuk membangkitkan kemampuan auditorial dan bahasa, sebuah aktivitas hendaknya memberi seorang anak kesempatan untuk bersosialisasi, meemimpin sebuah kelompok, mendengar dan belajar atau menunjukkan bakat verbal. Inilah beberapa aktivitas Pendengar yang sangat baik bagi seorang anak kelas Satu.
- Pramuka
- Kelas Keramik
- Pertunjukan anak-anak
- Paduan Suara
- Program kemah atau rekreasi.
- Kelas Drama
- Bercerita di perpustakaan

Aktivitas Motoris Kasar untuk Anak Kelas Satu

Aktivitas motoris kasar yang sempurna bagi anak kelas satu adalah yang memiliki sedikit aturan untuk dilaksanakan dengan cara bertindak, yang mencakup menyentuh dan bergerak, mendorong penggunaan otot-otot besar anak atau yang memungkinkan anak untuk menghabiskan waktu di luar ruang. Programprogram berikut ini patut dipertimbangkan:
- Kelas aerobik atau fitnes
- Bersepeda
- Berpetualang dan berkemah
- Mengendarai kuda
- Seluncur es
- Program-program alam
- Terbang layang
- Berenang
- Tari tap, jazz, balet

Ketika menjelaskan kegiatan ekstrakurikuler kepada anak kelas satu anda, mohon tanamkan dalam pikiran setiap anak bahwa tanpa memandang model pembelajarannya, mereka memerlukan aktivitas fisik untuk alasan kebugaran dan kesehatan
Strategi Pekerjaan Rumah Untuk Pengamat, Pendengar Dan Penggerak.
Dari masa bayi sampai taman kanak-kanak, tujuan melakukan identifikasi model pembelajaran adalah untuk memberinya sebuah pendekatan pembelajaran yang lebih berimbang dengan mengembangkan kemampuan Pengamat, Pendengar, adan Penggerak ketika diperlukan. Tugas orang tua agak berubah pada saat anak menginjak kelas satu karena anak dituntut untuk memiliki kemampuan akademis. Anda dapat membantu anak kelas satu anda melakukan hal ini dengan mengajarkannya menggunakan cara pembelajaran dominannya untuk membaca, menulis, mengeja, danmengerjakan matematika yang ia lakukan di rumah maupun di sekolah.

Strategi untuk Pengamat

Seorang anak Pengamat memerlukan ruang kerja yang rapi, yang teratur, dengan semua materi berada dalam tatanan yang jelas. Berikan kotak dan keranjang warna-warni, yang rapi dimana ia dapat menyimpan pensil, krayon, kertas dan alat-alat lain. Tempatkan sebuah dafter pelajaran dan juga lembaran kertas menarik untuk mencatat tiaap tugas yang terselesaikan .Gunakan beragam stiker, bintang dan wajah-wajah cerah sebagai penghargaan karena tekun dengan beban tugas bahasa.
Soal matematika bagi Pengamat akan lebih mudah apabila divisualisaikan mungkin dengan mengelompokkan kelereng atau manik-manik untuk merepresentasikan jumlah yang ia ingin tambahkan atau kurangkan. Anda dapat memberi pena-pena yang gemerlap, dan beri dorongan anak anda untuk menggunakannya mewrnai kata-kat atu nama-nama yang penting dalam bacaannya. Juga gunakan kartu flash yang merupakan sebuah sarana yang sangat baik bagi Pengamat yang memiliki keunggulan dalam ingatan.

Strategi untuk Pendengar

Seorang anak Pendengar jarang perlu diingatkan untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Perkerjaan akademis begitu mudah baginya sehingga banyak mengerjakan tugas baginya merupakan kesenangan, bukan sebuah tugas atau beban. Meskipu ia tidakk perlu banyak dorongan dari luar, Pendengar tumbuh pada penguatan kerja verbal yang berkembang baik. Sangat membantu bagi seorang anak Pendengar untuk belajar berbicara dengan dirinya sendiri waktu melakukan tugas-tugas yang sulit. Juga doronglah
Pendengar untuk menggunakan tape rekaman pada waktu dia memahami sesuatu yang baru seperti rumus matematika, kata-kata dari sebuah lagu, maka ia dapat merkam informasi dan memutar kembali tape sehingga ia dengan mudah mengingatnya.

Strategi untuk Penggerak

Anak-aanakPenggerak memerlukan dukungan ketika ia memasuki dunia akademis. Merupakan ide yang baik untuk mempertahankan pendeknya waktu pekerjaan rumah Penggerak. Kehadiran anda secara fisik akan memnatu mempertahankan folus pada tugasnya. Matikan televisi, matikan telepon, jauhkan dari kebisingan ketika anak berkonsentrasi mengerjakan pekerjaan akademisnya. Memeluk, membalas menepuk sangat memotivasi bagi seorang anak Penggerak. Imbalan yang menarik lainnya bagi anak Penggerak yang selesai mengerjakan tugasnya adalah bermain di luar, membuatkan pizza dan memberikan makanan lainnya seperti keju, jagung atau segelas jus dingin secara periodik akan membuat waktu mengerjakan pekerjaan rumah lebih nyaman

Membangun Kemampuan Pengamat

Kemampuan-kemampuan Pengamat memungkinkan seorang anak untuik memperlihatkan lingkungannya, mengingat apa yang ia lihat, memvisualisasikan konsep, dan mengkoordinasikan mata dan tangannya. Oleh karena itu anak kelas satu dengan kemampuan pengamatan di bawah rata-rata akan sulit untuk membaca dan menulis, penjumlahan dan pengurangan, soal-soal cerita dan karya seni – yang semua memerlukan kemampuan-kemampuan yang anak belum miliki.
Kemampuan Pengamat seorang anak kelas satu dapat diperluas dan ditingkatkan melalui pemanfaatan alat permainan dan aktivitas yang dipilih khusus. Anak-anak yang pada dasarnya adalah Pengamat akan menyambut baik usaha orang tuanya untuk memberikan lebih banyak pengalaman visual yang mereka harapkan; Pendengar dan Penggerak mungkin perlu banyak usaha untuk meyakinkan dalam bentuk aktivitas yang sesuai dengan stimulan yang disukainya, baik auditorial maupun kinestatik. Namun apaun model bawaan lahir anak kelas satu anda, ide-ide berikut ini akan membantu anda untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan Pengamatnya.

Meningkatkan Kemampuan Pengamat Yang Ada Pada Anak Kelas Satu.

- Sertakan anak anda dalam permainan tongkat pengungkit.
- Bawa anak anda pada kunjungan galeri sei. Berikan banyak waktu untuk mempelajari, membandingkan dan memperhatikan kembali karya-karya seni yang menurutnya menarik.
- Pelajari peta bersama dengan anak anda. Ia akan senang mengamati kota kecilnya, kota besar , negara.
- Belilah program-program komputer untuk anak kelas satu.
- Dorong anak anda untuk memasangkan model mobil atau pesawat dari kotak-kotak kubus.
- Biarkan anak anda melihat buku-buku gambar mengenai bintang-bintang dan konstalasinya dan kemudian bantu mereka untuk memandang hal nyata dengan memberinya sebuah teleskop atau mengajaknya ke planetarium.
- Kunjungi observatorium terdekat untuk menambah wawasan pengetahuan.
- Dorong ekspresi artistik anak anda, dengan seleksi materi yang banyak – spidol, pewarna, cat air, kertas warna/krep.
- Sembunyikan sebuah ‘harta karun” kecil di dalam rumah atau halaman anda. Kemudian gambar sebuah peta harta karun dengan tanda visual yang dapat digunakan anak anda untuk menemukan benda yang disembunyikan.
- Berikan kertas origami dan cara pembuatan yang sederhana , bimbinglaah ia dalam berkarya.
- Beri label perabotan rumah – sebuah tempat tidur, sebuah lampu, sebuah meja- dengan kartu-kartu yang mengejakan nama-nama obyek.
Meningkatkan Perkembangan Kemampuan Pengamat Pada Anak Kelas Satu

Pendengar Dan Penggerak
- Bantu anak anda mendesain sebuah akuarium atau menggambar sebuah rencana untuk kebun tanaman. Bimbing ia untuk menyelesaikan program tersebut.
- Bawalah anak ke museum iptek danmuseum lainnya yang menarik dan membuka wawasan.
- Ajarkan anak anda untuk main petak umpet.
- Mainkan video game bersama dengan anak anda untuk membantu meningkatkan kemampuan berkonsentrasi secara visual.
- Mintalah untuk memainkan puzzle.
- Dorong anak anda untuk menyusun bangunan dari balok-balok atau potongan-potongan balok.
- Ajarkan anak untuk fokus pada detail visual dengan memberikan teropong untuk digunakan di luar rumah atau sebuah mikroskop mainan untuk digunakan di dalam rumah.
- Bacakan anak anda sebuah kisah dalam sebuah ruang gelap, dan minta ia untuk menggambarkan tindakan tersebut. Berilah pertanyaan yang akan menstimulasi gambaran visual seperti: ”Apa yang Cinderella pakai ke pesta dansa ?” dan”Keretanya seperti apa ?’
- Gambarlah /bentuklah dalam bidang persegi kalender untuk menunjukkan peristiwa-peristiwa penting – sebagai contoh ulang tahun, salju pertama, berangakat sekolah, gantung kalender tersebut di kamar anak.

Membangun Kemampuan Pendengar

Kemampuan untuk bercakap-cakap, mengekspresikan diri, dan bersosialisasi merupakan hal yang sangat tidak ternilai bagi siswa-siswa dari semua umur, namun khususnya pada masa sekolah dasar, ketika kepercayaan diri dan sikap seorang anak kepada sekolah mulai terbentuk. Dan tentu saja kemampuan Pendengar juga diperlukan untuk membaca, musik dan aspek-aspek tertentu dari matematika. Apakah anak anda seorang Pengamat, Pendengar atau Penggerak, ia tetap mendapat manfaat dari perkembangan kemampuan auditorial dan bahasa.
Sebagaimana biasanya, Pendengar dangan sendirinya akan sangat reseptif atas semaua pengalaman Pendengar yang orang tua berikan. Namun meskipun demikian seorang Pengamat dan Penggerak juga dapat meningkatkan kepandaian verbal dan auditorialnya dengan menggunakan maina dan teknik yang menggunakan baik kemampuan belajar bawaan lahirnya maupun kemampuan yang anda harapkan berkembang.

Meningkatkan Kemampuan Pendengar Yang Ada Pada Anak Kelas Satu.

- Mainkan kata kunci, sebuahpermainan di mana seorang pemain mencoba memberikan kesempatan pemain kedua untuk menebak sebuah kata tertentu dengan memberikan sinonim dan satu kata petunjuk awal yang lain.
- Ijinkan anak anda untuk menerima panggilan telepon dari keluarga dan teman.
- Ketika anda membaca bersama, bacalah dua buku; satu buku yang anak anda akan dengarkan dan satu buku lain yang anak anda akan bacakan kepada anda.
- Sarankan anak anda agar mulai menulis buku harian atau jurnal dimana ia dapat membuat catatan mengenai peristiwa-peristiwa khusus dalam hidupnya. Dorong penggunaan ejaan inventif sehingga anak anda dapat bereksperimen dengan kata-kata yang lebih menyenangkan.
- Tunjukkan kepada anak berita utama dan foto-foto surat kabar yang berkaitan dengan tiap cerita.
- Sarankan anak anda agar menulis buku ceritanya sendiri. Gunakan waktu bersama dengan membicarakan mengenai cerita, dorong ia untuk menambahkan ilustrasi, dan ketika selesai ikatlah hasilnya dengan pita atau benang.
- Bacakan puisi kepada anak anda, dan dorong ia untuk menulis puisinya sendiri. Bantu ia dengan memberi tema-tema yang memungkinkan.
- Penuhi sisi sosial anak anda memperbolehkannya mengundang seorang teman untuk makan siang atau menginap.


Meningkatkan Perkembangan Kemampuan Pendengar Bagianak Kelas Satu

Pengamat Dan Penggerak
- Bangun kosa kata anak anda dengan menggunakan gambar-gambar.
- Berikan mikrofon ukuran anak-anak dengan sebuah amplifier yang dioperasikan dengan baterai. Dorong anak anda untuk menggunakannya untuk mengungkapkan sebuah gurauan, menyanyi, atau mengucapkan kata.
- Pada waktu berada di dalam mobil putarlah kaset kesayangannya.
- Mintalah dia untuk menggambarkan sesuatu yang ia sukai- contoh rumah nenek, lapangan, seekor binatang – dan bantu ia untuk membuat sebuah kisah mengenai apapun yang ia gambar.
- Buatlah sebuah papan cerita dengan menggunakan potongan-potongan tersusun yang digunting dari majalah. Anda dan dia dapaat kembali menceritakan sebuah kisah mengenai gambar yang ia pilih.
- Buatlah permainan sinonim. Katakan “ Apa kat lain untuk luas ? …. Rusak?….. mobil?” dan seterusnya.
- Berjalan-jalanlah bersama anak anda, dan gunakan waktu tersebut untuk mempraktekkan katakata sajak dan menamai kata-kata dengan arti yang sebaliknya.

Membangun Kemampuan Penggerak

Anak anda mungkin tidak memerlukan kemampuan Penggerak ketika ia membaca, menulis, atau mengingat fakta-fakta matematika, namun itu tidak berarti bahwa kemampuan Penggerak akan diabaikan. Seorang anak yang memiliki kecepatan dan koordinasi seorang Penggerak juga memiliki rasa percaya diri yang akan tetap ada pada dirinya dalam semua perilaku. Oleh sebab itu, penting untuk mengembangkan kemampuan motoris kasar anak anda, apapun pilihan pembelajaran bawaannya

Meningkatkan Kemampuan Penggerak Yang Ada Pada Anak Kelas Satu.
- Bermainlah bersama dengan anak untuk membangun sebuah kandang burung, balok keseimbangan atau rumah mainan.
- Doronglah anak untuk menaiki mainan menunggang kuda.
- Ikatlah net atau talli di halaman belakang rumah anda, gunakan untuk sebuah permainan badmintoon atau bola voli.
- Pada hari yang berangin, ajarkan kepada anak anda bagaimana menerbangakan sebuah layang-layang.
- Masukkan anak anda kekelas tari atau sei bela diri
- Dorong anak anda untuk berpartisipasi dalam sebuah olah raga yang teratur, seperti softball, baseball, atau soccer.
- Perkenalkan anak dengan ski.
- Cari tempat bermain baru dan berbeda, dimana anak dapat bermain.

Meningkatkan Perkembangan Kemampuan Penggerakan Bagi Anak Kelas Satu

Pengamat Dan Pendengar

- Bawa anak anda ke halaman belakang untuk permainan kejar-kejaran
- Rencanakan petualangan mini bersama anak anda seperti, wosata ke pantai, pergi ke sebuah festival seni, ke sebuah pertunjukan, atau ke dermaga.
- Minta bantuan anak anda untuk menanam dan merawat kebun sayuran atau bunga. Tunjukkan satu bagian dimana dia dapat bereksperimen dan berkreasi.
- Beri saran anak anda, agar mengundang beberapa anak tetangga untuk bermain bola.
- Dirikan sebuah tenda atau unutk sementara dari selimut, dan berkemahlah bersama anak anda.
- Masukkan anak anda ke dalam kelas drama anak-anak.
- Daftarkan anak anda menjadi anggota pramuka.
- Hubungan sekolah anak anda untuk mengunjungi museum science atau IPTEK.
- Bersepedahlah bersama anak anda melewati lingkungan yang baru dan berbeda.

Ketika anda mempertimbangkan saran-saran tersebut di atas, janganlah terpaku hanya pada butir-butir yang ada di atas. Kreativitas anda dan dengan menyesuaikan kompetensi anak anda, maka andalah yang paling mengetahui aktivitas apa yang memungkinkan anak berkembang secara seimbang ketiga kompetensi anak.

Mohon bersabar ketika anda menanti hasilnya. Tingkat kemampuan anak anda yang berusia 6-7 tahun, saat ini berada dalam proses pembentukkan. Dan kemajuan mungkin membutuhkan wakut berminggu minggu atau berbulan-bulan. Meskipun demikiaan, tidak diragukan lagi, bahwa upaya anda akan membawa anak anda menjadi lebih mendapat perhatian anda, dengan membiarkannya menikmati kegembiraan maksimal dan memperoleh banyak peningkatan kemampuan belajar dari waktu yang ia habiskan di rumah

Membaca Permulaan & Permainan bahasa

Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca bagi siswa sekolah dasar kelas awal. Siswa belajar untuk memperoleh kemampuan dan menguasai teknik-teknik membaca dan menangkap isi bacaan dengan baik. oLeh karena itu guru perlu merancang pembelajaran membaca dengan baik sehingga mampu menumbuhkan kebiasan membaca sebagai suatu yang menyenangkan.

Empat Aspek Keterampilan Berbahasa dalam Dua kelompok kemampuan
1. ketrampilan yang bersifat menerima (reseptif) yang meliputi ketrampilan membaca dan menyimak,
2. ketrampilan yang bersifat mengungkap (produktif) yang meliputi ketrampilan menulis dan berbicara (Muchlisoh, 1992: 119).

Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar (SD) bertujuan meningkatkan kemampuan siswa berkomunikasi secara efektif, baik lisan maupun tertulis, baik dalam situasi resmi non resmi, kpd siapa, kapan, dimana, untuk tujuan apa. bertumpu pada kemampuan dasar membaca dan menulis juga perlu diarahkan pada tercapainya kemahirwacanaan.

Tujuan membaca permulaan di kelas I adalah agar “Siswa dapat membaca kata-kata dan kalimat sederhana dengan lancar dan tepat (Depdikbud, 1994/1995: 4).
Pelaksanaan membaca permulaan di kelas I sekolah dasar dilakukan dalam dua tahap, yaitu membaca periode tanpa buku dan membaca dengan menggunakan buku.
1. Pembelajaran membaca tanpa buku dilakukan dengan cara mengajar dengan menggunakan media atau alat peraga selain buku misalnya kartu gambar, kartu huruf, kartu kata dan kartu kalimat,
2. Pembelajaran membaca dengan buku merupakan kegiatan membaca dengan menggunakan buku sebagai bahan pelajaran.

Bagaimana Pembelajaran Bahasa pada Kelas Awal?
Anak di kelas permulaan (usia 6 - 8 tahun) berada pada fase bermain. Dengan bermain anak akan senang belajar, semakin senang anak semakin banyak yang diperolehnya. Permainan memiliki peranan penting dalam perkembangan kognitif dan sosial anak (Dworetzky, 1990). Karena dalam bermain guru mendukung anak belajar dan mengembangkannya (Wood, 1996).

MEMBACA PERMULAAN
1. Membaca permulaan merupakan suatu proses ketrampilan dan kognitif. Proses ketrampilan menunjuk pada pengenalan dan penguasaan lambang-lambang fonem, sedangkan proses kognitif menunjuk pada penggunaan lambang-lambang fonem yang sudah dikenal untuk memahami makna suatu kata atau kalimat.
2. Pembelajaran memabaca permulaan diberikan di kelas I dan II. Tujuannya adalah agar siswa memiliki kemampuan memahami dan menyuarakan tulisan dengan intonasi yang wajar, sebagai dasar untuk dapat membaca lanjut

Pembelajaran membaca permulaan merupakan tingkatan proses pembelajaran membaca untuk menguasai sistem tulisan sebagai representasi visual bahasa. Tingkatan ini sering disebut dengan tingkatan belajar membaca (learning to read).
Sedangkan…
Membaca lanjut merupakan tingkatan proses penguasaan membaca untuk memperoleh isi pesan yang terkandung dalam tulisan. Tingkatan ini disebut sebagai membaca untuk belajar (reading to learn).

PERMAINAN BAHASA
Permainan bahasa merupakan perminan untuk memperoleh kesenangan dan untuk melatih ketrampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca dan menulis).

Apabila suatu permainan menimbulkan kesenangan tetapi tidak memperoleh ketrampilan berbahasa tertentu, maka permainan tersebut bukan permainan bahasa. Sebaliknya, apabila suatu kegiatan melatih ketrampilan bahasa tertentu, tetapi tidak ada unsur kesenangan maka bukan disebut permainan bahasa.

Sebuah permainan disebut permainan bahasa, apabila suatu aktivitas mengandung kedua unsur kesenangan dan melatih ketrampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca dan menulis).

Setiap permainan bahasa yang dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran harus secara langsung dapat menunjang tercapainya tujuan pembelajaran.

Anakanak pada usia 6 – 8 tahun masih memerlukan dunia permainan untuk membantu menumbuhkan pemahaman terhadap diri mereka.

Aktivitas permainan digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan cara yang menyenangkan. Menurut Dewey (dalam Polito, 1994) bahwa interaksi antara permainan dengan pembelajaran akan memberikan pengalaman belajar yang sangat penting bagi anak-anak.

Permainan Bahasa
Permainan dapat menjadi kekuatan yang memberikan konteks pembelajaran dan perkembangan masa kanak-kanak awal. Untuk itu perlu, diperhatikan struktur dan isi kurikulum sehingga guru dapat membangun kerangka pedagogis bagi permainan. Struktur kurikulum terdiri atas
a. perencanaan yang mencakup penetapan sasaran dan tujuan,
b. pengorganisasian, dengan mempertimbangkan ruang, sumber, waktu dan peran orang dewasa,
c. pelaksanaan, yang mencakup aktivitas dan perencanaan, pembelajaran yang diinginkan, dan
d. assesmen dan evaluasi yang meliputi alur umpan balik pada perencanaan (Wood, 1996:87).

Media
Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, guru dapat melakukan simulasi pembelajaran dengan menggunakan kartu berseri (flash card). Kartu-kartu berseri tersebut dapat berupa kartu bergambar. Kartu huruf, kartu kata, kartu kalimat.

Strategi
Dalam pembelajaran membaca permulaan guru dapat menggunakan strategi bermain dengan memanfaatkan kartu-kartu huruf. Kartu-kartu huruf tersebut digunakan sebagai media dalam permainan menemukan kata. Siswa diajak bermain dengan menyusun huruf-huruf menjadi sebuah kata yang berdasarkan teka-teki atau soal-soal yang dibuat oleh guru. Titik berat latihan menyusun huruf ini adalah ketrampilan mengeja suatu kata (Rose and Roe, 1990).

Teknik
Dalam pembelajaran membaca teknis menurut Mackey (dalam Rofi’uddin, 2003:44) guru dapat menggunakan strategi permainan membaca, misalnya:

cocokkan kartu,
ucapkan kata itu,
temukan kata itu,
kontes ucapan,
temukan kalimat itu,
baca dan berbuat dan sebagainya.

Kartu-kartu kata maupun kalimat digunakan sebagai media dalam permainan kontes ucapan (mengucapkan atau melafalkan). Pelafalan kata-kata tersebut dapat diperluas dalam bentuk pelafalan kalimat bahasa Indonesia. Yang dipentingkan dalam latihan ini adalah melatih siswa mengucapkan bunyi-bunyi bahasa (vokal, konsonan, dialog, dan cluster) sesuai dengan daerah artikulasinya

Permainan Kata
Permainan kata dan huruf dapat memberikan suatu situasi belajar yang santai dan menyenangkan. Siswa dengan aktif dilibatkan dan dituntut untuk memberikan tanggapan dan keputusan.

Dalam memainkan suatu permainan, siswa dapat melihat sejumlah kata berkali-kali, namun tidak dengan cara yang membosankan. Guru perlu banyak memberikan sanjungan dan semangat.

Hindari kesan bahwa siswa melakukan kegagalan. Jika permainan sukar dilakukan oleh siswa, maka guru perlu membantu agar siswa merasa senang dan berhasil dalam belajar.


Memilih Kata
Cara membuat
Pada kartu yang panjang ditempeli sebuah gambar sederhana. Di samping gambar ditulis suatu pilihan tiga kata, satu yang sesuai dengan gambar dan dua yang mirip dengan gambar. Pada punggung kartu warnai suatu ruang untuk menyatakan kata yang benar. Kemudian disediakan jepit kertas.
Cara Bermain
Dua orang siswa memutuskan kata mana yang sepadan dengan gambar, kemudian menaruh jepit di samping kartu kata itu. Untuk mengecek baliklah kartu.

Melengkapi kalimat
Pada kartu yang panjang tertulis kalimat dengan satu kata hilang. Pada kartu tersebut diberi celah untuk kata-kata yang hilang. Kemudian membuat kartu gambar yang cocok dengan celah itu.
Cara membuat
Sebuah kalimat ditulis diatas kartu panjang dengan satu kata dihilangkan. Pada kata yang dihilangkan tersebut dilubangi untuk menyelipkan kartu yang cocok untuk melengkapi kalimat. Kemudian membuat kartu-kartu kata yang salah satunya cocok untuk celah pada kartu kalimat.
Cara Bermain
Satu atau dua orang membaca kalimat dan mencocokkan kartu-kartu gambar dalam spasi yang kosong. Kemudian siswa menyelipkan kartu kata yang cocok pada celah kartu kalimat.

Batu Loncatan
Cara Membuat
Karton atau kertas digunting menjadi sejumlah bundaran. Pada bundaran tersebut ditulis nama anggota keluarga atau teman-teman. Kertas dapat bermacam-macam warna.
Cara Bermain
Guru melakukan suatu perintah, misalnya “Loncat ke Ayah”. Siswa harus menemukan bundaran yang benar dan melompat disitu sambil menunggu perintah selanjutnya. Dapat juga diubah menjadi sebuah permainan pembentukan kalimat. Dengan memasukkan kata kerja dan bagian-bagian lain dari bahasa lisan. Siswa harus melompat ke bundaran-bundaran itu dalam urutan yang benar agar tersusun sebuah kalimat.

True or false
Pada permainan true or false, pengajar membagikan kartu kepada siswa yang berisi tentang berbagai macam bentuk kalimat tanya.

Siswa harus menentukan apakah kalimat yang ada dalam kartu tersebut benar atau salah.

Selanjutnya mereka mereka berbaris di sisi kiri dan kanan sesuai dengan jawaban yang mereka berikan (misalnya: jawaban benar di sebelah kanan, jawaban salah di sebelah kiri).
Mereka pun diminta memberikan alasan mengapa mereka menjawab benar atau salah. Dalam prosesnya, siswa bisa pindah barisan, jika dia berubah pikiran. Permainan ini digunakan untuk melatih materi tentang struktur kalimat tanya.

Card Sort
Melatih kosa kata siswa.
Guru menempelkan beberapa kartu di papan yang berisi tentang beberapa istilah umum seperti manusia, alam, binatang.
Siswa pun sudah mendapatkan kartu berisi kosa kata yang berhubungan dengan suara yang diperdengarkan oleh manusia, binatang, dan alam. Misalnya: mengerang, berhembus, mengembik, dan lain sebagainya.
Agar tidak ribut, siswa diminta memasang kartu-kartu mereka di papan tanpa bicara.

Index card match
adalah permainan untuk melatih pengetahuan tentang lawan kata (antonim). Misalnya: gelap – terang, tinggi – rendah, dan lain-lain. Cara bermain sbb:
Siswa harus mencari rekannya yang memiliki kartu dengan kata yang berlawanan dengan kata pada kartu miliknya.
Selanjutnya mereka harus duduk atau berdiri berdekatan.
Permainan ini juga bisa dilakukan tanpa mengeluarkan suara sehingga ekspresi yang muncul akan lebih menarik, suasana kelas pun tidak terlalu ribut (karena walaupun tanpa suara, bunyi-bunyi yang dikeluarkan pun tetap saja lucu).

Menyusun cerita
Adalah alternatif permainan yang dilakukan untuk melatih kemampuan siswa menyusun satu paragraf yang logis. Caranya sbb,
kartu-kartu ditempelkan di dinding, dan para siswa diminta menyusun kartu-kartu tersebut menjadi satu jalinan cerita yang utuh dan bermakna.
Pada permainan tunjuk abjad, siswa diminta mengumpulkan sebanyak mungkin kosa kata yang berawalan abjad tertentu.
Guru bisa memodifikasi permainan ini dengan menentukan kosa kata untuk kelas kata tertentu, misalnya kata kerja dari abjad S, atau kata sifat dari abjad T, dan lain sebagainya.

SIMPULAN

Pemerolehan dan kompetensi bahasa yang meliputi tataran fonologis (bunyi), morfologis (kata), sintaksis (kalimat), dan semantis (makna) harus diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran.

Permainan-permainan yang telah disebutkan di atas pun disesuaikan dengan tataran kebahasaan tersebut. Permainan true or false misalnya digunakan untuk melatih tataran sintaksis, card sort untuk tataran semantis, dan lain-lain.

Seperti pemerolehan pengetahuan yang lain, pemerolehan bahasa pun sebaiknya dilakukan bertahap dari tataran fonologis kemudian meningkat sampai ke tataran semantis, karena secara kognitif, manusia (dalam hal ini khususnya anak) memelajari dan memproduksi bahasa dari bunyi yang dia dengar kemudian ditiru dan diucapkan, kemudian membentuk kata, menyusun kata menjadi kalimat, berlanjut menuju memaknai kata atau kalimat. Kompetensi mendengar, berbicara, membaca, dan menulis harus terintegrasi dalam pengajaran bahasa.

MODUL DIKLAT SERTIFIKASI GURU

A. RUANG LINGKUP
Materi modul pengembangan kemampuan berbahasa anak TK meliputi :
1. Perkembangan menyimak mencakup pengertian menyimak fungsi manyimak, tujuan menyimak, jenis menyimak di TK dan strategi mengembangkan kemampuan menyimak di TK.
2. Perkembangan berbicara mencakup pengertian berbicara, dan tipe perkembangan berbicara pada anak.
3. Perkembangan membaca mencakup pengetrian membaca, pentingnya membaca, tujuan membaca, faktor faktor yang mempengaruhi pembaca dan strategi pengembangan kemampuan membaca di TK.
4. Menulis mencakup pengertian menulis ditahapan-tahapan perkembangan menulis pada anak
5. Permainan bahasa di Taman Kanak-Kanak

B. TUJUAN
Setelah mempelajari modil ini, peserta diharapkan :
1. Menjelaskan pengertian, fungsi, tujuan dan strategi menyimpak di TK
2. Menjelaskan pengertian dan tipe perkembangan berbicara pada anak
3. Menjelaskan pengertian, manfaat, tujuand an faktor-faktor membaca serta strategi pengembangan kemampuan membaca di TK.
4. Menjelaskan pengertian menulis dan tahapan-tahapan menulis pada anak
5. Menyusun permainan yang dapat memicu pada pengembangan bahasa anak TK.




C. MATERI
I. PERKEMBANGAN MENYIMAK
Kemampuan menyimak sebagai salah satu kemampuan berbahasa awal yang harus dikembangkan, memerlukan kemampuan bahasa resepsi dan pengalaman, dimana anak sebagai penyimak secara aktif memproses dan memahami apa yang didengar.
A. PENGERTIAN MENYIMAK
Sebelum kita ketahui apa itu menyimak, terlebih dahulu kita perlu membedakan tiga istilah yang sering orang menyamakan maknanya. Tiga istilah tersebut adalah mendengar, mendengarkan, dan menyimak. Dalam bahasa Inggris padanan kata kata mendengarkan adalah to hear, sedangkan padanan kata menyimak adalah to listen. Mendengar bersifat represif pasif dan terjadi secara alamiah karena seseorang memiliki indra pendengaran. Jadi, mendengar bisa tanpa sengaja dan tanpa tujuan, serta yang didengar bisa bunyi apa saja. Artinya bunyi yang didengar tidak hanya bunyi bahasa, tapi bisa bunyi bom, bunyi ombak, dan lain-lain. Dalam kegiatan mendengarkan dilakukan dengan sengaja, penuh kesadaran dan bertujuan. Seperti yang dikemukakan oleh Laundsteen (1979 : 1) mendengar meliputi cara penerimaan suara sedangkan mendengarkan merupakan penertemahan suara-suara yang masuk dalam arti merupakan proses oleh pembicara dan mengubah arti dalam otak. Jadi mendengar adalah proses yang aktif secara sadar termasuk menghubungkan arti dengan suara yang didengar. Akan tetapi, menurut (Akhadiah, 1995/1997 : 147) dalam kegiatan mendengarkan belum ada keinginan atau upaya pendengar untuk betul-betul memahami makna yang didengarkan, berbeda dengan menyimak. Dalam kegiatan menyimak sudah ada faktor kesengajaan, perhatian, dan usaha pemahaman akan sesuatu yang disimak.
Kegiatan menyimak dapat dilakukan oleh seseorang dengan bunyi bahasa sebagai sumbernya, sedangkan mendengar dan mendengarkan bisa bunyi apa saja. Jadi, menyimak kandungan makna yang lebih spesifik bila dibandingkan dengan menengar dan mendengarkan. Namun, sekali lagi dalam penggunaannya istilah mendengarkan dan menyimak sering digunakan secara bergantian atau disamakan artinya. Seperti dalam GBPKB TK 2004 istilah yang digunakan adalah mendengarkan. Dalam modul ini pun istilah mendengarkan dan menyimak digunakan secara bergantian.
Lalu apa yang dimaksud dengan menyimak ? Menyimak menurut Anderson, 1972 : 69) menyimak bermakna mendengarkan dengan penuh pemahaman dan perhatian serta apresiasi. Pendapat ini dipertegas oleh Tarigan (1990 : 25) bahwa menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan. Sejalan dengan itu Sabarti juga mengemukakan bahwa menyimak adalah suatu proses yang mencakup kegiatan menengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterpretasi, menilai dan mereaksi atas makna yang terkandung di dalamnya.
Jadi, berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa menyimak adalah kegiatan mendengarkan secara aktif dan kreatif untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang disampaikans ecara lisan.

B. FUNGSI MENYIMAK
Apabila kita amati dalam kehidupans ehari-hari, kegiatan menyimak merupakan keterampilan berbahasa yang paling banyak kita lakukan diantara tiga keterampilan berbahasa lainnya. Hampir setiap saat kita melakukan kegiatan menyimak. Kegiatan menyimak tersebut kita lakukan baik secara langsung maupun secara tidak langsung, seperti melalui media elektronik. Pernyataan ini juga didukung oleh hasil penelitian yang pernah dilakukannya ternyata presentase waktu untuk menyimak paling besar dibanding waktu untuk membaca, menulis dan berbicara yang digunakan responden penelitiannya. Pendpaat ini juga diperkuat oleh Bromley bahwa da dua alasan mengajari anak mendengarkan. Dua alasan tersebut yaitu (1) anak dan orang dewasa sebagian besar menghabiskan waktunya untuk mendengar (2) kemampuan mendengarkan sangat penting tidak hanya belajar di dalam kelas tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Mendengarkan pidato, berita dan percakapan termasuk keahlian yang sering kita gunakan.
Jika dapat disimpulkan bahwa menyimak memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Demikian pula dalam kehidupan anak. Walaupun kemampuan mendengarkan merupakan kemampuan berbahasa yang secara alamiah dikuasai oleh setiap anak yang normal, ketrampilan menyimak ini harus dikembangkan melalui stimulasi-stimulasi dan latihan-latihan karena keterampilan berbahasa tidak akan dapat dimiliki secara optimal termasuk menyimak di dalamnya kalau tidak dikembangkan dan dilatihkan.
Apa saja fungsi atau peranan menyimak bagi anak ? Sabari (1992 : 149) mengemukakan bahwa menyimak berperan sebagai (1) dasar belajar bahasa, (2) panjang ketrampilan berbicara, membaca dan menulis, (3) penunjang komunikasi lisan, (4) penambah informasi atau pengetahuan. Adapun menurut Hunt dalam Tarigan (1986 : 55) fungsi menyimak adalah (1) memperoleh informasi, (2) membuat hubungan antar pribadi lebih efektif, (3) agar dapat memberikan respon yang positif, (4) mengumpulkan data agar dapat membuat keputusan yang masuk akal.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan ketrampilan menyimak dapat berfungsi untuk :
1)Menjadi dasar belajar bahasa, baik bahasa pertama maupun bahasa kedua.
Kemampuan berbahasa tidak akan dimiliki oleh seseorang kalau tidak diawali dengan kegiatan mendengarkan. Seorang anak dapat mengucapkan kata mama, papa dan sebagaimana setelah ia sering dan berulang-ulang menyimak pengucapan kata-kata tersebut dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Demikian pula halnya pada saat anak belajar bahasa asing. Kegiatan mungkin diawali dengan menyimak cara pengucapan fonem, kata, dan kalimat sebelum dia bisa mengucapkan sebuah kata dan menggunakannya dalam kegiatan berbicara.
2)Menjadi dasar pengembangan kemampuan bahasa yang harus dimiliki anak sebelum diajarkan membaca. Seperti dikemukakan oleh Tom dan Harriet Sobol, salah satu kemampuan dasar yang harus dimiliki anak sebelum diajarkan membaca adalah kemampuan membedakan auditorial. Artinya anak mampu membedakan suara-suara di lingkungan mereka dan mampu membedakan bunyi-bunyi huruf atau fonem yang mereka dengarkan (2003 : 26). Pendapat ini juga diperkuat oleh Pflaun dan Steinberg dalam Tampubolon bahwa kemampuan anak memahami bahasa lisan menjadi salah satu ciri penanda kesiapan anak diajarkan membaca (1991 : 64).
3)Menunjang ketrampilan berbahasa lainnya
Apabila bahasa pembicara sama dengan bahasa penyimak, maka penyimak dari hasil simakannya akan dapat mengetahui ciri-ciri bahasa pembicara. Hal ini dapat menunjang kemampuan berbicara penyimak. Selain itu, penyimak dari hasil simakannya akan memperoleh tambahan perbendaharaan kata yang dapat meningkatkan ketrampilan berbahasanya, baik lisan (berbicara dan menyimak) maupun tulisan (membaca dan menulis).
4)Memperlancar komunikasi lisan
Setelah menyimak pembicaraan seseorang, tentu penyimak akan dapat mengetahui isi atau makna pembicaraan tersebut, maka akan terjadi komunikasi antar pembicara antara pembicara dan penyimak. Hal ini berarti, menyimak dapat memperlancar komunikasi lisan.


5)Menambah informasi atau pengetahuan
Pengetahuan tentang kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi atau informasi lainnya tidak hanya diperoleh melalui membaca, tetapi juga melalui menyimak. Pengetahuan baru tersebut dapat diperoleh melalui kegiatan mendengarkan berita, ceramah, diskusi dan lain sebagainya.

C. TUJUAN MENYIMAK
Bermacam-macam tujuan orang menyimak. Tujuan seseorang menyimak tergantung pada niat setiap orang. Tarigan mengemukakan ada tujuh tujuah orang menyimak, yaitu (1) untuk belajar, (2) untuk memecahkan masalah, (3) untuk mengevaluasi, (4) untuk mengapresiasi, (5) untuk mengkomunikasikan ide-ide, (6) untuk membedakan bunyi-bunyi, (7) untuk meyakinkan. Sejalan dengan pendapat tersebut Sabari juga mengemukakan beberapa tujuan menyimak, yaitu (1) menyimak untuk belajar, (2) menyimak untuk menghibur diri, (3) menyimak untuk menilai, (4) menyimak untuk mengapresiasi, dan (5) menyimak untuk memecahkan masalah.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan tujuan menyimak bagi anak adalah :
1)Untuk belajar
Bagi anak TK tujuan mereka menyimak pada umumnya adalah untuk belajar. Misalnya belajar untuk membedakan bunyi-bunyi yang diperdengarkan guru, mendengarkan cerita, permainan bahasa. Jadi, anak TK melakukan kegiatan menyimak lebih cenderung bukan karena keinginan anak iru sendiri tetapi karena ditugaskan sehubungan dengan kegiatan dalam pembelajaran.
2)Untuk mengapresiasi
Artinya menyimak bertujuan untuk dapat memahami, menghayati dan menilai bahan yang disimak. Bahan yang disimak dengan tujuan ini biasanya berbentuk karya sastra, seperti cerita atau dongeng dan puisi.
3)Untuk menghibur diri
Menyimak yang bertujuan untuk menghibur diri artinya dengan menyimak anak merasa senang dan gembira.
4)Untuk memecahkan masalah yang dihadapi
Tujuan ini biasanya ditemui pada orang dewasa. Orang yang sedang punya permasalahan bisa mencari pemecahannya melalui kegiatan menyimak.
Tujuan menyimak ini masih bisa ditambahkan dengan tujuan-tujuan lain yang lain tergantung pada niat seseorang untuk menyimak.
Perkembangan ketrampilan menyimak pada anak berkaitan erat satu sama lain dengan ketrampilan berbahasa khususnya berbicara. Anak yang berkembang ketrampilan menyimaknya, akan berpengaruh terhadap perkembangan ketrampilan berbicara. Kedua ketrampilan berbahasa tersebut merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang bersifat langsung dan dapat merupakan komunikasi yang bersifat tatap muka (Brooks, dalam Tarigan, 1986).
Kemampuan menyimak melibatkan proses menginterpretasi dan menterjemahkan suara yang didengar sehingga memiliki arti tertentu. Kemampuan ini melibatkan proses kognitif yang memerlukan perhatian dan konsentrasi dalam rangka memahami arti informasi yang disampaikan. Sebagian besar anak dapat menyimak informasi dengan tingkat yang lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuannya dalam membaca.
1)Acuiry, yaitu kesadaran akan adanya suara yang diterima oleh telinga, misalnya mendengar suara anak yang sedang bermain, mendengar suara mesin tik dan sebagainya.
2)Auditory discrimination, yaitu kemampuan membedakan persamaan dan perbedaan suara atau bunyi, misalnya suara hujan berbeda dengan suara mesin tik; pertanyaan seseorang tidak sama dengan pernyataan seseorang : duri dan dari berbeda bunyinya dan sebagainya;
3)Auditing, yaitu suatu proses dimana terdapat asosiasi antara arti dengan pesan yang diungkapkan. Proses ini melibatkan pemahaman terhadap isi dan maksud kata-kata yang dingkapkan. Sebagai contoh yaitu memahami pernyataan “kamu boleh berlari-lari di taman”; “gerakan badanmu ke kiri dan ke kanan” (Buttery dan Anderson, dalam Bromley, 1991).
Auding melibatkan aspek perkembangan semantik dan sintaksis. Dengan memahami semantik, berarti anak memiliki pengetahuan tentang berbagai arti kata, sedangkan sintaksis berkaitan dengan pemahaman anak terhadap aturan dan fungsi kata.
Bromley (1991) mengemukakan bahwa proses menyimak aktif terjadi ketika anak sebagai penyimak menggunakan auditory discrimation dan acuity dalam mengidentifikasi suara-suara dan berbagai kata, kemudian menterjemahkannya menjadi kata yang bermakna melalui auding atau pemahaman. Menuimak aktif bukanlah sekedar menterjemahkan pesan pembicara, namun terlibat sebagai peserta aktif dengan mendengarkan, mengidentifikasi, dan mengasosialikan arti dengan suara bahasa yang disampaikan. Penyimak yang efektif dapat memusatkan perhatiannya pada apa yang dikatakan oleh lawan bicaranya, memperhatikan bahasa tubuh dan ekspresi wajah pembicara, dan memonitor tentang kesesuaian apa yang mereka dengar dengan yang mereka pikirkan. Penyimak aktif memproses informasi yang datang dan berusaha mengkonstruksi arti suara tersebut.

D. JENIS-JENIS MENYIMAK YANG DIKEMBANGKAN DI TAMAN KANAK-KANAK.
Kemampuan berbahasa merupakan salah satu kemampuan berbahasa yang diprioritaskan untuk dikembangkan di lembaga ini. Sebelum anak diajarkan membaca dan menulis anak terlebihd ahulu harus memiliki kemampuan menyimak.
Adapun jenis-jenis menyimak yang dapat dikembangkan untuk anak Taman Kanak-Kanak menurut Bromley (1990) adlaah sebagai berikut :
1)Menyimak Informatif
Menyimak atau mendengarkan informasi untuk mengidentifikasi dan mengingat fakta-fakta, ide-ide dan hubungan-hubungan.
Ada beberapa kegiatan yang dapat direncanakan atau ditugaskan kepada anak untuk mengembangkan kemampuan menyimak informatif.
a. Membiarkan / menyuruh anak menutup mata lalu menundukkan kepalanya di atas meja, kemudian suruh mereka membadakan bunyi (meraut pensil) , mendorong buku, membuka pintu, mendorong kursi) lalu tanyakan kepada mereka untuk menebak suara apa yang muncul.
b. Mengajarkan kepada anak-anak bagaimana menerima pesan telepon secara singkat.
c. Mengajak anak-anak berjalan-jalan
d. Membacakan paragraf pendek tentang ilmu pengetahuan atau ilmu sosial. Kemudian ajukan pertanyaan-pertanyaan tentang apa, siapa, mengapa, dan kapan. Jawabannya harus berupa pilihan dan anak untuk menerangkan faktanya untuk dapat menjawab.
e. Membaca sajak atau cerita. Kadang hilangkan sebuah kata atau kalimat pada akhir cerita, kemudian suruh anak melengkapi atau mengisi kata atau kalimat yang hilang tersebut.
f. Ajak anak untuk menggambarkan dalam pikriannya tentang apa yang mereka dengar dari cerita. Kemudian suruh anak melengkapi atau mengisi kata atau kalimat yang hilang tersebut.
g. Ajak anak untuk menggambarkan dalam pikirannya tentang apa yang mereka dengar dari cerita yang Anda bacakan. Diskusikan tentang bagaimana mereka menyusun gambaran visualnya.
h. Menggambarkan sebuah objek di kertas grafik dengan garis yang lurus. Minta anak-anak untuk menadai arah utara, selatan, timur, dan barat pada kertas grafik. Setelah menentukan titik permulaan, berikut petunjuk pada anak langkah demi langkah untuk menggambar sebuah objek, misal ke utara 2 persegi, ke barat 2 persegi. Akan tetapi, jenis kegiatan seperti ini lebih cocok digunakan untuk anak yang sudah lebih besar, seperti anak di SD.
2)Menyimak kritis
Menengarkan kritis lebih dari sekedar mengidentifikasi dan mengingat fakta, ide dan hubungan-hubungan. Kemampuan ini membutuhkan kemampuan untuk menganalisis apa yang di dengar dan membuat sebuah keterangan tentang hal tersebut dan membuat generalisasi berdasarkan apa yang didengar.
Beberapa kegiatan yang dapat mengembangkan kemampuan menyimak krisis pada anak adalah sebagai berikut :
a. Membacakan cerita pendek lalu ajak anak untuk mengungkapkan ide utama dari cerita yang mereka dengar. Untuk membantu anak usia Taman Kanak-Kanak mengungkapkan ide cerita bisa dipandu dengan pertanyaan dan guru.
Perlu anda ketahui bahwa manfaat membacakan cerita pada anak-anak disamping dapat mengembangkan kemampuan menyimak mereka juga dapat memberi keuntungan yang lain, yaitu :
1)Merangsang anak untuk ingin membaca
2)Mempertinggi kebebasan kemampuan membaca
3)Memperluas pengalaman dan ketertarikan anak
4)Memperjelas kepada anak tentang buku yang tidak dibaca
b. Membacakan teka-teki dan mengajak anak menebak berbagai jawaban
c. Mengajak anak-anak membuat teka-teki sendiri lalu membacakan pada teman-temannya
d. Mengajak anak menonton cerita pada televisi atau VCD, lalu mintalah kesan anak tentang cerita tersebut. Atau ajukan pertanyaan yang dapat mengembangkan kemampuan berfikir kritis anak. Misalnya pertanyaan : ”kamu senang tidak dengan cerita tadi?”. Siapa tokoh dalam cerita tersebut ? bagaimana sifat-sifat tokohnya ? Tokoh mana yang kamu sukai ? Mengapa ? ”Dan seterusnya.

3)Menyimak apresiatif.
Menyimak apresiatif adalah kemampuan untuk menikmati dan merasakan apa yang di dengar. Penyimak dalam jenis menyimak ini larut dalam bahan yang disimaknya. Anak akan terpaku dan terpukau dalam-dalam menikmati dramatisasi atau puisi. Secara imajinatif, penyimak seolah-olah ikut mengalami, merasakan, melakukan karakter dari perilaku cerita yang dilisankan.
Ada tiga media yang dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan menyimak ini, yaitu :
a)Musik merupakan media yang paling nyata untuk membantu anak menghargai dan menikmati apa yang didengar
b)Bahasa yang berirama, meliputi semua sajak. Taman kanak-kanak. Membacakannya dengan lantang di depan anak membantu mereka memahami dan merasakan irama dan ritme bahasanya.
c)Patung visual, berhubungan dengan musik yang menciptakan atmosfer khusus atau irama yang membuat pesan yang disampaikan diperkirakan dapat lebih menambah ketertarikan anak dalam mendengarkan.
Adapun beberapa kegiatan yang dapat diberikan untuk meningkatkan kemampuan menyimak apresiatif pada anak adalah sebagai berikut :
1)membacakan anak koleksi cerita, seperti cerita bintang atau cerita lain sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak untuk mengenalkan anak pada pengulangan kata dan nyanyian yang berulang. Bicarakan tentang perasaan, suasana hati, atau gambaran yang muncul dalam cerita.
2)Membacakan bacaan yang berkualitas pada anak, menggiring perhatian mereka pada penggunaan onomatope (kata-kata yang suaranya seperti artinya) Membicarakan tentang perasaan, suasana hati, atau gambaran yang muncul pada cerita.
3)Membacakan semua tipe puisi pada anak dan membantu mereka merespon isi puisi dengan visualisasi dan perasaan. Gunakan kepekaan penglihatan, pendengaran, perasa, penciuman dan perabaan. Dorong anak untuk bergabung dan membacakannya sehingga mereka merasakan perasaan puisi tersebut dari pengucapannya sendiri.
4)Berbagi buku puisi bergambar atau buku bergambar. Menurut Glazer (1990) puisi yang diberi ilustrasi yang cantik akan berdampak dua kali lipat pada pembacanya dibandingkan dengan kualitas puisi yang lebih artistik namun tanpa ilustrasi.
5)Mengundang seorang pencerita untuk mengunjungi kelas, sehingga anak dapat belajar untuk menikmati bentuk kesenian khusus.

E. STRATEGI PENGEMBANGAN KEMAMPUAN MENYIMAK
Berbagai strategi dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan menyimak. Paley dalam Bromley mengemukakan bahwa ada cara yang dapat dilakukan oleh orang dewasa sebagai contoh pada anak agar menjadi pendengar aktif. Cara-cara tersebut diantaranya adalah :
1)Tetap diam, artinya penyimpak tidak menambahkan kata-kata sewaktu terjadi keragu-raguan ketika seorang pembicara sedang berhenti. Yang harus dilakukan adalah tetap diam dan menyerap pesan yang disampaikan. Jadi, di sini guru harus menjadi contoh penyimak yang baik. Jika anak mengajukan pertanyaan, guru jangan langsung menjawab sebelum pertanyaan itu selesai diajukan anak.
2)Teori dan penelitian membuktikan bahwa anak akan belajar lebih banyak jika guru mendengarkan lebih banyak (Bromley).
3)Mempertahankan kontra mata. Cara yang terbaik untuk membatasi informasi yang masuk adalah dengan tetap menjaga kontak mata dengan pembicara. Caranya guru bisa melihat ke sekeliling atau duduk dekat anak.
4)Menggunakan bahasa nonverbal. Seorang pendengar aktif memproses semua informasi yang disampaikan oleh pembicara. Seorang pendengar aktif akan mencoba mendengar apa kata anak dan melihat bagaimana itu menjadi sebuah kenyataan. Jadi, untuk membantu pemahaman anak terhadap apa yang diperdengarkan, guru bisa memanfaatkan bahasa nonverbal, seperti gerakan tanga, mimik atau ekspresi.
5)Menangkap pengertian. Apabila pendengar mendengar suatu ketdiaksesuaian antara apa-apa yang didengar, pendengar dapat menmukan waktu yang tepat untuk menanyakan sebuah pernyataan atau perjanjian.
6)Membagi kesan mental. Pendengar terlibat aktif dalam mendengar dan mengolah apa yang didengar sehingga menjadi lebih mengerti
7)Mendorong berbicara. Bagaimana orang dewasa mendorong anak untuk berani berbicara dan percaya diri ketika di rumah maupun di sekolah
8)Partisipasi kelompok.
Kegiatan yang dapat dilakukan secara berkelompok yang dapat meningkatkan kemampuan menyimak anak adalah seperti bekerja berpasangan, bermain peran atau dramatisasi dan lain-lain.
Secara lebih khusus metode-metode yang dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan menyimak pada anak Taman Kanak-Kanak adalah sebagai berikut :


a. Simak – Ulang Ucap
Metode simak ualng ucap biasanya digunakan dalam memperkenalkan bunyi-bunyi tertentu seperti bunyi kendaraan suara binatang, bunyi pintu ditutup atau juga bunyi bahasa. Bunyi bahasa atau huruf biasanya diperkenalkan pada saat pertama anak belajar membaca atau mengenal bunyi-bunyi huruf.
b. Simak – Kerjakan
Model ucapan guru berisi kalimat perintah. Anak mereaksi atas perintah guru. Reaksi anak dalam bentuk perbuatan. Kegiatan ini juga sangat cocok diterapkan di Taman Kanak-Kanak. Seperti untuk mencapai hasil belajar, anak mampu melaksanakan 2-3 perintah secara berurutan. Penggunaan metode ini bisa dilakukan dalam bentuk permainan atau perlombaan. Misalnya anak dibagi menjadi dua kelompok. Kedua kelompok berbaris dengan rapi dan guru menyampaikan aturan permainan, misalnya anak tidak boleh menyebutkan kata yang dibisikkan guru dengan suara keras. Lalu masing-masing kelompok menunjuk siapa komandannya. Kemudian guru membisikkan kalimat perintah pada komandan kelompok dan komandan kelompok membisikkan pada anggota berikutnya. Nanti dilihat kelompok mana yang lebih duluan mengerjakan perintah yang dibisikkan guru. Kegiatan ini bisa dilakukan di luar kelas.
c. Simak – Terka
Guru menyiapkan benda-benda yang tidak diketahui atau tidak diperlihatkan kepada anak. Lalu menyebutkan ciri-ciri benda tersebut dan anak ditugaskan untuk mereka benda yang dimaksud.
d. Menjawab Pertanyaan
Guru menyiapkan bahan simakan berupa cerita. Sangat diharapkan taraf kesukaran cerita baik dari segi isi maupun bahasanya disesuaikan dengan kemampuan anak. Kemudian guru menyampaikan bahan tersebut secara lisan, baik dengan menceritakan maupun dengan membacakannya. Lalu guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan sehubungan dengan cerita tersebut. pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat diajukan pada saat kegiatan menyimak berlangsung. Hal ini bertujuan untuk membantu anak memahami isi cerita. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan misalnya : Siapa yang berbicara anak-anak? Apa yang dibicarakannya? Mengapa ia berbicara? Dimana ia berbicara?. Bentuk pertanyaan atau bahasa yang digunakan dalam pertanyaan juga bisa disesuaikan dengan kemampuan anak.
e. Parafrase
Guru mempersiapkan sebuah puisi yang cocok untuk anak. Guru membacakan puisi tersebut. Anak menyimak dan kemudian ditugaskan menceritakan kembali isi puisi tersebut dengan kata-kata sendiri.
f. Merangkum
Guru menyiapkan bahan simakan berupa cerita yang tidak terlalu panjang. Isi dan bahasanya juga disesuaikani dengan kemampuan anak. Setelah guru menceritakan anak ditugaskan untuk menceritakan isi cerita tersebut dengan kalimat sendiri. Bagi anak TK, kalau anak kesulitan dalam menemukan isi cerita bisa dibantui dengan pertanyaan-pertanyaan oleh guru.
g. Bisik Berantai
Metode ini juga dapat Anda gunakan di Taman Kanak-Kanak. Guru membisikkan suatu pesan kepada seorang anak. Atau, yang dibisikkan juga bisa berupa tiga kata berurutan sesuai tema tertentu. Lalu anak yang pertama membisikkan pesan atau kata-kata tersebut pada anak kedua. Anak tersebut membisikkan pada anak ketiga atau begitu seterusnya. Anak terakhir menyebutkan isi pesan itu dengan suara keras di depan kelas.
h. Identifikasi Kata Kunci
Metode identifikasi kata kunci ini sebetulnya lebih cocok diberikan untuk anak usia SD artinya untuk anak yang sudah memiliki pengetahuan tentang struktur kalimat.
Dari uraian tentang macam-macam metode yang dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan menyimak anak, perlu juga diketahui hal-hal yang harus diperhatikan dalam memilih metode tersebut. Untuk menentukan metode mana yang akan kita gunakan terlebih dahulu guru harus memperhatikan beberapa hal, yaitu apa tujuan yang akan dicapai, situasi dan kondisi kelas, ke sesuai dengan anak, penguasaan atau pengetahuan guru tentang metode tersebut, dan lain-lain.

Latihan
1. Jelaskan perbedaan mendengar, mendengarkan dan menyimak
2. Jelaskan fungsi kemampuan menyimak berikut faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kemampuan tersebut !


II. PERKEMBANGAN BERBICARA PADA ANAK
Ketika anak tumbuh dan berkembang, terjadi peningkatan baik dalam hal kuantitas maupun kualitas (keluwesan dan kerumitan) produk bahasanya. Secara bertahap kemampuan anak meningkat, bermula dari mengekspresikan suara saja, hingga mengekspresikannya dengan komunikasi. komunikasi anak yang bermula dengan menggunakan gerakan dan isyarat untuk mewujudkan keinginannya secara bertahap berkembang menjadi komunikasi melalui ujaran yang tepat dan jelas. Hal ini dapat terlihat sejak awal perkembangan dimana bayi mengeluarkan bunyi ”ocehan” yang kemudian berkembang menjadi sistem simbol bunyi yang bermakna. Tanpa diberikan suatu instruksi formal, anak mengetahui tentang fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik bahasa.
Sekalipun terdapat perbedaan kecepatan dalam berbahasa pada anak, namun komponen-komponen dalam bahasa tidak berubah. Komponen tersebut terdiri dari fonologi, morfologi, sintaksis, semantic dan pragmatik (Bromley, 1992).
Perkembangan fonologi berkenaan dengan adanya pertumbuhan dan produksi sistem bunyi dalam bahasa. Bagian terkecil dari sistem bunyi tersebut dikenal dengan istilah fonem, yang dihasilkan sejak bayi lahir hingga usia satu tahun. Fonem vokal diekspresikan lebih dahulu oleh anak usia 4-6 bulan daripada fonem konsonan. Fonem seperti m dan a dikombinasikan oleh anak sehingga menjadi ma-ma-ma.
Perkembangan morfologi berkenaan dengan pertumbuhan dan produksi arti bahasa. Bagian terkecil dari arti bahasa tersebut dikenal dengan istilah morfem. Sebagai contoh anak yang masih kecil mengucapkan “mam” yang dapat berarti “saya ingin main bola”.
Sistaksis berkenaan dengan aturan bahasa yang meliputi keteraturan dan fungsi kata. Perkembangan sintaksis merupakan produksi kata-kata yang bermakna dan sesuai dengan aturan yang menghasilkan pemikiran dan kelimat yang utuh. Anak bereksperimen dengan sintaksis sejak 6 tahun pertamai perkembangannya. Pada dua tahun pertama, anak tidak melibatkan kata sandang, kata sifat, maupun kata keterangan dalam mengkomunikasikan maksud maupun perasaannya. Dengan bertambahnya usia anak, seiring dengan perkembangannya dalam berbahasa, anak mulai melibatkan komponen fonologi maupun morfologi lebih banyak dalam mengucapkan kalimat tiga atau empat kata. Selanjutnya, ketika anak mulai menggunakan kalimat yang lebih panjang, anak juga menggunakan intonasi dalam menanyakan suatu informasi, dengan memberikan penekanan pada kalimatnya, seperti: “Ayam makan?”, “kakak sekolah? Dan sebagainya. Kemampuan anak terus berkembang ditandai dengan mulai tampaknya penggunaan kata tanya seperti “siapa”, “apa”, “mengapa”, “kemana” dan “bagaimana” hingga anak menguasai banyak hal tentang struktur sintaksis yang lebih kompleks pada usia menjelang 6 tahun.
Bowler and Linke (1996) memberikan gambaran tentang kemampuan bahasa anak usia 3-5 tahun. Menurut mereka pada usia 3 tahun anak menggunakan banyak kosakata dan kata tanya seperti apa dan siapa. Pada usia 4 tahun anak mulai bercakap-cakap, memberi nama, alamat, usia, dan mulai memahami waktu. Perkembangan bahasa anak semakin meningkat pada usia 5 tahun dimana anak sudah dapat berbicara lancar dengan menggunakan berbagai kosa kata baru.
Semantik berkaitan dengan kemampuan anak membedakan berbagai arti kata. Perkembangan semantik terjadi dengan kecepatan yang lebih lambat dan lama dibandingkan perkembangan anak dalam memahami fonologi, morfologi, maupun sintaksis. Perkembangan semantik yang dinamis tidak terlepas dari adanya berbagai cara yang baru dan berbeda yang dipelajari dan digunakan oleh anak maupun orang dewasa. Perkembangan semantik bermula saat anak berusia 9-12 bulan, yaitu ketika anak menggunakan kata benda, kata kerja, dan seiring dengan perkembangannya anak menggunakan kata sifat maupun kata keterangan. Jenis kata yang sifatnya lebih abstrak seperti kata depan dan kata penghubung muncul kemudian. Menurut Harris & Sipay (dalam Bromley 1992), menjelang usia 5-6 tahun, anak dapat memahami sekitar 8000 kata, dan dalam satu tahun berikutnya kemampuan anak dapat mencapai 9000 kata.
Pragmatik berkaitan dengan penggunaaan bahasa dalam mengekspresikan minat dan maksud seseorang untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Sejak anak masih berusia dini, dimana ia menggunakan hanya satu kata, anak sudah melibatkan komponen pragmatik agar keinginannya tercapai. Ada beragam aturan dalam menggunakan bahasa yang tepat di situasi sosial yang berbeda. Seseorang dapat dikatakan memiliki kompetensi berkomunikasi ketika ia telah memahami penggunaan bahasa tersebut sesuai dengan aturan yang berlaku. Dalam hal ini, anak membutuhkan bimbingan dari orang dewasa untuk membimbing mereka menggunakan kalimat yang tepat dalam menyampaikan maksud pada situasi tertentu.
Berbicara bukanlah sekedar pengucapan kata atau bunyi, tetapi merupakani suatu alat untuk mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan, atau mengkomunikasikan pikiran, ide, maupun perasaan. Berbicara merupakan suatu keterampilan berbahasa yang berkembang dan dipengaruhi oleh ketrampilan menyimak. Berbicara dan menyimak adalah kegiatan komunikasi dua arah atau tatap muka yang dilakukan secara langsung.
Kemampuan berbicara berkaitan dengan kosa kata yang diperoleh anak dari kegiatan menyimak dan membaca.

A. PENGERTIAN BERBICARA
Berbicara merupakan suatu alat untuk mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan, atau mengkomunikasikan pikiran ide maupun perasaan kepada orang lain secara lisan (Cox, 1999).

B. Ada dua tipe perkembangan berbicara anak :
1)Egosentric Speech, terjadi ketika anak berusia 2-3 tahun, dimana anak berbicara kepad dirinya sendiri (monolog). Perkembangan berbicara anak dalam hal ini sangat berperan dalam mengembangkan kemampuan berpikirnya.
2)Socialized Speech, terjadi ketika anak berinteraksi dengan temannya ataupun lingkungannya. Hal ini berfungsi untuk mengembangkan kemampuan adaptasi social anak. Berkenaan dengan hal tersebut, terdapat 5 bentuk socialized speech yaitu (1) saling tukar informasi untuk tujuan bersama ; (2) penilaian terhadap ucapan atau tingkah laku orang lain; (3) perintah, ancaman; (4) pertanyaan, dan (5) jawaban.
Tujuan berbicara adalah untuk memberitahukan, melaporkan, menghibur, membujuk, dan meyakinkan seseorang. Ada beberapa faktor yang dapat dijadikan ukuran kemampuan berbicara seseorang yang terdiri dari aspek kebahasaan dan non kebahasaan. Aspek kebahasaan meliputi faktor-faktor sebagai berikut: (1) ketepatan ucapan; (2) penempatan tekanan, nada, sendi, dan durasi yang sesuai; (3) pilihan kata; (4) ketepatan sasaran pembicaraan. Aspek non kebahasaan meliputi (1) sikap tubuh, pandangan, bahasa tubuh, dan mimik yang tepat; (2) kesediaan menghargai pembicaraan maupun gagasan orang lain; (3) kenyaringan suara dan kelancaran dalam berbicara; (4) relevansi, penalaran dan penguasaan terhadap topik tertentu.
Hurlock mengemukakan dua kriteria untuk mengukur tingkat kemampuan berbicara anak, apakah anak berbicara secara benar atau hanya sekedar “membeo” sebagai berikut :
1)Anak mengetahui arti kata yang digunakan dan mampu menghubungkannya dengan objek yang diwakilinya
2)Anak mampu melafalkan kata-kata yang dapat dipahami orang lain dengan mudah
3)Anak memahami kata-kata tersebut bukan karena telah sering mendengar atau menduga-duga.
Penelitian tentang kecakapan berbahasa terus berkembang berdasarkan hasil observasi para ahli tentang bahasa anak. Beberapa ahli sepakat bahwa anak memiliki kemampuan untuk menirukan bahasa orang tua yang dilakukan dengan dua cara yaitu secara spontan, dan melalui penugasan dari orang dewasa untuk meniru bahasa tersebut. Kemampuan anak untuk meniru secara spontan bahasa orang dewasa biasanya dengan mengulang kembali pernyataan yang diberikan dengan menggunakan tata bahasa anak sendiri secara bebas. Dengan demikian para peneliti dapat mengukur batasan kecakapan anak dalam memahami dan mengekspresikan kata-kata. Fraser, Beluggi dan Brown mengembangkan suatu alat tes, yaitu ICP (Imitation Comprehension Production Test). Dalam tes tersebut anak diberikan dua macam bentuk tata bahasa yang berlawanan seperti kalimat aktif dan kalimat pasif. Setelah itu anak diperlihatkan dua gambar sesuai dengan bentuk kalimat yang sebelumnya diberikan. Anak kemudian diminta untuk menunjukkan gambar yang tepat sesuai dengan kalimat yang diucapkan penguji. Pada akhir tes anak harus membuat kalimat sendiri berdasarkan gambar yang diberikan. Jawaban anak menunjukkan kecakapannya dalam memahami kalimat-kalimat tersebut (comprehension) dan membuat kalimat-kalimat sendiri (production).
Para ahli pada umumnya sepakat bahwa penelitian tentang bahasa meliputi perkembangan fonologis (penguasaan sistem suara / bunyi), perkembangan morfologis (penguasaan pembentukan kata), perkembangan sintaksis (penguasaan tata bahasa), perkembangan leksikal (penguasaan kosa kata serta pengetahuan tentang arti kata), dan perkembangan semantik (penguasaan arti bahasa).
Ada beberapa cara orang dewasa mengajarkan bahasa pada bayi sebagai berikut : motherese, recasting (menyusun ulang), echoing (menggemakan), expanding (memperluas), dan labeling (memberi nama). Motherese yaitu berbicara pada bayi dengan frekuensi dan hubungan yang lebih luas dan menggunakan kalimat yang sederhana. Recasting yaitu pengucapan makna suatu kalimat yang sama atau mirip dengan menggunakan cara yang berbeda misalnya dengan mengubahnya menjadi pertanyaan. Echoing adalah mengulangii apa yang dikatakan anak, khususnya ungkapan anak yang belum sempurna.
Expanding ialah menyatakan ulang apa yang dikatakan anak dalam bahasa yang baik ditinjau dari segi linguistik. Labeling adalah mengidentifikasikan nama-nama benda.
Vygotsky (1986) menjelaskan tiga tahap perkembangan bicara anak yang berhubungan erat dengan perkembangan berpikir anak yaitu tahap eksternal, egosentris, dan internal. Tahap eksternal terjadi ketika anak berbicara secara eksternal dimana sumber berpikir berasa dari luar diri anak. Sumber berpikir ini sebagian besar berasal dari orang dewasa yang memberikan pengarahan, informasi, dan melakukan tanya jawab dengan anak. Sebagai contoh orang dewasa bertanya: “Kamu sedang apa?” Anak menjawab : “sedang makan”. Orang dewasa tersebut lalu meneruskan pertanyaannya:” Mana sendoknya?”, dan seterusnya. Tahap kedua adalah egosentris dimana anak berbicara sesuai dengan jalan pikirannya dan pembicaraan orang dewasa bukan lagi menjadi persyaratan. Sebagai contoh : “Ini nasi, ini piring, ini sendok.” Tahap ketiga adalah tahap berbicara sesuai dengan jalan pikirannya dan pembicaraan orang dewasa bukan lagi menjadi persyaratan. Sebagai contoh ketika anak akan menggambar sebuah biskuit, anak menggunakan pemikirannya sendiri: “Apa yang akan saya gambar? Saya ingin menggambar biskuit coklat.”
Perkembangan bicara anak bertujuan untuk menghasilkan bunyi verbal. Kemampuan mendengar dan membuat bunyi-bunyi verbal merupakan hal pokok untuk menghasilkan bicara. Kemampuan berbicara anak akan berkembang melalui pengucapan suku kata yang berbeda-beda yang diucapkan secara jelas. Lebih jauh lagi kemampuan berbicara akan meningkat ketika anak dapat mengartikan kata-kata baru, menggabungkan kata-kata baru dan memberikan pernyataan dan pertanyaan.
Pada anak usia TK (4-6 tahun), kemampuan berbahasa yang paling umum dan efektif dilakukan adalah kemampuan berbicara. Hal ini selaras dengan karakteristik umum kemampuan bahasa anak pada usia tersebut. Karakteristik ini meliputi kemampuan anak untuk dapat berbicara dengan baik, melaksanakan tiga perintah lisan secara berurutan dengan benar, mendengarkan dan menceritakan kembali cerita sederhana dengan urutan yang mudah dipahami; menyebutkan nama, jenis kelamin dan umurnya; menggunakan kata sambung seperti : dan, karena, tetapi, menggunakan kata tanya seperti bagaimana, apa mengapa, kapan, membandingkan dua hal, memahami konsep timbal balik, menyusun kalimat, mengucapkan lebih dari tiga kalimat, dan mengenal tulisan sederhana.
Belajar berbicara dapat dilakukan anak dengan bantuan dari orang dewasa melalui percakapan. Dengan bercakap-cakap, anak akan menemukan pengalaman dan meningkatkan pengetahuannya dan mengembangkan bahasanya. Anak membutuhkan reinforcement (penguat), reward (hadiah, pujian), stimulasi, dan model atau contoh yang baik dari orang dewasa agar kemampuannya dalam berbahasa dapat berkembang secara maksimal. Anak yang memiliki hambatan bahasa juga dapat distimulasi untuk memahami bahasa yang sederhana. Dalam hal ini pendidik perlu lebih menekankan penggunaan penguat dibandingkan pengoreksian terhadap kata-kata yang mereka ucapkan. Pendidik juga perlu memahami adanya anak yang menggunakan dua macam bahasa. Pendidik juga perlu memahami adanya anak yang menggunakan dua macam bahasa. Dalam mempelajari bahasa kedua, kemungkinan anak membutuhkan waktu yang lebih lama dalam beradaptasi bahasa anak itu sendiri maupun teman-temannya yang berada dalam kelas yang sama.

LATIHAN
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, silakan Anda mengerjakan latihan berikut ini !
1)Jelaskan beberapa faktor yang dapat dijadikan ukuran kemampuan berbicara, seseorang, baik dari aspek kebahasaan maupun non kebahasaan !

III. PERKEMBANGAN MEMBACA
A. PENGERTIAN MEMBACA
Membaca merupakan ketrampilan bahas tulis yang bersifat reseptif. Kemampuan membaca termasuk kegiatan yang kompleks dan melibatkan berbagai keterampilan. Jadi, kegiatan membaca merupakan suatu kesatuan kegiatan yang terpadu yang mencakup beberapa kegiatan seperti mengenali huruf dan kata-kata, menghubungkannya dengan bunyi, maknanya serta menarik kesimpulan mengenai maksud bacaan. Anderson dkk. (1985) memandang membaca sebagai suatu proses untuk memahami makna suatu tulisan. Proses yang dialami dalam membaca adalah berupa penyajian kembali dan penafsiran suatu kegiatan dimulai dari mengenali huruf, kata, ungkapan, frasa, kalimat, dan wacana serta menghubungkannya dengan bunyi dan maknanya. Bahkan lebih jauh dari itu dalam kegiatan membaca, pembaca menghubungkannya dengan maksud penulis berdasarkan pengalamannya.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan membaca terkait dengan (a) pengenalan huruf atau aksara, (b) bunyi dari huruf atau rangkaian huruf-huruf, dan (c) makna atau maksud, dan (d) pemahaman terhadap makna atau maksud berdasarkan konteks wacana.
Adapun menurut Hari (1970:3) membaca merupakan interprestasi yang bemakna dari simbol verbal yang tertulis/tercetak. Membaca adalah tindakan menyesuaikan arti kata dengan simbol-simbol verbal yang tertulis/tercetak. Sejalan dengan itu Kridalaksana (1993:13) juga mengemukakan bahwa membaca adalah ”keterampilan mengenal dan memahami tulisan dalam bentuk urutan lambang-lambang grafis dan perubahannya menjadi wicara bermakna dalam bentuk pemahaman diam-diam atau pengujaran keras-keras”. Kegiatan membaca dapat bersuara, dapat pula tidak bersuara. Jadi, membaca pada hakikatnya adalah kegiatan fisik dan mental untuk menemukan makna dari tulisan.

B. PENTINGNYA KEMAMPUAN MEMBACA
Seperti dijelaskan pada pendahuluan, kemampuan membaca sangat penting dimiliki anak. Mary Leonhardt (1999: 27) menyatakan ada beberapa alasan mengapa kita perlu menumbuhkan cinta membaca pada anak. Alasan-alasan tersebut adalah :
1)Anak yang senang membaca akan membaca dengan baik, sebagian besar waktunya digunakan untuk membaca
2)Anak-anak yang gemar membaca akan mempunyai rasa kebahasaan yang lebih tinggi.
Mereka akan berbicara, menulis dan memahami gagasan-gagasan rumit secara lebih baik
3)Membaca akan memberikan wawasan yang lebih luas dalam segala hal, dan membuat belajar lebih mudah
4)Kegemaran membaca akan memberikan beragam perspektif kepada anak
5)Membaca dapat membantu anak-anak untuk memiliki rasa kasih sayang.
6)Anak-anak yang gemar membaca dihadapkan pada suatu dunia yang penuh dengan kemungkinan dan kesempatan
7)Anak-anak yang gemar membaca akan mampu mengembangkan pola berpikir kreatif dalam diri mereka

C. TUJUAN MEMBACA
Tujuan membaca memang sangat beragam, bergantung pada situasi dan berbagai kondisi pembaca. Secara umum tujuan ini dibedakan sebagai berikut :
1)Salah satu tujuan membaca ialah informasi untuk mendapatkan informasi. Informasi yang dimaksud di sini mencakup informasi tentang fakta dan kejadian sehari-hari sampai informasi tingkat tinggi tentang teori-teori serta penemuan dan temuan ilmiah canggih. Tujuan ini mungkin berkaitan dengan keinginan pembaca untuk mengembangkan diri.
2)Ada orang-orang tertentu yang membaca dengan tujuan agar citra dirinya meningkat. Mereka ini mungkin membaca karya para penulis kenamaan, bukan karena berminat terhadap karya tersebut melainkan agar orang memberikan nilai positif terhadap diri mereka. Tentu saja kegiatan membaca bagi orang-orang semacam ini sama sekali tidak merupakan kebiasaannya, tetapi hanya dilakukan sekali-sekali di depan orang lain
3)Ada kalanya ang membaca untuk melepaskan diri dari kenyataan, misalnya pada saat ia merasa jenuh, sedih, bahkan putus asa. Dalam hal ini membaca dapat merupakan submilasi atau penyaluran yang positif, apalagi jika bacaan yang dipilihnya adalah bacaan yang bermanfaat yang sesuai dengan situasi yang sedang dihadapinya
4)Mungkin juga orang membaca untuk tujuan rekreatif, untuk mendapatkan kesenangan atau hiburan, seperti halnya menonton film atau bertamasya. Bacaanyang dipilih untuk tujuan ini ialah bacaan-bacaan ringan atau jenis bacaan yang disukainya, misalnya cerita tentang cinta, detektif, petualangan,I dan sebagainya
5)Kemungkinan lain, orang membaca tanpa tujuan apa-apa, hanya karena iseng, tidak tahu apa yang akan dilakukan; jadi, hanya sekedar untuk mengisi waktu. Dalam situasi iseng itu, orang tidak memilih atau menentukan bacaan; apa saja dibaca : iklan, cerita pendek, berita keluarga, lelucon dan sebagainya. Kegiatan membaca seperti ini tentu lebih baik dilakukan daripada pekerjaan iseng yang merusak atau bersifat negatif.
6)Tujuan membaca yang tinggi ialah mencari nilai-nilai keindahan atau pengalaman estetis dan nilai-nilai kehidupan lainnya. Dalam hal ini bacaan yang dipilih ialah karya bernilai sastra.
Masih adakah tujuan membaca lainnya yang belum disinggung? Cobalah Anda kemukakan!

D. KEMAMPUAN-KEMAMPUAN KESIAPAN MEMBACA
Sebelum mengajarkan membaca pada anak, dasar-dasar kemampuan membaca atau kemampuan kesiapan membaca perlu dikuasai oleh anak terlebih dahulu. Dasar-dasar kemampuan membaca ini diperlukan agar anak berhasil dalam membaca maupun menulis. Seperti dikemukakan oleh Miller bahwa sebelum anak diajarkan membaca perlu diketahui terlebih dahulu kesiapan membaca anak. Hal ini bertujuan agar kita dapat mengetahui apakah anak sudah siap diajarkan membaca. Di samping itu juga bertujuan agar dapat diketahui kemampuan kesiapan membaca khusus apa yang sebaiknya diajarkan atau dikuatkan pada anak (1977:23). Adapun kemampuan-kemampuan kesiapan membaca yang akan dikembangkan itu adalah sebagai berikut :

1)Kemampuan membedakan auditorial
Anak-anak harus belajar untuk memahami suara-suara umum di lingkungan mereka dan membedakan di antara suara-suara tersebut. Mereka harus memahami konsep volume, lompatan, petunjuk, durasi, rangkaian, tekanan, tempo, pengulangan dan kontras (suara) membedakan suara-suara huruf dalam alfabet di Taman Kanak-Kanak, terutama suara-suara yang dihasilkan oleh konsonan awal dalam kata. (Anak harus mampu membedakan suara huruf d dari suara t, suara m dari suara n).
Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan guru diantaranya adalah :
a. Mintalah anak-anak untuk memberi nama sesuatu yang dimulai dengan suara yang sama dengan namanya
b. Ucapkan sekumpulan kata dan mintalah anak-anak untuk memberi tahu Anda kata mana dalam daftar dimulai dengan suara yang berbeda dengan yang lain
c. Tugaskan anak untuk memberi nama setiap benda yang ada dikelas yang dimulai dengan huruf tertentu, misalnya d
d. Tugaskan anak beranjak dengan kata-kata seperti lari, melompat, terbang
Sebelumnya bahan-bahan yang akan diberikan atau kegiatan yang akan dilaksanakan pada bagian ini terlebih dahulu direkam agar anak dapat bekerja dengan mendengarkan petunjuk dan kemudian meresponnya.

2) Kemampuan diskriminasi visual
Anak-anak harus belajar untuk memahami objek dan pengalaman umum dengan gambar-gambar pad foto, lukisan, dan pantonim. Mereka harus belajar untuk melakukan identifikasi warna-warna dasar dan bentuk-bentuk geometris dan mampu menggabungkan objek-objek berdasarkan warna, bentuk, atau ukuran. Mereka harus mampu membedakani kiri dan kanan warna, bentuk maupun atas dan bawah, dan mengikuti gerakan dari kiri ke kanan maupun dari atas ke bawah. Mereka harus mampu mengatakan bentuk dari gambar latar belakang, mengemukakan detail pada sebuah gambar, dan mengetahui pola-pola visual sederhana. Akhirnya, mereka harus mampu untuk memahami dan menamai huruf besar dan huruf kecil.
Untuk mewujudkan hal ini bisa melalui kegiatan-kegiatan berikut :
a. Suruhlah anak menyelesaikan berbagai macam puzzle
b. Buatlah anak menulis berbagai tulisan nama dan kata yang telah dipelajari
c. Buatlah anak menyalin bentuk-bentuk geometris seperti lingkaran, bujur sangkar, segitiga, dan busur
3)Kemampuan (membuat) hubungan suara – simbol
Pada akhirnya, anak harus mampu mengkaitkan huruf besar dan huruf kecil dengan nama mereka dan dengan suara yang mereka representasikan. Ia harus tahu bahwa d disebut de dan menetapkan suara pada awal kata ‘daging’. Sebagian besar anak akan membuat kemajuan awal yang bagus pada kemampuan-kemampuan ini selama masa Taman Kanak-Kanak. Sedikit diantaranya akan menguasai semua kemampuan (menghubungkan) suara simbol hingga masa selanjutnya di kelas (sekolah dasar).

4)Kemampuan perceptual motoris
Anak-anak harus cukup dewasa untuk mampu menggunakan otot halus tangan dan jari mereka dan untuk melakukan koordinasi gerakan dengan apa yang mereka lihat. Mereka harus melatih kemampuan ini sehingga mereka mampu menyusun puzzle sederhana, gambar lukisan tangan, membentuk tanah liat, merangkai manik-manik, menuangkan benda cair, dan atau menggunakan gunting. Mereka harus belajar memegang krayon, spidol ajaib dan pensil, untuk mewarnai gambar-gambar sederhana dalam garis-garis, untuk menjiplak garis dan bentuk di udara dan kertas, untuk menyalin garis dan bentuk tanpa menjiplak. Akhirnya, mereka harus mampu menyalin huruf dan kata, menulis nama mereka, menulis huruf yang memadukan suara.

5)Kemampuan bahasa lisan
Sebagaimana dikatakan, anak-anak masuk ke Taman Kanak-Kanak dengan kemampuan substansial untuk berbicara dan mendengarkan. Meskipun demikian, selama masa Taman Kanak-Kanak, kemampuan-kemampuan ini harus lebih dikembangkan dan diperbaiki. Anak-anak harus belajar mendengarkan, mengingat, mengikuti petunjuk, mencatat detail, dan memahami ide-ide utama. Mereka harus menggunakan dan memperluas kosa kata bahasa lisan mereka untuk menjelaskan ide-ide, untuk mendeskripsikan objek dan peristiwa, untuk mengekspresikan perasaan mereka sendiri, atau orang imajiner mereka. Mereka hendaknya menjadi senang berbagai pengalaman dengan bahasa dan gembira dalam belajar dan menggunakan kata-kata baru.

6)Membangun sebuah latar belakang pengalaman
Hal ini bisa dilakukan misalnya melalui bermacam-macami kegiatan berikut :
a. Ceritakanlah sebuah kisah menarik di kelas paling kurang satu kali sehari, hal ini dapat menimbulkan minat membaca anak
b. Buatlah pusat minat di kelas
c. Ajaklah anak menonton film dan mendengarkan rekaman untuk membangun latar belakang pengalaman mereka

7) Interprestasi gambar
Tunjukkan sebuah gambar kepada anak dari buku atau file Anda. Ajaklah anak menginterprestasikan gambar secara kreatif.

8)Progresi dari kiri ke kanan
a. Buatlah kalender kelas bertumpuk
b. Tunjukkan kepada anak bahwa membaca dimulai dari sisi tangan kiri ketika membaca keras kepada anak
c. Buatlah anak melakukan potongan komik dengan rangkaian dari kiri ke kanan

9)Kemampuan merangkai
a. Buatlah anak merangkai gambar seri dengan benar
b. Buatlah anak mengulang cerita yang baru saja didengar atau dibaca dengan benar

10)Penggunaan bahasa mulut
Buatlah sekelompok anak-anak ikut serta dalam kegiatan seperti membagi waktu, percakapan, bermain drama dan bermain peran.

11)Pengenalan melihat kata
Ajarkan kata-kata yang umum dipakai. Anjurkan tiap anak untuk memperhatikan bentuk yang unik atau karakter khusus tiap melihat kata.

12)Lateralisasi
Banyak jenis kegiatan berbeda yang bisa menolong anak-anak belajar untuk membedakan antara tangan kanan dan tangan kiri serta antara kaki kiri dan kaki kanan. Misalnya, mereka bermain game “Simon says”.

13)Koordinasi gerak
Kebanyakan kegiatan dan games yang dimasukkan dalam program pendidikan fisik di sekolah akan membantu meningkatkan koordinasi gerak anak.

E. TANDA-TANDA KESIAPAN MEMBACA
Tanda-tanda kesiapan anak sudah dapat diajarkan membaca adalah sebagai berikut :
1)Apakah anak sudah dapat memahami bahasa lisan ?
Kemampuan ini dapat diamati pada waktu bercakap-cakap dengan anak, atau apabila dia disuruh melakukan sesuatu, atau diberi pertanyaan tentang sesuatu. Pemahaman yang dimaksud disini sudah tentu adalah pemahaman yang dasar, yaitu kalimat-kalimat sederhana dalam konteks komunikasi, dan sesuai dengan perkembangan bahasa anak.
2)Apakah anak sudah dapat mengajarkan kata-kata dengan jelas ?
Inipun dapat diamati pada waktu bercakap-cakap dengan anak, atau ketika anak itu mengatakan atau menanyakan sesuatu. Dapat juga diuji secara informasi dengan menanyakan nama beberapa objek, misalnya :
Ibu : Apa ini? (Sambil memegang kuping anak)
Anak : Kuping
Ibu : Apa ini? (Sambil memegang meja)
Anak : Meja
Kalau kata kuping, meja dan lain-lain diujarkan dengan baik, berarti anak itu telah dapat mengujarkan kata-kata dengan baik. Ini tidak harus berarti bahwa anak itu telah dapat mengujarkan semua kata dengan baik. Yang penting ialahi sejumlah kata telah dapat diajarkan dengan baik.

3)Apakah anak sudah dapat mengingatkan kata-kata?
Percakapan seperti diatas dapat dipergunakan untuk melihat kemampuan ini, terutama dengan menanyakan nama obyek-obyek tertentu. Misalnya : pada suatu hari anak ditanya “Apa ini?” sambil memegang rambutnya. Anak menjawab “Rambut”. Besoknya, pertanyaan yang sama ditanyakan lagi. Jika jawabnya benar, maka dia telah dapat mengingat kata itu.

4)Apakah anak sudah dapat mengujarkan bunyi huruf?
Kemampuan ini sesungguhnya dapat dikatakan sudah tercakup dalam pertanyaan-pertanyaan diatas. Namun baik juga diperhatikan secara khusus. Ini dapat dilihat misalnya dengan meminta anak meniru mengujarkan bunyi huruf-huruf yang diujarkan oleh ibu, misalnya :
Ibu : /a/ (bunyi huruf a)
Anak : /a/
Ibu : /b/ (bunyi huruf b)
Anak : /b/ dan lain-lain

5)Apakah anak sudah menunjukkan minat membaca ?
Hal ini dapat dilihat misalnya dari keinginan anak memegang buku, membuka-bika bacaan lain dan meniru-niru membaca, serta mencoret-coret kertas. Ini berkaitan erat dengan usaha-usaha yang telah dibicarakan terdahulu.

6)Apakah anak sudah dapat membedakan dengan baik ?
Yang dimaksud dengan membedakan di sini terutama ialah membedakan suara (bunyi) dan objek-objek. Jadi, kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan pendengaran dan penglihatan. Kemampuan ini dapat dilihat misalnya dari perilaku anak menanggapi kata-kata suruhan yang berbeda-beda. Dapat juga dilihat apakah anak dapat membedakan berbagai suara dan bunyi di sekitarnya, dengan bertanya “Suara (bunyi) apa itu?”, misalnya. Kemampuan membedakan objek-objek dapat diuji melalui berbagai alat permainanya. Kemampuan membedakan huruf-huruf juga dapat diuji dengan menunjukkan dua huruf yang berbeda dan menanyakan “Sama atau berbeda?” Dalam kemampuan membedakan dimaksud ini termasuk juga kemampuan membedakan arah gerakan, misalnya tangan bergerak dari kiri ke kanan, atau dari atas ke bawah.


F. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEMAMUAN MEMBACA
Kemampuan membaca seperti juga kemampuan menulis merupakan kegiatan yang kompleks, artinya banyak segi dan banyak faktor yang mempengaruhinya. Anderson (1990: 34) mengemukakan faktor motivasi, lingkungan, keluarga dan guru sebagai faktor yang sangat berpengaruh. Pendapat yang senada juga dikemukakan oleh Tampubolon (190 : 90-91) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca dan menulis terbagi atas dua bagian, yaitu faktor endogen dan eksogen. Faktor endogen adalah faktor-faktor perkembangan baik bersifat biologis, maupun psikologis dan linguistik yang timbul dari diri anak, sedangkan eksogen adalah faktor lingkungan. Kedua faktor ini saling terkait, dengan kata lain bahwa kemampuan membaca dan menulis dipengaruhi secara bersama. Lebih rinci akan diuraikan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca. Faktor-faktor tersebut adalah :
1)Motivasi
Faktor motivasi akan menjadi pendorong semangat anak untuk membaca. Motivasi merupakan faktor yang cukup besar pengaruhnya terhadap kemampuan membaca dalam situasi untuk membaca dapat dibedakan sumbernya. Dalam hal ini ada motivasi intrinsik yaitu yang bersumber pada pembaca itu sendiri dan motivasi ekstrinsik yang sumbernya terletak di luar membaca itu.
Seorang yang memiliki motivasi tinggi atau kuar, tanpa didorong atau disuruh membaca, giat belajar membaca, sedangkan yang tidak bermnotivasi atau motivasinya rendah tentunya enggan membaca. Motivasi adalah sebuah ketertarikan untuk membaca, hal ini penting karena jika ada motivasi akan menghasilkan siswa yang memiliki kemampuan belajar yang lebih baik. Cara agar siswa termotivasi dan tertarik adalah dengan menyediakan bahan bacaan yang berkualitas tinggi yang memiliki keammpuan belajar yang lebih baik. Cara agar siswa termotivasi dan tertarik adalah dengan menyediakan bahan bacaan yang berkualitas tinggi yang memiliki hubungan dengan kehiduan mereka. Cara lainnya adalah dengan membantu mereka memperjelas apa yang mereka sudah tahu ataupun yang belum diketahuinya sehingga mereka akan mudah menerima dan mengbubungkan dengan informasi baru, cara lainnya juga adalah dengan mengerti tujuan dari membaca dan apa yang diharapkan didapat dari proses membaca tersebut. Selain itu guru bertindak sebagai katalisator motivasi dan ketertarikan serta model bagi siswa.

2)Lingkungan Keluarga
Marrew (1993) berpendapat berdasarkan hasil penelitian yang dilakukannya bahwa pembaca dini (yang telah pandai membaca sebelum masuk sekolah) berasal dari keluarga yang berbudaya tuli). Dalam keluarga seperti itu orang tua atau yang lebih besar berperan sebagai model perilaku budaya tuli, sehingga sejak kecil anak telah terlihat dalam kegiatan baca tulis. Seperti yang juga dikemukakan oleh Leonhardt bahwa anak sangat memerlukan keteladanan dalam membaca. Keteladanan itu harus sesering mungkin ditunjukkan kepada anak oleh orang tua. Kemudian seperti yang dialaminya dengan menunjukkan perilaku membaca sesering mungkin pada anak, membuat anak gemar membaca. Seperti kit ketahui bahwa anak-anak memiliki potensi untuk meniru secara naluriah.
Menurut Leichter (1984) perkembangan kemampuan membaca dan menulis dipengaruhi oleh keluarga dalam hal :
a. Interaksi interpersonal
Interaksi interpersonal terdiri atas pengalaman-pengalaman baca tulis bersama orang rtua,s audara dan anggota keluarga lain di rumah.
b. Lingkungan fisik
Lingkungan fisik mencakup bahan-bahan bacaan di rumah
c. Susana yang penuh perasaan (emosional) dan memberokan dorongan (motivasional) yang cukup hubungan antarindividu di rumah, terutama yang tercermin pad asikap membaca.

3) Bahan Bacaan
Minat baca serta kemampuan membaca seseroang juga dipengaruhi oleh bahan bacaan. Bahan bacaan yang terlalu sulit untuk seseorang dapat mematikan selera untuk membaca. Sehubungan dengan bahan bacaan ini ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan yaitu topik atau isi bacaan dan keterbacaan bahan Bromley (1990) menyatakan bahwa bacaan anak-anak adalah bahan kritis dan media dalam mengajar komunikasi secara efektif. Bahan bacaan biasanya mengembangkan semua aspek pelajaran bahasa literatur.
• Memberikan anak-anak kesenangan ...... Untuk anak usia dini penyajian bahan bacaan disertai dengan gambar-gambar yang menarik. Gambar lebih dominan daripada tulisa.

G. PROSESS MEMBACA
Sabarti mengemukakan bahan agar pengembangan membaca dapat dilakukan secara konseptual, perlu diperhatikan beberapa butir teori yang berkaitan dengan perolehan kemampuan membaca. Adapun teori-teori tersebut dikemukakan oleh Morrow (1993) sebagai berikut :
1. Membaca dipelajari melalui interaksi dan kolaborasi sosial artinya dalam proses pemberdayaan membaca dan menulis situasi kelompokl kecil memegang peranan penting.
2. Anak belajar membaca sebagai hasil pengalaman kehidupan
3. Anak mempelajari ketrampilan membaca bila mereka melihat tujuand an kebutuhan proses membaca
4. Membaca dipelajari melalui pembelajaran ketrampilan langsung. Dalam hal ini yang sangat penting disadari oleh guru ialah kebutuhan individual anak-anak yang diakomdasikan dalam stratgegi pembelajaran yang tepat.
5. Holdoway (1986) menyatakan ada empat proses yang memungkinkan anak mempelajari kemampuan membaca atau melihat orang dewasa membaca. Kedua kolaborasi yaitu menjalin kerja sama dengan individu yang memberi dorongan motivasi dan bantuan bila diperlukan. Ketiga proses yaitu anak mencobakan sendiri apa yang sudah dipelajarinya. Keempat unjuk kerja, yaitu dengan berbagi apa yang sudah dipelajari dan mencari pengakuan dari orang dewasa.
6. Kemampuan membaca melalui beberapa tahap. Tetapi setiap anak memiliki laju pencapaiuan tertulisnya sendiri.
Mezoa dan Morrow juga mengemukakan bahwa ada tiga rangkaian perilaku membaca yang berkembang secara terpisah yaitu perhatian terhadap fungsi bentuk dan konversi cetakan. Kemudian Goodman (1984) dan Smith (1971) juga menyimpulkan bahwa pengenalan anak tentang fungsi cetakan (huruf) merupakan langkah pertama dalam proses membaca. Tahap kedua anak lebih memperhatikan bentuk cetakan secara lebih rinci. Selanjutnya pada tahap ketiga anak menyadari adanya konvensi bahwa tulisan dibaca dari kiri ke kanan, tanda baca digunakan dengan suatu maksud, jarak dipakai untuk memisahkan kata atau huruf dan seterusnya (Morrow, 1993).

H. STRATEGI PENGEMBANGAN KEMAMPUAN MEMBACA DI TK
Bagaimana strategi pengembangan kemampuan membaca yang baik dan tepat di TK perlu diketahui dan dikembangkan oleh guru Taman Kanak-kanak. Jangan sampai pengembangan kemampuan membaca di Taman Kanak-kanak mengadopsi proses pembelajaran yang berlaku di SD. Seperti yang dikemukakan oleh Moleong (2003 : 25) fenomena yang terjadi di lapangan bahwa sekarang banyak SD yang mengajukan persyaratan atau tes masuk dengan menggunakan konsep akademik terutama tes “membaca dan menulis”. Hal ini apabila tidak ditindaklanjuti dengan benar akan menyebabkan pergeseran tanggung jawab pengembangan kemampuan skolastik (akademik) dari SD ke Taman Kanak-kanak. Akibatnya Taman Kanak-kanak tidak lagi menjadi tempat bermain, bersosialisasi dan mendapatkan teman yang banyak melainkan beralih fungsi menjadi sekolah “Taman Kanak-Kanak” dalam rangka menyekolahkan anak-anak secara dini dan instan.
Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan strategi pengembangan yang sesuai dengan karakteristik anak Taman Kanak-kanak dan pengembangan harus tetap berpijak pada prinsip-prinsip dasar yang hakiki. Pendidikan Taman Kanak-kanak sebagai sebuah taman bermain, bersosialisasi dan juga sebagai wahana untuk mengembangkan berbagai kemampuan prakolastik yang lebih substansial. Seperti dikemukakan oleh Bromley (1992 : 216) strategi yang digunakan harus menyediakan dengan tepat sesuai minat yang dibutuhkan anak, juga melibatkan anak dan situasi yang berbeda dalam kelompok kecil, kelompok besar atau secara individual.
Strategi yang dapat digunakan dalam mengembangkan kemampuan membaca di Taman Kanak-kanak adalah dengan pendekatan pengalaman berbahasa. Pendekatan ini diberikan dengan menerapkan konsep DAP (Developmentally Aproppriate Practice).
Pendekatan ini disesuaikan dengan karakteristik pembelajar di Taman Kanak-kanak, yakni melalui bermain dengan menggunakan metode mengajar yang tepat untuk mengembangkan kmampuan membaca serta melibatkan anak dalam kegiatan yang dapat memberikan berbagai pengalaman bagi anak. Selain itu perlu juga memperhatikan motivasi dan minat anak sehingga kedua faktor itu betul-betul memberikan pengaruh yang besar dalam pengembangan kemampuan membaca. Strategi ini dilaksanakan dengan memberikan beragam aktivitas yang memperhatikan perkembangan kemampuan membaca yang dimiliki anak.

I. TUJUAN PENGEMBANGAN KEMAMPUAN MEMBACA
1)Pengembangan Sikap Positif terhadap Membaca
Sikap positif terhadap bacaan dan terhadap kegiatan membaca dapat ditingkatkan melalui strategi berikut :
a. Menciptakan lingkungan budaya baca tulis yang kaya.
b. Menciptakan kegiatan membaca cerita yang menyenangkan dengan menggunakan teinik dan sarana cerita yang menarik.
c. Merancang kegiatan membaca cerita yang menyenangkan dengan menggunakan teknik dan sarana cerita yang menarik

2)Pengembangan Konseop Tentang Buku dan Pemahaman Teks
Konsep tentang buku mencakup konsep tentang :
a. Fungsi buku (untuk membaca)
b. Bagian buku (depan belakang, atas-bawah)
c. Cara membuka, membalik halaman
d. Isi buku (tulisan-gambar)
e. Hubungan antar gambar pada satu halaman dengan tulisannya
f. Permulaan tulisan pada setiap halaman
g. Makna judul
h. Ilustrator (Morrow, 1993)
Selanjutnya Morro (1993) mengemukakan anak mengembangkan pemahaman tentang tulisan jika :
a. Berusaha membaca buku yang terkenal
b. Melibatkan diri dalam pembcanaan cerita ketika cerita itu dibacakan
c. Menceritakan kembali isi cerita tanpa buku
d. Memasukkan unsur-unsur cerita pada waktu menceritakan kembaliu cerita itu (latar tema, alur, pemecahan).
e. Mengemukakan pertanyaan literal sesudah membaca
f. Mengemukakan pertanyaan interpretatif yang meramalkan kelanjutan cerita
g. Mengemukakan pertanyaan kritis yang menganalisis informasi, menarik kesimpulan membedakan fakta dan pendapat dan fantasi; serta menggunakan informasi dalam bacaan
h. Menggunakan bahan refrensi lain untuk menambah informasi tentang bacaan (Morrow, 1993).
Untuk mengembangkan konsep tentang buku dan pemahaman teks itu dapat diterapkan berbagai teknik. Teknik teknik tersebut dapat memanfaatkan karya sastra untuk anak antara lain :
a. Membaca buku favorit
b. Dorect reading – Thninking anda Listening Thinking Activities (DRT and LTA)
Teknik DLT maupun LTA mendorong anak untuk berpikir secara terarah. Selain itu teknik tersebut mengembangkan sekaligus kemampuan bahasa secara utuh.

J. METODE PENGEMBANGAN MEMBACA UNTUK ANAK USIA TAMAN KANAK-KANAK
1. Pendekatan pengalaman bahasa
Dalam pendekatan ini guru menggunakan kata-kata anak sendiri untuk membantunya belajar membaca. Kata-kata itu dapat berupa penjelasan suatu gambar atau suatu cerita pendek yang dimasukkan ke dlaam suatu buku.
Mula-mula anak itu mengatakan kepada guru apa yang harus ditulis. Setelah beberapa waktu anak-anak dapat menyalin tulisan guru dan akhirnya dapat menulis kata-kata mereka sendiri.
Banyak guru menggunakan metode ini sebagai suatu pendekatan pertama untuk membaca. Membaca kata-kata mereka sendiri membantu anak-anak memahami bahwa kata yang tertulis adlaah untuk komunikasi makna.
Jadi, kekuatan dari pendekatan pengalaman bahasa yang utama adalah dapat membuat anak menggunakan pengalaman mereka sendiri sebagai bahan utama pelajaran membaca. Keunggulan lain dalam pendekatan ini anak menggunakan pola bahasa mereka sendiri, mereka dapat membaca lebih efektif daripada membaca pola bahasa yang ada dalam buku (Miller, 1977 : 44).

2. Fonik
Metode ini mengandalkan pada pelajaran alfabet yang diberikan terlebih dahulu kepada anak-anak, mempelajari nama-nama huruf dan bunyinya. Setelah mempelajari bunyi huruf mereka mulai merangkum beberapa huruf tertentu untuk membentuk kata-kata.
b-a-k r-a- k p-a- k t-a- k
Untuk memberikan latihan membaca kepad aanak-anak dlam keterampilan ini, buku-buku cerita haruslah dipilih secara terencana, sehingga semua kata bersifat regular, dapat dibunyikan. Luar biasa sukarnya untuk menulis buku dengan kata-kata yang secara fonik bersifat reguler, yang menarik untuk dibaca anak-anak.
Satu dua tiga
Si gendut naik kuda
Anak kekurangan dalam menggunakan metode fonik sebagai pendekatan pertama untuk membaca. Mempelajari bunyi yang terpencil sangat abstrak bagi anak kecil. Ini tidak berarti apa-apa biasanya mereka menganggapnya sebagai membosankan.
Mereka juga harus benar-benar memusatkan pikiran akan pembunyian kata-kata sehingga mereka tidak mampu mengucapkan kata dengan benar tanpa mempunyai gambaran akan artinya. Anak-anak yang diajar hanya dengan metode ini akan belajar dan mengucapkan kata-kata tak bermakna dengan sangat benar, sedangkan jika kata-kata itu dalam kalimat mereka segera tahu bahwa kata-kata itu tidak berarti.
Karena alasan-alasan inilah metode fonik biasanya tidak diajarkan sampai anak-anak dapat memahami dengan baik dasr-dasar membaca. Tetapi anak-anak yang besr yang merasakan kesukaran membaca, sering merasa pendekatan fonik ini baik bagi mereka.
Tidak ada bukti pasti bahwa salah satu metode itu lebih unggul daripada yang lain. Kebanyakan guru cenderung menggabung sejumlah metode yang berlainan. Anak-anak yang berlainan memperoleh manfaat dari metode yang berlainan pada tahap yang berlainan.

3. Lihat dan Katakan
Dalam metode ini anak-anak belajar mengenali kata-kata atau kalimat-kalimat keseluruhan, bukanya bunyi-bunyi individu. Mereka memandangi kata-kata, mereka mendengar kata itu diucapkan dan kemudian mereka mengulangi ucpan itu.
Dua puluh tahun yang lalau orang lazim menggunakan kartu dengan dilihatkan sekilas dalam mengajar dengan metode ini. Kartu-kartu itu dipegang untuk dikenali anak-anak, tapi karena tidak ada petunjuk untuk membantu mereka, si anak menebak-nebak.
Sekarang umumnya diakui bahwa lebih baik menunjukkan seluruh kalimat lebih dahulu, dan lebih baik diiringi gambar, kemudian seperangkat kartu kata-kata yang sepadan ditaruh di bawah kalimat, dan akhirnya hanya kartu-kartu itu untuk membuat sebuah kalimat.
Dengan cara lain anak-anak dapat memperoleh makna dari dalam kata-kata tercetak dari tahap paling awal belajar membaca.

4. Metode pendukung konteks
Bila anak-anak sedang belajar membaca, sangatlah penting bahwa mereka menggunakan buku yang benar-benar menarik bagi mereka. Meskipun demikian mereka tidak dapat menangani terlalu banyak kata baru, dan sukarlah untuk menulis cerita yang menarik dengan kata-kata yang terbatas banyaknya. Untuk mengatasi masalah ini diterbitkan beberapa buku yang memberikan dua versi dari suatu cerita. Bersi panjang seringkali dicantumkan pad asatu halaman dan pada halaman sebelahnya ada versi yang lebih pendek.
Kadang-kadnag versi panjang ditaruh pada bagian bawah halaman dan versi pendek dalam gelembung-gelembung bicara. Anak itu mendengar versi panjang sebelum membaca sendiri versi pendeknya. Perbendaharaan kata-kata yang lebih terbatas dari versi pendek dihidupkan karena anak itu dapat mengaitkan dengan apa yang telah ia dengar.
Ini merupakan cara yang relatif baru dalam mengajar membaca dini. Cara ini memang membantu untuk membuat kata yang tercetak lebih menarik dan bermakna bagi seorang anak.


IV. PERKEMBANGANM MENULIS PADA ANAK
A. PENGERTIAN
Menulis merupakan slah satu media untuk berkomunikasi, dimana anak dapat menyampaikan makna, ide, pikiran dan perasaannya melalui untaian kata-kata yang bermakna. Menurut Poerwodarminto (1982), menulis memiliki batasan sebagai berikut : (1) membuat huruf, angka dan lainnya dengan pena, kapur dan sebagainya (2) Mengepresikan pikiran atau perasaan seperti mengarang, membuat surat, dan lainnya dengan tulisan. Senada dengan pertanyana tersebut Badudu (1982) mengemukakan bahwa menulis adalah menggunakan pena, potlot, ball ppoint di atas kertas, kain ataupun papan yang menghasilkan huruf, kata, maupun kalimat. Dengan demikian menulis bukanlah sekedar membuat huruf-huruf ataupun angka pada selembar kertas dengan menggunakan berbagai alternatif media, melainkan merupakan upaya untuk mengkspresikan perasaan dan pikiran yang ada pad diri individu.
Dalam Webster New World Dictionary (1988) menulis diartikan sebagai suatu kegiatan membuat pola atau menuliskan kata-kata, huruf-huruf,. Ataupun simbul-simbul pada suatu permukaan dengan memotong, mengukir atau menandai dengan pena ataupun pensil.
Kegiatan menulis di TK harus memperhatikan kesiapan dan kematangan anak. Kegiatan tersebut dapat dilakukan jika perkembangan motorik halus anak telah matang dimana terlihat dari kemampuannya dalam memegang pensil. Pada awalnya anak hanya memegang pensil untuk mencoret-coret namun seiring perkembangannya anka akan mengkonsentrasikan jari-jarinya untuk menulis lebih baik. Ada dua kemampuan yang diperlukan anak untuk menulis yaitu kemampuan meniru bentuk, dan kemampuan menggerakkan alat tulis.
Menurut Brewer, ada 4 tahapan dalam kemampuan menulis sebagai berikut :
1) Scribble Stage, yaitu tahap mencoret atau membuat goresan. Pada tahap ini anak mulai membuat tanda-tanda dengan menggunakan alat tulis. Pada tahapa ini mereka mulai belajar tentang bahasa tulis dan cara mengerjakan tulisan tersebut.
2) Liniear Repetitive Stage, yaitu tahap pengulangan linear. Pada tahap ini anak menelsusuri bentuk tulisan yang horizontal.
3) Random Letter Stage, yaitu tahap menulis random. Pada tahap ini anak belajar tentang berbagai bentuk yang merupakan suatu tulisan dan mengulang berbagai kata ataupun kalimat.
4) Letter Name Writing of Phonetic Writing, yaitu tahap menulis nama. Pada tahap ini anak mulai menyusun dan menghubungkan antara tulisan dan bunyinya. Anak mulai menulis nama dan bunyi secara bersamaan.
Morrow (1993) membagi kemampuan menulis anak menjadi 6 tahapan sebagai berikut :
1) Writing via Drawing, yaitu menulis dengan cara menggambar
2) Writing via Scribbling, yaitu menulis dengan cara menggores. Anak seringkali mencoret dari arah kiri ke kanan seakana mencontoh tulisan orang dewasa.
3) Writing via Making Letter – like forms, yaitu menulis dengan cara membuat bentuk seperti huruf. Anak tidak hanya membuat goresan, tetapi sudha melibatkan unsure kreasinya.
4) Writing via Reproducing Well-Learned Unit or Letter Stings, yaitu menulis dengan cara menghasilkan huruf-huruf atau unit yang sudah baik. Anak menulis huruf-huruf dengan mencontoh misalnya mencoba menuliskan namanya.
5) Writing via Invented Spelling, yaitu menulis dengan mencoba mengeja satu persatu. Dalam tahap ini anak mencoba mengeja dengan cara coba-coba salah (trial and error).
6) Writing via Invented Spelling., yaitu menulis dengan mencoba mengeja satu persatu. Dalam tahap ini anak mencoba mengeja dengan cara coba salah (trial and error).
7) Writing via Conventional Spelling, yaitu menulis dengan cara mengeja langsung. Dalam tahap ini anak lebih dapat mengeja secara benar baik dari segi susunan maupun ejaannya.
Feldman (1991) memberikan batasan tentang tahapan kemampuan menulis pada anak sebagai berikut :
1)Scrible on the Page, yaitu membuat gioresan pada kertas. Dalam tahap ini anak membuat gambar ataupun huruf-huruf yang terpisah.
2)Copy Word, yaitu mencontoh huruf. Anak mulai tertarik untuk mencontoh huruf huruf seperti dalam kata mama, papa dan sebagainya.
3)Invented Spelling, yaitu belajar mengeja. Dalam tahap ini anak mulai menemukan cara mengeja dan menuliskan huruf sesuai dengan bunyinya.
Tahapan kemampuan menulis di atas merupakan gambaran kemampuan menulis anak yang berawal dari tahapan yang sederhana sampai tahapan yang lebih tinggi. Munculnya kemampuan menulis ditandai dengan adanya ketertarikan anak pada kegiatan menulis yang bermula dari mencoret, mencoba menulis huruf, menulis namanya sendiri dan meniru kata atau tulisan.


LATIHAN SOAL MEMBACA
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas silahkan Anda mengerjakan latihan berikut ini !
1)Jelaskan pengertian membaca dengan kata-kata Anda sendiri !
2)Mengapa kemampuan membaca penting dimiliki anak ?
3)Jelaskan factor-faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca pada anak ?
4)Jelaskan apa saja tujuan orang membaca ?

PETUNJUK JAWABAN LATIHAN
Diskusikan soal latihan di atas dengan teman Anda atau dalam kelompok kecil. Dengan demikian Anda akan memperoleh jawaban yang lebih mendalam. Kemudian ferleksikanlah hasil diskusi tersebut dengan menggunakan kata-kata Anda sendiri. Bila Anda dapat melakukannya dengan baik, berarti Anda telah memahami kegiatan belajar ini.
Dalam rangka memantapkan pemahaman Anda terhadap materi yang telah Anda pelajari, bacalah rangkuman berikut ini.

V. PERMAINAN BAHASA DI TAMAN KANAK-KANAK
A. BERMAIN SEBAGAI PEMICU PERKEMBANGAN BAHASA
Dari berbagai penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan, diperoleh temuan bahwa bermain dan permainan mempunyai manfaat yang besar bagi perkembangan anak. Kegiatan bermain merupakan pengalaman belajar yang sangat berguna bagi anak. Misalnya saja untuk memperoleh pengalaman dalam membina hubungan dengan sesama teman, menambah perbendaharaan kata, menyalurkan perasaan perasaan tertekan dan masih banyak sekali manfaat lain yang dapat dipetik dari kegiatan bermain dan permainan.
Khusus untuk pengembangan kemampuan bahasa, permainan memiliki manfaat yang sangat baik bagi anak. Dengan teman-teman sebayanya anak perlu berkomunikasil pada mulanya melalui bahasa tubuh, tapi dengan meningkatnya usia dan bertambahnya perbendaharaan kata , ia akan lebih banyak menggunakan bahas alisan. Anak akan belajar kata-kata baru, sehingga memperkaya perkembnangan bahasanya serta mampu menggunakan bahasa secara lebih terampil serta luwes. Semua ini dapat diperoleh anak melalui kegiatan permainan bahasa, di mana anak akan dapat menyusun kemampuan bahasanya. Model pembelajaran dengan kegiatan permainan dan bermain aktif ini akan memberikan rasa aman dan lingkungan yang meningkatkan minat dan motivasi pada anak.
Menciptakan model pembelajaran dengan permainan jelas membutuhkan persiapan permainan itu sendiri, yaitu tentang apa yang akan dimainkan anak dengan mengacu pada keterampilan tertentu. Namun perlu diingat bahwa kemampuan anak tidaklah selalu sama. Walau begitu, kegiatan bermain akan mampu memenuhi segala macam tingkat kemampuan anak untuk mendapatkan apa yang dibutuhkannya.

B. PERMAINAN BAHASA UNTUK MELATIH KEMAMPUAN MENDENGARKAN.
Mampu mendengarkan dengan benar dan tepat merupakan bagian yang penting dalam belajar dan berkomunikasi dan juga penting dalam tahap-tahap dalam belajar bahasa tulisan. Mendengarkan adalah suatu kemampuan / ketrampilan yang harus dipelajari lewat praktek oleh anak. Anak-anak memerlukan dorongan untuk mendengarkan dengan segala perhatiannya. Guru dapat memperdengarkan bunyi-bunyian yang berlainan dan membicarakan tentang bunyi-bunyi tersebut serta melakukan berbagai permainan yang dapat memberikan semangat mendengarkan pada diri anak.
Tahap pertama dalam belajar mendengarkan adalah menyadari sebanyak mungkin bunyi yang berlainan. Hanya dengan mengacu ke berbagai macam bunyi-bunyi dan membicarakannya akan sangat menolong dan mengenalkan kepada anak-anak kata-kata yang dengan kata itu bunyi itu diberikan.

1.Permainan mendengarkan
Berikut ini akan diuraikan contoh-contoh kegiatan permainan mendengarkan untuk melatih kemampuan menyimak atau mendengar pada anak.
a. Ada berapa bunyi ?
Ada berapa banyakkah bunyi di lingkungan sekitar kita ? Ajaklah anak-anak untuk menutup matanya dan tidak bergerak-gerak dan tanpa bersuara. Kemudian periksa berapa banyak suara/bunyi yang dapat mereka dengar dari lingkungan sekitarnya.
b. Apa yang sedang saya lakukan sekarang ini ?
Suatu orang anak menutup matanya dan harus menebak apa yang sedang dilakukan oleh anak yang lain yang sedang membuka sebuah pintu, memantulkan bola, atau membuka koran dan kegiatan lainnya yang menimbulkan suara.
c. Apa yang menimbulkan suara itu ?
Pilihlah tiga atau empat benda yang menghasilkan suara yang berlainan. Dengarkan suara-suara itu. Anak menutup matanya sementara Anda menyingkitkan salah satu benda tersebut. Kemudian minta anak menyebutkan benda apa yang disingkirkan tersebut.
d. Bunyi kertas
Anak-anak diajak mendengarkan bersama bunyi yang berlainan, yang dihasilkan dari kertas yang dirobek, diremas atau dilambai-lambaikan. Anak harus menutup matanya dan menebak apa yang sedang dilakukan guru dengan kertas tersebut. Cobalah untuk melakukan hal yang sama dengan menggunakan jenis-jenis kertas yang berlainan.
e. Bunyi benda jatuh
Pilihlah tiga benda yang berlainan seperti mislanya uang logam, jepit kertas dan sebatang pensil untuk dijatuhkan ke dalam sebuah boks atau kaleng. Anak harus menutup matanya dan menebak benda apakah itu.

f. Bunyi yang direkam dengan tape rekorder
Rekamlah sejumlah bunyi dan suara yang dikenali oleh anak dan periksalah apakah anak dapat mengenali suara-suara itu ketika diperdengarkan di depan kelas. Guru dapat melukis gambar untuk menyajikan bunyi-bunyian itu pada lembar-lembar kartu. Jika anak mendengar suatu suara dari rekaman maka anak harus membalikkan kartu yang perpadanan dengan suara itu.
g. Perintah yang dibisikkan
Anak mendapatkan perintah melalui bisikan yang dilakukan guru atau temannya. Mulailah dengan satu perintah misalnya, ”duduklah di atas bantalan”, kemudian tambahkan satu perintah lagi. Ambillah sebuah buku.” Dan begitulah seterusnya dengan perintah-perintah lain.
h. Kocok dan pasangkan
Dalam kegiatan ini diperlukan sekumpulan wadah kosong yang memadai beserta tutupnya, misalnya bekas wadah film atau karton bekas keju. Taruh sedikit bahan yang berlainan, seperti misalnya pasir, kerikil, beras, jepit kertas atau gula di dalam wadah-wadah ini. Bahan yang sama ditaruh dalam dua wadah. Anak diminta untuk mengocok wadah-wadah itu dan membandingkan wadah-wadah yang sama bunyinya. Kemudian guru dapat mengocok tiga wadah bergiliran. Anak harus mengingat urutan suara itu, mencari bunyi yang benar dengan urutan yang benar pula.

C. PERMAINAN BAHASA UNTUK MELATIH KEMAMPUAN BERBICARA.
Cara terbaik untuk mendorong perkembangan bahasa anak adalah dengan menyisihkan waktu untuk berbicara dengan mereka. Doronglah anak untuk mengungkapkan pendapat, perasaan, melontarkan pertanyaan dan mengambil keputusan. Bahas dan jelaskan kata-kata baru bilamana anak menunjukkan perhatian terhadap kata-kata baru tersebut. Anak belajar kata-kata baru dengan mendengar kata-kata itu yang digunakan dalam konteks tertentu. Guru dapat mengajak anak untuk membicarakan bunyi kata-kata, kata-kata lain dengan bunyi dan makna yang mirip, dan kata-kata yang maknanya berlawanan.
Anak-anak akan belajar banyak dengan mendengarkan pembicaraan. Inilah salah satu alasan untuk menyertakan anak-anak atau orang dewasa lain dalam kegiatan pengembangan bahasa. Janganlah mengoreksi apa yang anak katakan atau mengkritik cara mereka mengungkapkan dirinya, atau dengan mencoba menghentikan mereka menggunakan bahasa bayi. Peragakan cara pengucapan kata yang benar dengan menerangkan kata dalam pembicaraan.
Memberikan kegiatan yang menarik dan merangsang merupakan suatu bagian penting dalam mendorong perkembangan bahasa. Anak harus mempunyai sesuatu yang ingin mereka ungkapkan sebelum mereka dapat menggunakan dan mempraktekkan kata-kata, frase dan ungkapan baru yang telah mereka peroleh. Pergi keluar sekolah (field trip), bermain dan membuat benda-benda, semuanya memberikan pengalaman untuk dibicarakan. Di bawah ini akan diuraikan beberapa gagasan untuk mendorong anak agar mampu mengungkapkan diri dengan kata-kata melalui permainan berbicara.
1. Permainan Berbicara
Permainan berbicara atau permainan deskriptif adalah permainan yang menuntut anak-anak untuk menguraikan benda dengan mendorong anak untuk mencari kata-kata dan membantu mereka berbicara dan berpikir dengan lebih jelas. Berikut ini adalah contoh contoh kegiatan permainan berbicara.
a. Kotak raba
Letakkan objek-objek rumah tangga atau ruang kelas dalam satu boks yang telah dilubangi sampingnya. Kemudian anak memasukkan kedua tangannya ke dalam kotak dan mencoba menguraikan apa yang dirabanya sebelum menebak benda apa itu. Versi lain dimainkan dengan tiga orang. Satu orang meletakkan objek ke dalam kotak, yang kedua merabanya dan mencoba menguraikannya, yang ketiga menebak benda apa itu.
b. Pemberian gambar
Secara bergiliran anak mengatakan sesuatu mengenai suatu gambar dalam sebuah buku atau majalah, dengan mula-mula mengulangi semua pernyataan yang telah dilakukan sebelumnya. Permainan ini baik untuk daya ingat dan mengembangkan daya pengamatan maupun bahasa. Guru dapat menyesuaikan dalam banyak cara mislanya : ”Pada pulau ajaibku aku akan mempunyai...”
c. Mencari hubungan
Permainan sederhana ini meminta anak untuk memberikan hubungan antara dua objek nyata sekitar rumah, sekolah atau kebun atai lukisan gambar sederhana pada potongan-potongan kartu kecil. Biarkan juga anak-anak mengumpulkan pasangan pasangan objek mereka sendiri dan menjelaskan mengapa mereka mengumpulkannya.
d. Permainan fantasi
Permainan fantasi adalah permainan yang melibatkan anak-anak untuk membayangkan diri dalam peran atau situasi. Contoh-contoh permainan fantasi adalah sebagai berikut :
1)Bermaian boneka
Sering para ahli menggunakan boneka untuk anak-anak yang mempunyai masalah bicara atau komunikasi. Beberapa anak memainkan boneka-boneka ini tepat sama seperti mereka bermain boneka. Beberapa anak lain memungkinkan ingin memainkannya dalam suatu pertunjukan. Beberapa anak benar-benar tidak menyukai boneka, jadi jangan paksa mereka jika mereka tidak tertarik.
2)Permainan Berdandan
Cobalah membuat kumpulan pakaian asesori untuk berdandan dengan mengumpulkan pakaian bekas dari orangtua anak, serta mencari barang obralan dan toko loakan. Permainan ini sangat disukai anak karena seringkali anak-anak menganggap asesori dandanan seperti topi, perhiasan dan tas, lebih penting daripada sekedar pakaian.
3)Permainan Kotak karton
Kotak karton dengan berbagai bentuk dan ukuran dapat menciptakan aneka ragam situasi bermain. Fantasi yang berlainan. Kotak-kotak besar dapat dijadikan rumah, gua atau ruang kecil. Kotak ukuran sedang menjadi kendaraan, meja, bangku, dan loket, dan kotak kecil dapat dijadikan garasi, rumah pertanian dan rumah-rumah miniatur.

D. PERMAINAN BAHASA UNTUK MELATIH KEMAMPUAN MEMBACA.
Terdapat hubungan yang erat antar perkembangan berbahasa dan belajar membaca. Sebelum kita membaca, anak-anak harus mengetahui dan menggunakan perbendaharaan kata-kata dasar dengan baik. Mereka harus dapat memahami kata-kata yang mereka lihat tercetak jika mereka telah menemui kata-kata tersebut dalam pembicaraan. Anak-anak yang dapat berbicara dengan baik dan banyak cenderung akan menjadi pembaca yang baik pula.
Cara terbaik untuk membantu anak belajar membaca adalah membacakan buku baginya dan bersamanya serta mempunyai banyak buku yang menarik di dalam kelas. Membuat anak sadar akan kata yang tertulis disekitarnya dan menuliskan hal-hal untuknya juga akan sangat berguna.
Permainan kata dan huruf dapat memberikan suatu situasi belajar yang santai dan informal, bebas dan ketegangan dan kecemasan. Anak-anak dengan aktif dilibatkan dan dituntut untuk memberikan tanggapan dan membuat keputusan. Dalam memainkan suatu permainan anak-anak dapat melihat sejumlah terbatas kata-kata berkali-kali, namun tidak dalam cara yang membisankan dan berulang-ulang.
Bermain dengan kata-kata haruslah menyenangkan dan bahwa belajar membaca itu suatu hal yang menyenangkan. Bermainlah hanya jika anak menginginkannya. Janganlah membuat permainan itu tampak sebagai suatu kewajiban. Permainan permainan ini haruslah sesuai dengan kegiatan permakinan lainnya yang dilakukan besama-sama.
Berilah banyak ganjaran (reward) berapa pujian dan semangat dan hindari kesan dilakukan bersama-sama dengan anak. Pertama-tama sebagai sasaran utama guru harus mencari cara-cara yang menyenangkan dari :
1. Memasangkan suatu kata dengan suatu gambar
2. Memasngkan suatu kata tertulis dengan kata yang diucapkan
3. Memasangkan suatu kata tertulis dengan suatu kata tertulis
4. Memasangkan suatu huruf awal dan suatu gambar
5. Memasangkan bentuk-bentuk huruf dengan bunyi huruf

1. Permainan Kata dan Huruf
Memisahkan permainan yang melibatkan pengenalan huruf-huruf alfabet dan kata-kata utuh adalah suatu yang kebanyakan anak-anak akan menyukainya asalkan dilakukan dengan cara yang benar. Permainan ini juga dapat membentuk dasar pelajaran membaca dan menulis. Meskipun demikian, tidaklah bijaksana untuk terlalu menekankan pada aspek ”belajar membaca” dari permainan-permainan ini. Jika ini mulai mengungguli unsur bermain, maka lebih banyak akan berakibat buruk pada anak.

2. Kapan anak siap untuk permainan ni ?
Anak akan siap apabila mereka menunjukkan perhatian pada saat guru menunjuk kata-kata dan huruf-huruf pada rambu-rambu atau di dalam buku, atau menuliskan kata kata itu untuk mereka. Melihat namanya sendiri ditulis biasanya menggugah perhatian anak pada tahap ini dan biasanya huruf pertama pada namanya merupakan huruf yang pertama-tama mereka kenali. Mereka akan lebih tertarik jika mereka menikmati nama itu dibaca dan memunyai sesuatu pemahaman akan kegunaan membaca. Anak harus telah mengembangkan dengan baik kesadaran akan rincian sehingga mampu mengenali perbedaan antara bentuk-bentuk huruf. Konsentrasi dan memori mereka juga harus dikembangkan secukuonya.

E. Memulai Mengenali Kata dan Huruf
Setelah anak-anak terbiasa melihat-lihat buku, melihat lihat hal-hal yang ditulis, dan memperhatikan kata-kata dalam lingkungan mereka lambat laun mereka akan mampu mengenali kata-kata dan huruf-huruf satu demi satu. Pada tahap ini mungkin guru akan akan menghadapi pertanyaan : haruslah memusatkan perhatian pada kata atau huruf ? bagaimana menyebut huruf-huruf itu ? bagaimana seharusnya menuliskannya ? Berikut ini beerapa paduan.
1. Mengenali kata
Ketika anak mulai mengenali huruf dan kata, sebaiknya tunjukkan kata-kata itu kepada mereka, terutama nama teman-teman, keluarga, hewan peliharaan dan mainan. Ketika Anda menunjukkan sesuatu kata ucapkan beberapa kali, tetapi jangan terlalu menyolok. Janganlah mencoba mengajarkan kata-kata yang tidak umum tanpa memberikan konteks ataupun petunjuk mengenai maknanya. Gambar dengan kata-kata label pada objek, tanda dalam situasi-situasi, semuanya ini memberikan suatu konteks kepada kita itu. Adalah suatu terobosan besar bila seorang anak dapat mengenali sendiri suatu huruf. Janganlah mengharapkan hal ini terlalu cepat terjadi.
2. Huruf Kapital dan Huruf Kecil
Banyak huruf kapital (besar) sangat berbeda dengan huruf kecil padanannya. Untuk mudahnya, pusatkan usaha hanya pada huruf kecil saja. Huruf kecil menyebabkan kata berbenda benda (signitif), sedangkan huruf kapital menyebutkan kata berbentuk seragam. Tetapi gunakan huruf kapital bila wajar, misalnya untuk huruf pertama nama.
3. Mengenali Huruf
Memang akan datang waktunya kata-kata yang tidak dikenal menimbulkan masalah. Kata-kata itu tidak selalu dapat dikenali sebagai kata-kata utuh, atau ditebak dalam konteks. Pada tahap ini seorang anak memerlukan cara-cara untuk mengetahui apa maksud kata itu. Mengetahui bunyi huruf pertama dapat memberikan suatu petunjuk yang ampuh. Meskipun demikian pusatkan perhatian hanya pada suatu huruf pertama. Pada tahap awal belajar membaca bukanlah gagasan yang baik untuk mencoba mengajari anak untuk menyembunyikan tiap huruf dari kata tersebut. Bagi mereka permintaan itu sukar untuk dimengerti itu sukar untuk dimengerti. Pertama kali Anda mengajarkan bunyi huruf. Gunakan yang telah dimengerti . Umumnya anak memulai dengan huruf yang pertama dari namanya sendiri dan nama orang-orang serta benda yang dekat dengan mereka.
4. Bunyi dan nama Huruf
Anda perlu mengajari anak bunyi yang dibuat oleh tiap huruf. Namun biasanya tidak sukar dalam mempelajari suatu huruf dan bunyinya sekaligus.
5.Alfabet
Banyak buku dan mainan alfabet yang baik, yang dapat membantu anak-anak untuk mempelajari bentukd an bunyi huruf-huruf. Janganlah tergesa-gesa mengajari mereka urutan alfabet.

F. Melakukan Permainan
Cara terbaik untuk membantu putra Anda belajar membaca adlaah dengan mengajari membacakan bukui baginya dan bersamanya serta mempunyai banyak buku yang menarik di sekitar rumah. Membuatnya sadar akan kata tertulis di sekitarnya dan menuliskan hal-hal untuknya juga sangat berguna.
Permainan kata dan huruf dapat memberiakn suatu situasi belajar yang santai dan informal, bebas dari tegangan dan kecemasan. Anak-anak dengan aktif dilibatkan dan dituntut untuk memberikan tanggapan dan membuat keputusan. Dalam memainakn suatu permainan, anak-anak dapat melihat kata-kata berkali-kali, namun tidak dalam cara yang membosankan dan berulang-uylang.
Bermain dengan kata-kata haruslah menyenangkan dan bahwa belajar membaca itu suatu hal yang menyenangkan. Bermainlah hanya bila anak Anda menginginkannya. Janganlah membuat permainan itu tampak sebagai kewajiban. Permainan permainan ini haruslah sesuai dengan kegiatan main lainnya yang Anda lakukan bersama-sam dengan Anda.
Berilah banyak sanjungan dan semangat, dan hindari kesan baha ia melakukan kegagalan. Jika suatu permainan terlalu sukar, bantulah ia, sesuaikan agar cocok untuknya. Atau dengan bijaksana pindah kesuatu permainan lain.

1. Menyusun Permainan
Pada halaman-halaman berikutnya terdapat saran-saran untuk permainan dan kegiatan yang dapat Anda buat dan mainkan bersama anak didik Anda. Mungkin Anda juga ingin menyusun beberapa permainan anda sendiri. Pertama-tama, sasaran utama Anda haruslah mencari cara-cara yang menghibur dari :
a. Memasangkan suatu kata dengan suatu gambar
b. Memasangkan suatu kata tertulis dengan kata yang diucapkan
c. Memasangkan suatu kata tertulis dengan suatu kata tertulis
d. Memasangkan suatu huruf awal dan suatu gambar
e. Memasangkan bentuk-bentuk huruf dengan bunyi huruf

2. Kegiatan lain
Ada banyak permainan dan kegiatan yang baik, yang dapat Anda beli untuk membantu mengenali kata dan huruf. Huruf-huruf magnetik yang melekat pada lemari es dan media cuci merupakan huruf yang sangat cocok untuk dibeli. Keunggulannya yang besar adalah mudahnya dipindah-pindah, yang akan sangat membantu bila anak memulai membentuk kata. Anak-anak dapat merasakan bentuk-bentuk huruf yang berlainan dengan tangan mereka ini membantu memperbedakan dan menginat ingat tiap huruf.

G. Beberapa Permainan Kata
Bahan-bahan :
1. Sejumlah besar kertas dan kartu, seperti kertas pelapis, dan kertas dinding (belakangnya), bungkus sereal dan lainnya, kartu pos polos dan kartyu ucapan selamat bakas.
2. Gunting
3. Perekat
4. Mistar
5. Pena berwarna
6. Persediaan besar gambar-gambar untuk digunting (katalog mainan, pakaian dan alat-alat rumah tangga sumber yang ideal).

Butir-butir yang harus diingat
1. Bila membuat permainan pilihlah kata-kata yang sudah pernah dilihat oleh anak didik Anda dalam konteks-konteks lain. Hal ini merupakan bagian dari menambah perbendaharaan katanya.
2. Jika permainan itu dibuat dengan teliti mungkin akan lebih menarik bagi anak Anda
3. Sesuaikan setiap permainan ini dengan tema yang terutama akan menarik minat anak didik Anda.
4. Anda juga dapat menyesuaikan setiap permainan untuk membuatnya lebih mudah atau lebih sukar, atau kurang kompetitif menurut kemampuan dan temperamen anak Anda. Permainan itu dapat diikuti oleh sedikit atau lebih banyak anak.


Membuat barisan
Pembuatan :
1. Guntiung suatu karton tebal berbentuk bujur sangkar 240 mm
2. Gambar garis bujur sangkar itu terbagi menjadi sembilan bujur sangkar lain seperti ditunjukkan di bawah
3. Gunting sembilan kartu agar cocok dengan kotak-kotak pada karton itu
4. Tempelkan gambar pada satu sisi dari tiap kartu, dan pada sisi lain, kata pasangannya dan gambar suatu lingkungan sebesar sebuah keping.
5. Cari sepuluh keping, lima dengan suatu warna, dan lima lain dengan suatu warna lain.

Cara bermain
1. Tumpuklah kartu-kartu, kata menghadap ke atas tebarkan kartu dengan sisi kata menghadap ke atas.
2. Dua pemain bergiliran mengambil sebuah kartu dan memabca kata pada kartu itu, kemudian melihat sebaliknya untuk mengecek apakah mereka membaca kata itu dengan benar, ia letakkan kartu itu pada ruang di papan karton tebal dan meletakkan sebuah keping di atasnya.
3. Tiap pemain menggunakan keping dengan warna yang berlainan dan sasaran permainan adalah membuat suatu baris tiga keping dengan warna yang sama, sepanjang garis-garis ”bujur dan silang”.
4. Jika tidak berhasil, kocok kartu-kartu dan mulai lagi.

Menarik perhatian ke kata-kata
Sebelum anak siap untuk memulai belajar membaca, gurud apat membantu anak untuk menyadari secara umum adanya kata yang tertulis dan kegunaannya dalam semua situasi. Tunjukkan kata-kata pada tanda-tanda dan label dan usahakan agar anak menyadari semua situasi yang berlainan di mana guru menggunakan pembacaan dan penulisan untuk memperoleh dan memberi informasi. Berikut ini adalah kegiatan permainan kata untuk belajar mengenal kata-kata.
a. Kartu kata
Permainan ini menggunakan potongan-potongan kartu, yang biasanya berukuran sebesar kartu pos. Tiap kartu ditulisi dengan satu kata. Kartu-kartu ini digunakan untuk membantu anak-anak belajar mengenali kata-kata dan sangat sederhana membuatnya. Paling baik jika guru memulai dengan nama-nama anak dan kemudian berpindah ke nama orang-orang lain dan benda-benda yang dikenal anak dengan baik. Tunjukkan kartu tersebut satu demi satu, dengan menunggu sampai ia tahu tiap kata sebelum beralih ke kartu berikutnya.

Contoh Kartu kata :

b. Mencari pasangan kata
Gunakan kartu-kartu pasangan kata atau kata dengan gambar. Mulailah dengan meletakkan kartu mengharap ke atas dan mencari pasangannya. Kemudian beranjak ke kartu-kartu menghadap ke bawah kecuali satu kartu. Lalu kartu-kartu itu bergantian di balik sampai ditemukan pasangan kartu yang pertama.

H. PERMAINAN BAHASA UNTUK MELATIH KEMAMPUAN MENULIS.
Keterampilan tangan yang diperlukan untuk menulis kata-kata berkembang dengan lebih perlahan dibandingkan ketrampilan membacanya.
Pensil harus dipegang lembut antara ibu hari dan telunjuk serta jari tengah sekitar 3 cm dari ujung. Anak yang kidal harus memegang lebih jauh dari ujung sehingga apa yang ditulis dapat terlihat. Kertasnya harus lebih ke kiri dari sumbu tumbuhnya dan atau sejajar dengan pinggir meja atau sedikit miring ke kanan.

Pola
Pembentukan huruf didasarkan pada pola berulang tertentu. Menyalin pola membantu anak meningkatkan kendali tangan dan menyiapkan cara menulis.
Merunut dan menghubungkan titik-titi huruf.
Cara ini berguna karena membantu mencetakkan pada pikiran seorang anak tentang perasaan menulis huruf-huruf.


Permainan haki garam atau pasir.
Anak-anak menyukai menulis dengan jari-jari mereka dan mempunyai kendali yang lebih banyak daripada penggunaan pensil dan pena. Menulis huruf-huruf dengan cat jari.

Membubuhkan huruf pertama
Mengisikan sebuah huruf untuk melengkapi sebuah kata merupakan langkah pertama yang berguan dalam menuliskan seluruh kata.

..... a-lon



.......o-la


Latihan :
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, silakan anda mengerjakan latihan berikut ini !
1. Mengapa bermain dapat memicu perkembangan bahasa ? Berikan penjelasan !
2. Apa yang dimaksud dengan kemampuan “mendengarkan”? Berikan contoh kegiatan permainan mendengarkan di TK !
3. Apa yang dimaksud dengan kemampuan “berbicara”? Beriakn contoh kegiatan permainan berbicara di TK !
4. Apa yang dimaksud dengan kemampuan “membaca”? Berikan contoh kegiatan permainan membaca di TK !
5. Apa yang dimaksud dengan kemampuan “menulis”? Berikan contoh kegiatan permainan menulis di TK !







DAFTAR PUSTAKA

Biggs, J & Telfer, R. (1981) The Process of Learning, Sydney : Prentice – Hall.

Bronby, K.D. (1992) Language Arts : Exploring Connection (2nd ed) Boston : Allyn and Bacon.

Miller, M.S. (1981) Bringing Learning Home New York : Happer & Row Publisher.

Dhieni, Nurdiana, dkk, 2005, Metode Pengembangan Bahasa, Jakarta : Universitas terbuka.






















MODUL
PENDIDIKAN LATIHAN PROFESI GURU
PENGEMBANGAN BAHASA INDONESIA









UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2007
PENGANTAR

Puji Syukur Penulis Panjatkan ke Hadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan HidayahNya, sehingga penyusunan modul diklat Sertifikasi Guru dalam Jabatan untuk TK dapat diselesaikan. Modul ini diharapkan dapat bermanfaat bagi peserta diklat. Tentyu saja modul ini masih belum sempurna, sehingga saran dan kritik dari berbagai pihak akan sangat ditunggu demi sempurnanya diklat ini.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada :
1. Rektor Universitas Negeri Surabaya dan jajarannya yang telah memfasilitasi penyusunan modul ini.
2. Panitia Sertifikasi Guru Rayon 14 dan Koordinator Divisi Pendidikan dan Pelatihan yang telah memberikan kesempatan bagi penulis untuk menyusun modul ini.
3. Semua pihak yang ikut berpartisipasi dalam penyusunan modul ini.
Semoga amal baik semua pihak diterima oleh Allah SWT.
Semoga pula modul ini bermanfaat bagi seluruh peserta diklat.


Surabaya, Nopember 2007
Penulis,









DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
A. RUANG LINGKUP 1
B. TUJUAN 1
C. MATERI 2
I. Perkembangan Menyimak 2
Pengertian 2
Fungsi Menyimak 3
Tujuan Menyimak 6
Jenis-jenis Menyimak 8
Strategi Pengembangan Kemampuan 12
II. Perkembangan Berbicara 17
Pengertian 19
Tipe Perkembangan Berbicara Pada Anak 19
III. Perkembangan Membaca 23
Pengertian Membaca 23
Pentingnya Kemampuan Membaca 24
Tujuan Membaca 25
Kemampuan Kesiapan Membaca 26
Tanda-tanda Kesiapan Membaca 31
Faktor yang Mempengaruhi Kesiapan Membaca 53
Proses Membaca 35
Strategi Pengembangan Membaca 36
Tujuan Pengembangan Kemampuan Membaca 37
Metode Pengembangan Membaca 39
IV. Perkembangan Menulis 42
V. Permainan Bahasa di Taman Kanak-Kanak 45
Latihan 60